Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 62. Sumber derita


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Yuna dan Rani sudah pergi bersama tiga laki-laki karyawan Nala untuk mendekor di suatu tempat. Tinggallah Nala sendiri di kantor. Nala belum terpikirkan untuk menambah karyawan baru karena usahanya kali ini dalam masa perkembangan.


Zia dan Zio kali ini sedang diajak jalan-jalan oleh tante Rika dan bu Laras. Sepulang jalan-jalan mereka mengatakan ingin mampir untuk melihat-lihat kantor Nala.


Nala tidak masalah. Itu lebih baik dan Nala tidak akan merasa kesepian seperti sekarang ini. Namun, Nala salah besar. Justru harinya akan berantakan karena ada seorang pengganggu yang kini mobilnya sudah terparkir di depan kantornya.


Nala jelas melihat mobil itu karena meja Nala berhadapan langsung dengan dinding kaca.


"Spada! Apa ada orang?" ucap suara yang tidak lain adalah milik Reigha.


Nala memutar bola matanya malas. Namun, dia tetap menjawab karena bagaimanapun Reigha adalah klien yang akan meminta jasanya.


"Apa ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Nala berbicara formal.


Reigha tersenyum penuh arti lalu mengambil posisi duduk di hadapan Nala yang hanya berbataskan meja.


Nala menatap kesal karena Reigha lagi-lagi bertindak seenaknya. "Aku sudah mengabari asisten Ibu. Tetapi, mereka mengatakan sedang tidak berada di toko. Jadi, tidak bisa mengirim konsep yang kemarin aku inginkan. Maksud kedatanganku kesini adalah untuk mengambil konsep itu," jelas Reigha panjang lebar.


Nala menghela napas pasrah. Berhadapan dengan Reigha selalu saja menguras energinya. "Konsep itu tidak boleh diminta, Bapak. Itu merupakan rahasia perusahaan dan tidak untuk disebar-luaskan. Walau Bapak memesan konsep tersebut, bukan berarti konsep yang telah kami susun menjadi milik Anda," geram Nala dengan penuh penekanan. Gigi-gigi putihnya sudah bergemeletuk menunjukkan betapa kesal Nala pada Reigha.


Reigha magut-magut tanda paham. "Maaf. Sepertinya aku salah menduga," jawab Reigha yang kini tatapannya tertuju pada wajah ayu Nala.


"Anda tidak salah menduga. Tetapi, Anda sengaja dan pura-pura tidak tahu untuk menemui saya. Apa Anda pikir saya tidak bisa membaca akal bulus Anda, Pak?" ucap Nala datar.


Reigha tertawa garing. "Sepertinya Ibu terlalu percaya diri. Apa yang ibu tuduhkan tidak sepenuhnya benar," jawab Reigha dengan senyum menyebalkannya.


Nala yang sudah naik pitam, beranjak dari kursi dan menatap Reigha nyalang.


"Pergi dari sini sekarang juga! Apa kamu tidak ada kerjaan? Kenapa setiap harinya kamu mengganggu waktu tenangku!" ucap Nala meneriaki wajah Reigha.


Terkejut tentunya ketika melihat Nala marah dengan meledak-ledak. Reigha sampai memegangi dadanya karena teriakan Nala begitu memekakkan telinga.

__ADS_1


Reigha berdiri untuk menenangkan Nala. "Tenang, La. Aku mohon maafkan aku karena sudah mengganggu waktumu," sesal Reigha sambil berusaha menyentuh lengan Nala namun segera ditepis oleh sang Empunya.


"Jangan sentuh aku!" teriak Nala lagi, merasa tidak terima.


Reigha sontak mundur beberapa langkah. Tatapannya sarat akan luka ketika lagi-lagi mendapat penolakan dari Nala.


Nala yang merasa kesal, menjatuhkan semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya.


"Argh!"


Entah mengapa Nala merasa sangat lelah. Lelah hati lelah jiwa. Bukankah dia baru saja kehilangan? Mengapa Reigha tiba-tiba datang lagi dan gencar mendekatinya?


Reigha sungguh terkejut bukan main. Reaksi Nala sungguh di luar dugaan. Bukankah selama ini Nala terlihat tenang-tenang saja?


Tanpa berlama-lama, Reigha segera membawa tubuh Nala dalam pelukan. Entah mengapa Reigha ingin melakukannya walau yang didapat adalah penolakan dari Nala dengan memukul-mukul dada Reigha.


"Lepas! Lepaskan aku!" teriak Nala memberontak.


"Nala tenang. Aku tidak akan memaksa. Jika kamu merasa keberatan aku berada di dekatmu, aku akan pergi sejauh mungkin. Maafkan aku, La," ucap Reigha menyesal.


Nala yang sudah lebih tenang akhirnya melepaskan diri dari pelukan Reigha. Tatapan Nala kini tertuju pada Reigha. Tatapan datar dan penuh misteri.


"Kamu ingin aku tenang kan? Kamu ingin aku bahagia tidak?" tanya Nala memainkan pertanyaan.


Reigha jelas mengangguk yakin.


"Kalau begitu, pergilah sejauh mungkin dari hadapanku," ucap Nala datar namun mampu menghujam relung terdalam Reigha.


Nala memintanya untuk pergi.


Dengan wajah lesu, Reigha mundur perlahan. Ucapan Nala bagai belati yang menikam dada Reigha.

__ADS_1


"Baiklah. Aku akan pergi sejauh mungkin sesuai dengan permintaanmu. Maaf karena selalu mengganggu hari-hari berhargamu," jawab Reigha dengan wajah datarnya.


Setelah itu, Reigha berlalu dan meninggalkan kantor Nala begitu saja. Nala menatap nanar kepergian Reigha.


"Bukankah ini yang kamu mau, Nala? Mengapa kamu harus merasa bersalah?" tanya Nala pada diri sendiri.


Mobil Reigha sudah menjauh namun mata Nala masih saja memandang keluar. Seakan kepergian Reigha kali ini akan menimbulkan sesuatu yang tidak baik.


Nala segera mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Dia memegangi dadanya yang kembali terserang sesak. "Harusnya tidak begini," ucap Nala merasa aneh.


Sedangkan di tempat lain, Reigha mengendarai mobilnya menuju kantor. Ada yang harus Reigha bicarakan dengan Nick sebelum dia benar-benar pergi.


Pikirannya berkecamuk apakah Reigha harus benar-benar pergi? Tetapi, ini adalah permintaan Nala. Sesak sekali dada Reigha ketika secara terang-terangan Nala menolaknya.


Jika memang Nala sudah tak lagi menginginkannya, biarlah Reigha hidup seperti ini sepanjang usianya.


Tidak berapa lama, Reigha sampai dan langsung menuju ruangan Nick.


"Kenapa, Bos? Mengapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Nick perhatian.


Reigha menggeleng. "Semua sudah berakhir. Nala memintaku untuk tidak lagi mendekatinya. Mungkin aku harus benar-benar pergi," ucap Reigha lemah lalu duduk merosot di single sofa yang berada di ruangan Nick.


Nick mengernyit heran. "Lalu kamu menyerah begitu saja, Bos?" tanya Nick mencibir.


Reigha mengangguk. "Nala sangat marah padaku. Aku tahu mungkin dulu aku sangat keterlaluan. Aku akan pergi sejauh mungkin. Jadi, tolong jaga usahaku yang berada disini," ucap Reigha berpesan.


Nick tampak tidak sependapat. "Memangnya Bos mau pergi kemana? Yang benar saja," ucap Nick yang kini sudah mendekat pada Reigha dan duduk di pinggiran sofa.


Reigha mendongak. Matanya menatap langit-langit ruangan yang bercat putih. "Aku akan pergi ke suatu tempat yang dekat. Tetapi, mungkin hatiku saja yang akan berusaha menjauh. Aku tidak akan menganggu Nala lagi," jelas Reigha mengutarakan rencananya.


"Lalu bagaimana dengan Zia dan Zio? apa kau tidak memikirkan mereka, Bos?" tanya Nick tidak habis pikir.

__ADS_1


Reigha mengusap wajahnya kasar. "Jangan berhenti kirim Zia dan Zio uang bulanan, Nick. Mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan agar tidak lagi bertemu dengan Nala. Aku merasa sakit saat melihat Nala marah dan menangis karenaku. Aku hanya sumber deritanya," ucap Reigha terluka.


__ADS_2