Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 103. Part Nanta ~ Kesepakatan


__ADS_3

"Ganti rugi sekarang. Mobilku rusak gara-gara kamu. Mobil mahal ini," ucap Nanta tidak ada lagi nada ramah setelah mengetahui siapa pelaku yang sudah menabrak mobilnya.


"Eh. Bukannya tadi kamu bilang tidak apa-apa ya? Ini juga bukan kesalahanku semua. Salah kamu sendiri yang tidak menyalakan lampu sein. Tuh lihat," tunjuk Anjani pada mobil Nanta.


Benar saja, tidak ada lampu sein yang menyala. Namun, Nanta tetap ingin menyalahkan Anjani. Gadis itu berhasil membuat hidupnya semakin suram saja. "Aku tidak peduli. Kamu harus ganti rugi, titik!" kesal Nanta tak terbantahkan.


Anjani mendengus kesal. "Iya. Tenang saja. Aku akan ganti rugi walau harus menyicilnya. Maafkan aku tapi ini semua bukan sepenuhnya kesalahanku," kekeh Anjani mencoba mempertahankan argumennya.


"Terserah. Intinya kamu harus ganti rugi. Ini mobil mahal kalau kamu tahu," kesal Nanta yang membuat Anjani semakin geram.


"Iya! Kamu tenang saja. Aku akan bertanggung jawab! Sini, kasih nomor HP kamu," pinta Anjani sambil menengadahkan tangannya di depan Nanta.


"Heleh. Modus! Bilang saja kamu ingin menghubungiku setiap hari," cibir Nanta yang membuat Anjani memutar bola matanya malas. Nanta ini memang terlalu percaya diri.


"Jangan terlalu percaya diri kamu. Saat ini aku belum mempunyai uang karena belum mendapatkan gajiku. Aku meminta nomormu hanya untuk menghubungimu dan meminta nomor rekening saat uang gajiku sudah masuk," jelas Anjani tidak ingin Nanta besar kepala.


Sambil mendengkus, Nanta mulai menyebutkan digit demi digit dari nomor ponselnya. Anjani mencatatnya dengan baik dan mengulang ketika Nanta telah selesai mengucapkan.


"Benar kan?" tanya Anjani memastikan.


"Hm," jawab Nanta singkat hanya berupa gumaman.


"Aku sudah mengirimimu pesan. Tolong simpan nomorku agar saat aku menghubungi, kamu tidak mengira bahwa aku akan melakukan penipuan," pinta Anjani sambil bersungut kesal.


Nanta tertawa mencemooh. "Bilang saja kamu ingin berbalas pesan denganku," ucap Nanta lagi dengan angkuhnya.


"Terserah! Aku akan pulang. Bisa-bisa aku gila jika terus menanggapi manusia sepertimu," kesal Anjani. Kemudian, tanpa menunggu lebih lama lagi dia pun pergi mengendarai motornya untuk pulang.


Sepeninggalan Anjani, Nanta mengumpat kesal. Harinya semakin buruk setelah bertemu Anjani. Seseorang yang satu bulan yang lalu selalu meledeknya lantaran menangis di hari bahagia sang Kakak.


Nanta tidak percaya jika takdir kembali mempertemukan dirinya.


..............


Hampir dua bulan lamanya Rose meninggalkan Nanta. Selama itu juga Nanta hidup dalam keterpurukan. Dia sengaja tidak pulang ke Bogor untuk menemui ibu dan keluarganya yang berada disana.

__ADS_1


Nanta tidak ingin terlihat menyediakan di hadapan keluarganya. Hingga Rose kembali meminta bertemu entah dengan tujuan apa.


Sepulang bekerja, Nanta putuskan untuk mampir ke sebuah kafe tempat dulu dirinya dan Rose mengakhiri hubungan. Walau langkahnya berat, Nanta tetap paksa melangkah menuju tempat Rose duduk.


Dan kakinya semakin berat, seperti ada baru besar yang mengikatnya tatkala matanya melihat sosok Rose bersama seorang pria. Mungkin, umurnya tidak jauh berbeda dari umur Nanta. Tampak tampan dengan balutan kaos berwarna hitam dan celana bahan panjang.


Keduanya menyambut kedatangan Nanta sambil berdiri dari duduknya. Nanta tertawa getir dalam hati. Menertawakan nasib cintanya yang berakhir tragis.


"Rendra," ucap pria tampan itu memperkenalkan diri.


"Nanta," jawab Nanta juga memperkenalkan diri.


Ketiganya duduk di kursi masing-masing dengan Nanta yang duduk di seberang kedua pasangan uang berbahagia. Tatapan Nanta tertuju pada Rose yang tampak tirus dari terakhir kali bertemu. Gadis itu tersenyum tulus dan penuh arti.


Tidak berapa lama, Rose mengeluarkan sebuah kartu dan diserahkan di hadapan Nanta. "Datanglah ke acara pernikahanku. Aku ingin kamu datang karena hanya kamu satu-satunya ... Sahabatku," ucap Rose melirih di akhir kalimat.


Nanta tersenyum kecut dan menatap surat undangan yang di bagian depannya terdapat nama Rose dan Rendra disana. Dengan tangan berat, Nanta mengambil surat undangan tersebut.


"Datanglah ke acara pernikahan kami. Kami akan sangat senang jika sahabat terdekat Rose datang," sahut Rendra ikut bersuara.


"Aku akan datang ke acara pernikahan SAHABAT TERDEKATKU," sambung Nanta dengan penuh penekanan di akhir kalimat. Dia merasa terganggu dengan ucapan Rose yang hanya menganggap dirinya sebagai sahabat.


"Kalau begitu, aku pergi lebih dulu," pamit Nanta kemudian meninggalkan sepasang manusia yang sebentar lagi akan menjadi suami-istri.


Nanta tidak perlu menunggu jawaban Rose yang justru akan membuat dirinya semakin terluka. Lebih baik Nanta memikirkan siapa yang perlu di ajak ke acara pernikahan Rose. Nanta tidak ingin datang sendiri dan terlihat menyedihkan di tengah keramaian dan kebahagiaan yang tercipta di suasana pesta.


Setelah masuk ke mobil, Nanta memukul gagang setir cukup keras hingga terdengar bunyi gedebrak. Walau bibirnya mengatakan ikhlas, kata hatinya tidak bisa berbohong. Dia masih mencintai Rose dengan sangat besar.


"Kenapa harus begini?" gumam Nanta dengan dada yang berdenyut nyeri. Belum lagi, nyeri itu semakin bertambah kala melihat Rose dan Rendra tampak mesra keluar dari kafe yang baru saja dijadikan pertemuan.


"Shi*t! Aku benci keadaan seperti ini!" geram Nanta merasa kesal.


Saat dalam keadaan kesal seperti itu, di pikirkan Nanta tiba-tiba terlintas sosok Anjani yang pernah berjanji untuk mengganti rugi atas mobilnya yang benyok akibat ditabrak.


Ide licik seketika terpikir di kepalanya. Nanta tersenyum miring lalu mencari keberadaan ponselnya. Beruntung, Nanta menuruti Anjani untuk menyimpan nomor gadis itu.

__ADS_1


Dia langsung mengetikkan pesan dari huruf per huruf. Nanta berharap, Anjani bisa diajak kerjasama.


Tidak berselang lama, pesan yang dikirimkan Nanta berubah menjadi centang dua abu-abu. Selanjutnya berganti dengan tulisan online di bawah nama Anjani lalu tulisan sedang mengetik.


Nanta mengernyit ketika Anjani hanya membalasnya dengan kata Oke.


"Dasar. Aku mengetiknya panjang lebar, dia hanya membalas dengan satu kata," gerutu Nanta. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Nanta melajukan mobilnya ke tempat dimana dirinya akan bertemu dengan Anjani.


Setengah jam kemudian.


"Apa kamu bermaksud untuk menagih hutang? Ku mohon beri aku waktu satu Minggu lagi. Uang gajianku bulan lalu sudah kugunakan untuk membelikan ibu oven. Aku tidak tega ketika melihat ibu mengeluh soal oven kesayangannya yang rusak," ucap anjani memelas.


Nanta menaikkan satu alisnya. "Baiklah. Kalau begitu, kita buat kesepakatan saja. Bagiamana?" tawar Nanta tersenyum miring.


Anjani memicing saat menangkap maksud terselubung Nanta. "Aku tidak mau yang aneh-aneh ya," ucap Anjani cepat sebelum Nanta menyebutkan kesepakatan itu.


"Tidak. Ini tidak akan aneh. Kamu hanya perlu menjadi kekasihku," ucap Nanta yang membuat Anjani mengerjap bingung.


"Maksudnya?" tanya Anjani memastikan.


Nanta berdecak sebal. "Ck. Jadilah kekasih pura-puraku untuk beberapa hari. Sepuluh hari lagi aku akan menghadiri sebuah pesta pernikahan mantan kekasihku. Jadi, jika kau ingin melunasi semuanya, jadilah kekasih pura-puraku. Gampang bukan? Kau hanya perlu berpura-pura saja," ucap Nanta menjelaskan kesepakatan yang Anjani pertanyakan.


" Ooh, jadi karena akan ditinggal menikah dengan mantan pacar," ucap Anjani dengan senyum mengejek.


Nanta langsung melayangkan tatapan tajamnya. "Jangan banyak bertanya. Lakukan saja atau hutangmu akan aku naikkan hingga lima puluh persen," ancam Nanta yang membuat mata Anjani membelalak tak percaya.


Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Anjani mengangguk menyetujui kesepakatan itu. Hal ini tidak akan sulit mengingat dirinya belum memiliki seorang kekasih. Dia masih menyandang status jomblo elit.


"Baiklah. Aku akan menyetujui persyaratannya. Hubungi aku lagi saat jam kerjaku akan dimulai," ucap Anjani pada akhirnya.


Keduanya berjabat tangan sebagai tanda sah-nya perjanjian yang sudah dibuat.


"Deal!"


...****************...

__ADS_1



__ADS_2