Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 58. Saling memaafkan


__ADS_3

Setelah mengantar Nala, Reigha meminta izin pada Nanta untuk menjemput anak-anaknya yang berada di Bogor. Reigha memilih untuk membawa anaknya ke Jakarta agar Zia dan Zio tidak merasa kesepian.


Reigha juga sudah mengatakan perihal ini pada pak Prabu dan ayahnya itu sangat setuju dengan usul Reigha. Cucu-cucunya yang masih kecil tidak boleh terlantar saat orang dewasa sedang selama masa berkabung.


Reigha memilih menghentikan mobilnya di sebuah coffe shop yang berada di pinggir jalan tol. Coffe shop dengan merek luar negeri itu akan Reigha kunjungi karena dia membutuhkan kopi agar rasa kantuknya sirna.


Reigha lebih dulu memesan lalu duduk di kursi kosong, menunggu nomor antrian. Banyak sekali pengunjung yang datang ke kafe tersebut di jam pulang kantor.


Reigha melamun dengan pandangan menatap jalanan luar dari balik dinding kaca. Pikirannya menerawang pada kejadian tempo hari saat Dandy mendatangi kantornya dan mengatakan maksud.


Flashback On.


Saat Dandy datang ke kantornya, dia mengatakan maksud tujuannya yang meminta Reigha untuk menjauh dari Nala.


"Mau apa kamu?" tanya Reigha saat Dandy sudah berada di hadapannya.


Dandy terkekeh geli. "Apakah aku tidak dipersilahkan untuk duduk? Jangan lupa jika aku adalah tamu disini," jawab Dandy yang semakin membuat Reigha kesal setengah mati.


"Duduklah," ucap Reigha pada akhirnya. Dia harus menghargai tamu yang berkunjung selagi tamu tersebut masih bersikap sopan.


Setelah duduk, Dandy kini merubah raut wajahnya menjadi serius. "Jadi begini, tolong jauhi Nala selama dia bersamaku. Tolong menjauhlah," ucap Dandy memohon dengan sangat.


Reigha tersenyum mengejek. "Kenapa? Apa kamu takut Nala akan jatuh cinta lagi padaku? Bukankah itu bagus untukku?" tanya Reigha merasa di atas awan.


Dandy tidak tersinggung sama sekali. Justru dia kembali melanjutkan kalimatnya. "Aku menderita kanker otak stadium akhir," ungkap Dandy yang berhasil membuat Reigha terdiam dengan mulut yang terkatup kemudian tertutup lagi.


"Jangan main-main kamu. Jangan bawa-bawa penyakit hanya untuk meminta belas kasihan," ketus Reigha dengan tatapan kesalnya.


Dandy tersenyum kecut. "Memang itu yang sedang aku lakukan padamu. Hanya padamu aku memohon agar selama aku bersama Nala, tolong jangan muncul," ucap Dandy memohon.


"Maksudnya? Lalu waktu kamu tidak ada, aku boleh menemui Nala sendiri?" tanya Reigha dengan satu alis terangkat.


Dandy menghela napas kasar. "Tolong jangan muncul di hadapan Nala dalam keadaan apapun sebelum aku mati. Waktuku sudah tidak banyak lagi. Setelah aku tiada, baru kamu boleh mendekati Nala lagi," jelas Dandy panjang lebar.

__ADS_1


Reigha terperangah dengan pemikiran Dandy yang menjadikan Nala kayaknya barang oper. "Jangan sembarang bicara kamu! Nala juga mempunyai perasaan!" geram Reigha tanpa sadar meninggikan suaranya.


Dandy menunduk dalam. "Tolong. Ada satu keinginanku yang ingin kupenuhi sebelum aku benar-benar pulang. Aku ingin bahagia di sisa hidupku. Salah satu kebahagiaan terbesarku adalah Nala. Aku ingin hidup bersama Nala dan menciptakan akhir hidup yang indah. Jangan biarkan aku menjadi jomblo abadi," ucap Dandy tidak lelah untuk memohon.


Reigha terpaku di tempat. Dia masih setengah percaya jika Dandy sakit keras. "Sejak kapan kamu sakit?" tanya Reigha menatap iba.


"Jangan menatapku kasihan seperti itu. Aku tidak suka dipandang seperti itu," kesal Dandy sambil melempar kertas yang sudah diremas-remas menjadi bulatan.


Reigha melotot tajam kemudian melempar kembali kertas tersebut. "Sudah selesai urusannya kan? Pergi dari sini!" usir Reigha yang membuat Dandy seketika tertawa terbahak-bahak.


Flashback Off.


Bersamaan dengan itu, nama Reigha di panggil oleh bertender untuk mengambil kopi pesanannya. Setelah menerima, Reigha kembali ke mobil dan melajukannya dengan kecepatan 160 km/jam.


Satu jam tiga puluh menit, akhirnya mobil yang dikendarai Reigha sudah terparkir di depan rumah Nala. Mobilnya tidak bisa masuk karena banyak dekorasi yang menghias pelataran rumah.


Reigha menghela napas. Disaat dirinya telah rela, Dandy justru pergi meninggalkan Nala. Meninggalkan semua orang yang menyayanginya.


"Selamat malam, Pak. Apa Zia dan Zio ada di rumah?" tanyanya ramah.


"Selamat malam, Tuan. Ada, Tuan, Mereka ada di dalam. Ketuk pintu saja, pasti akan di bukakan," jawab pak satpam tak kalah ramah.


"Baiklah. Terima kasih, Pak," jawab Reigha kemudian berlalu dari sana. Reigha menatap nanar saat melewati kursi-kursi tempat Nala akan melangsungkan pernikahan. Semua Berantakan. Mungkin saja semua panik hingga menyenggol kursi-kursi tersebut hingga berjatuhan.


Reigha menghentikan langkah saat matanya melihat pelaminan yang di hias sangat indah. Namun, hal itu tidak lama karena suara Zia dan Zio berhasil membuyarkan lamunannya.


"Daddy!" panggil Zia dan Zio hampir bersamaan.


Reigha menoleh ke sumber suara dan melihat dua bocah kembar itu sensgs berlari ke arahnya. Reigha berjongkok untuk menyambut kedua anaknya.


Zia dan Zio langsung memeluk Reigha erat lalu Reigha membalas pelukan dari pemilik kedua rnshsb mungil itu. Mendekapnya erat-erat seakan sudah tidak bertemu selama bertahun-tahun.


"Daddy lama sekali tidak menemui kami? Apa Daddy marah karena waktu itu aku memarahi Daddy?" tanya Zia saat sudah melepas pelukan.

__ADS_1


"Iya. Kami sangat takut saat para orang dewasa pergi dari rumah membawa uncle Dandy yang mengeluarkan banyak darah. Apa uncle Dandy baik-baik saja?" tanya Zio yang raut wajahnya begitu khawatir.


Reigha tersenyum sendu. "Tentu. Uncle kalian sekarang sudah sembuh dan tidak sakit lagi," jawab Reigha menggunakan bahasa kiasan.


Ehem.


Deheman itu berhasil mengalihkan perhatian ketiganya. Rika sudah berdiri tidak jauh dari mereka dan memperhatikan interaksi ayah dan anak di hadapannya.


"Tante Rika ada disini?" tanya Reigha kemudian berdiri.


"Iya. Bagaimana Nala disana? Apakah dia baik-baik saja? Aku sudah mendengar semuanya," ucap Rika lalu menghela napas berat.


"Ya ... Seperti itu. Dia terus menangis dan pastinya ... Sangat sakit," jawab Reigha apa adanya.


Rika mengangguk paham. "Apa kamu ingin menjemput anak-anak? Bolehkah aku sekalian ikut?" tanya Rika merasa tidak enak karena selama ini selalu menganggap Reigha musuh setelah berpisah dari keponakannya.


Ada canggung yang tercipta karena memang keduanya tidak saling dekat.


"Tentu. Tante bisa ikut dengan kami," jawab Reigha dengan senyuman, melupakan cemoohan dan cacian yang pernah Rika lontarkan.


"Reigha?" panggil Rika lirih.


"Ya?" jawab Reigha singkat.


"Maaf karena dulu pernah menyakitimu dengan kata-kataku. Tidak seharusnya aku bersikap seperti itu," sesal Rika menunduk dalam.


Reigha melipat bibirnya ke dalam lalu mengangguk pelan. "Aku sudah memaafkan. Seandainya aku ada di posisi Tante, mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama," jawab Reigha berlapang dada.


"Terima kasih ya, Ga."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungannya 😊🙏...

__ADS_1


__ADS_2