Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 23. Pergi


__ADS_3

"Jangan lupa tanda tangan untuk penyerahan saham Cakrawala. Kamu sudah berjanji untuk memberikan seluruh saham pada Reigha," ucap Sandra tanpa tahu malu.


Nala terperangah tidak percaya. Sejak kapan dia membuat janji itu?


Nala memaksa tubuhnya untuk berbalik. Ditatatapnya wajah Reigha lekat-lekat. "Kamu sudah curang, Mas," lirih Nala merasa terluka.


Reigha terdiam dengan pandangan yang tidak lepas menatap Nala. Tidak ada suara yang Reigha ucapkan hingga membuat Nala kembali membuka mulutnya.


"Baiklah, Mas. Aku akan serahkan semuanya padamu. Aku tidak akan membawa sepeserpun dari uang Cakrawala Group. Semoga kamu bisa berbahagia setelah ini," ucap Nala dengan susah payah.


Ditatapnya wajah Reigha sekali lagi sebelum Nala benar-benar pergi. Nala menghembuskan napas, lalu meninggalkan ruangan tersebut.


Nala berlari secepat mungkin agar bisa leluasa menumpahkan tangis. Dia tidak ingin menangis di hadapan banyak orang. Setelah berada di depan restoran, pergelangan tangannya merasakan tarikan lembut. Setelah Nala mendongak, ternyata ada Nick yang saat ini sedang menatapnya penuh iba.


"Maaf apabila saya lancang. Mari, saya antarkan pulang," ucap Nick lembut yang segera diangguki oleh Nala.


Setelah masuk, Nick segera mengantar Nala pulang, sesuai dengan perintah Reigha. Ya, Nick sudah di beritahu tentang skenario Reigha kali ini. Sebagai teman, Nick sudah memperingatkan. Namun, Reigha tetap teguh pada pendiriannya.


Sepanjang perjalanan, Nala diam dengan pandangan menatap keluar jendela. Air matanya seakan tidak ingin berhenti mengalir hingga membuat Nala mengeluarkan isakan. Padahal, Nala sudah sekuat tenaga berusaha untuk tidak menangis.


Rasa marah, kecewa, dan terluka seakan sedang menggerogoti relung terdalamnya. Rasanya, baru tadi pagi Reigha kembali, sekarang dia sudah terlepas lagi. Nala memejamkan matanya lalu memegang dada sebelah kiri yang rasanya begitu sesak.


Tujuh hari yang dia minta hanya berakhir sia-sia tanpa meninggalkan sisa. Nala menyeka air mata saat suara Nick menginterupsi dan mengatakan bahwa mereka telah sampai.


"Sudah sampai, Bu," ucap Nick pelan.

__ADS_1


Nala mengangguk dan mengucapkan terima kasih kepada Nick yang sudah mengantar. Setelah itu, Nala berlari memasuki rumah dan mengabaikan pertanyaan bi Ati yang terlihat khawatir.


Sesampainya di kamar, Nala bergegas mengambil koper lalu mengepak pakaiannya dengan tergesa.


"Aku harus pergi," ucap Nala terluka. Tangannya beberapa kali bergerak menghalau air mata. Saat Nala berusaha mengambil baju-bajunya, semua terjatuh ke lantai, menjadi berantakan karena tangan Nala bergetar. Nala berteriak kemudian tangisnya pecah.


Nala merasa marah pada dirinya sendiri yang sudah gagal membawa Reigha kembali. "Aku sudah gagal .... Aku gagal ...." Nala bersimpuh di atas lantai dengan kondisi pakaian yang berantakan dimana-mana.


Tangis meraung-raung dengan telapak tangan yang menutup wajahnya. "Mengapa dia harus datang? Mengapa dia merebut semuanya dengan sekejapan?" monolog Nala yang masih belum bisa menerima kenyataan.


Setelah cukup puas menangis, Nala menarik dan menghembuskan napasnya. Dia harus segera pergi dari rumah ini. Rumah yang sudah meninggalkan banyak kenangan manis antara dirinya dan Reigha.


Nala bangkit lalu kembali mengemas semua pakaian tanpa meninggalkan satu potong pakaian. Setelah selesai, Nala segera menyeret kopernya menuruni anak tangga. Dia tidak ingin mengenang lagi semua yang sudah terjadi di rumah ini.


Karena semakin Nala mengenang, akan semakin terluka juga hatinya. Semua perlakuan manis dan romantis Reigha hanyalah sekedar pura-pura belaka. Tidak ada ketulusan di dalamnya. Reigha hanya sedang bercanda, lalu kenapa Nala justru semakin jatuh cinta? Harusnya Nala tertawa.


"Apa yang sudah terjadi, Bu? Mengapa ibu membawa koper?" tanya bi Ati merasa kasihan.


Nala berusaha mengulas senyum. "Aku harus pergi, Bi. Aku dengan Mas Reigha ... Sudah selesai," ucap Nala sudah payah di akhir kalimat. Begitu sakit rasa hatinya ketika menyadari bahwa semua sudah Berakhir.


"Aku pamit dulu ya, Bi. Titip Mas Reigha. Bangunkan dia kalau sudah jam tujuh belum turun," ucap Nala tertawa disertai air mata yang mengalir.


Ucapannya barusan mengingatkan Nala pada kejadian tadi pagi dimana Reigha masih begitu manis padanya. Nala menghela napas sesak. "Aku pergi dulu, Bi."


....................

__ADS_1


Reigha akhirnya makan malam bersama Sandra setelah kepergian Nala. Entah mengapa, lidahnya begitu tidak berselera makan.


"Ga? Kok tidak makan?" tanya Sandra yang sejak tadi begitu lahap memakan makanannya.


Reigha tersenyum tipis. "Makan kok," jawabnya singkat kemudian kembali menyendokkan makanannya.


Seharusnya Reigha merasa bahagia karena akhirnya bisa kembali bersatu dengan Sandra. Tetapi, apa ini? Hatinya seakan berkata lain.


"Ga? Kenapa melamun terus sih?" tanya Sandra sedikit kesal.


Reigha menggeleng. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan bagaimana caranya mendapat restu mama setelah ini," ucap Reigha berbohong.


Sandra tersenyum. "Bukankah Nala sudah berjanji untuk membuat mama dan papa kamu setuju? Aku yakin, Nala pasti berhasil," ucap Sandra begitu yakin.


Reigha tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Oh iya, Ga. Kemarin aku lihat tas keluaran baru loh. Aku ingin membelinya tapi, uangku sudah tidak cukup," ucap Sandra manja.


"Nanti aku transfer," jawab Reigha yang berhasil membuat Sandra tersenyum bahagia.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...jangan lupa kasih dukungannya ya 😘...


...mampir juga kesini yuk 👇...

__ADS_1



__ADS_2