Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)

Akhir Dari Pengkhianatan (Rumah tangga yang terkoyak)
Bab 49. Aku tak peduli


__ADS_3

Seminggu sebelum acara pertunangan Nala dan Dandy.


Acara pertunangan Nala dan Dandy rencananya akan dilaksanakan di rumah bu Laras. Berhubung rumah tersebut memiliki halama yang luas, Nala mantap menggunakan rumahnya.


Untuk dekorasi, Nala memilih untuk menggunakan konsep yang sudah dia disiapkan satu tahun yang lalu. Dimana konsep itu merupakan konsep pertunangan impian bagi Nala. Begitu juga dengan konsep pernikahan, Nala memilih mengangguk Wedding Organizer-nya sendiri.


Hitung-hitung promosi.


Semuanya sudah diurus dengan baik oleh Bu Laras dan Nala termasuk katering dan souvernir. Sedangkan Nanta, dia harus ke Bandung lagi karena lima hari lagi Nanta akan pulang ke Bogor lagi.


Itu tidak masalah. Bagi Nanta, kebahagiaan Nala dan ibunya adalah hal nomor satu.


"Jadi begini ya, Yun, Ran ...." Nala menjelaskan konsep hari pertunangannya pada Yuna, asisten baru Nala. Masih ada Rani juga yang membantu Nala.


Sungguh, Nala merasa bersyukur karena di kelilingi oleh orang-orang baik di sekitarnya.


Yuna dan Rani mengangguk paham. "Siap, Bu," jawab Yuna dan Rani sigap.


"Sampai disini sudah mengerti?" tanya Nala lagi.


Keduanya pun mengangguk bersamaan. Nala menghela napas lega karena Rani dan Yuna begitu cerdas menanggapi penjelasan darinya.


"Baiklah. Kerja yang bagus untuk kalian. Semoga niat awal ini bisa membawaku mengais rezeki lebih banyak lagi. Ini demi Zia dan Zio," ucap Nala penuh pengharapan.


"Aamiin." Yuna dan Rani pun mengaminkan bersamaan.


Waktu bergulir dan tepat pada pukul satu, Dandy datang ke kantor untuk menemui Nala. Nala melihat jam di pergelangan tangannya. "Dia datang terlambat," gumam Nala saat melihat mobil Dandy sudah terparkir sempurna di halaman kantor.


Tidak berapa lama, sosok Dandy muncul dan memasuki kantor. Setelah memberikan sapaan ringan pada Rani dan Yuna, kini Dandy beralih menatap Nala yang kini sedang menatap dirinya dengan senyum yang menawan.


"Jadi makan siang di luar kan, Bu Bos?" tanya Dandy menyeringai.


Nala melempar remasan kertas yang tadi Nala gunakan untuk menggambar konsep pernikahan namun gagal. Raut wajah Nala berubah cemberut. "Kamu terlambat satu jam, Mas," ucap Nala kesal.


Dandy tergelak renyah melihat Nala yang kini mulai berani menunjukkan sikap manjanya. "Maafkan aku. Tadi sempat ada kemacetan di perjalanan. Bagaimana? Bukankah kita masih mempunyai waktu untuk pergi makan siang?" pinta Dandy dengan wajah penuh harap.


Nala terkekeh geli melihat raut wajah Dandy. "Baiklah. Kita akan pergi," jawab Nala pada akhirnya.


"Yuna? Rani? Aku tinggal sebentar ya? Salah satu dari kalian sebaiknya membeli makanan. Kalau belum makan siang juga kan?" tanya Nala pada dua pegawainya.

__ADS_1


"Gampang, Bu. Rani sudah pesan makanan," jawab Yuna tersenyum santai.


Nala mengangguk dan merogoh isi tasnya. Dia mengeluarkan dompet dan membukanya. Satu lembar uang berwarna merah segera diulurkan pada Rani. "Ini untuk bayar pesanannya. Cukup tidak?" tanya Nala perhatian.


Rani berbinar ketika diberi uang lebih dari Nala. "Ini sih sisa, Bu. Bolehkah kalau untuk membeli cilok," ucap Rani bercanda.


Nala terkekeh geli. "Belilah yang kalian mau," ucap Nala yang membuat Yuna dan Rani bersorak gembira.


Dua gadis itu semakin bahagia ketika Dandy ikut mengulur dua lembar uang berwarna merah untuk keduanya. "Nih, aku tambahkan uangnya untuk membeli cilok," ucap Dandy sambil tersenyum.


Nala geleng-geleng kepala melihat tingkah Rani dan Yuna yang begitu absurd.


Akhirnya, Dandy dan Nala berangkat menuju rumah makan all you can it. Nala sudah rindu makan daging yang di panggang sendiri di pemanggang dan rindu akan kuah yang diberi beberapa bahan masakan sendiri di hot pan.


Setelah reservasi satu meja, Dandy mengandeng tangan Nala untuk mengikutinya. "Kamu duduk saja. Aku akan ambilkan makanan yang kamu suka," pinta Dandy lembut.


Nala menggeleng dengan bibir yang cemberut. "Kok gitu sih. Aku kan minta datang kesini karena ingin mengambil bahan makanan sendiri. Aku dulu yang akan mengambil bahan, Mas Dandy minta jauh sama dagingnya ya," nego Nala yang membuat Dandy terkekeh lalu geleng-geleng kepala.


"Baiklah. Kamu ambillah dulu bahan yang ingin kamu makan. Setelah itu, kita gantian," ucap Dandy mengalah.


Sekitar dua jam berada di restoran, Dandy dan Nala akhirnya selesai. Setelah berada di tempat parkir, Nala memanggil Dandy karena melihat sesuatu berwarna merah yang sudah mengering di hidup Dandy.


"Ya? Kenapa?" tanya Dandy yang juga ikut berhenti.


Tangan Nala terulur mengusap lembut hidup Dandy yang terdapat bercak berwarna merah. "Ini daeah bukan sih, Mas?" tanya Nala masih tidak percaya dengan penglihatannya.


Dandy menjadi gugup dengan mengambil tangan Nala lembut dan mengecup punggung tangannya. "Iya. Tadi hidungku terbentur pintu toilet saat akan masuk. Kamu tahu sendiri kan, di restoran ini pintu toiletnya seperti pintu kamar raja," ucap Dandy beralasan.


Nala mengangguk membenarkan. "Iya sih. Pintunya tinggi, kuat, tebal, lebar, lenngkap sudah kesempurnaannya," jawab Nala masuk akal.


"Nanti aku obati kalau gitu. Kenapa kamu diam saja sih? Tidak mengatakan apapun padaku? Aku kan khawatir, Mas," ucap Nala mengomel panjang lebar.


Dandy terkekeh lalu mencubit hidung Nala gemas. "Aku suka kalau kamu sedang khawatir seperti itu," ujar Dandy dengan senyum bahagianya.


"Ish! Sakit, Mas. Kamu cubitnya kencang sekali," kesal Nala sambil memegangi hidungnya.


"Eh! Masa? Mau aku kasih obat instan tidak?" tawar Dandy merasa bersalah.


"Memangnya apa obatnya? Aku mau dong," jawab Nala polos.

__ADS_1


Dandy tersenyum smirk lalu,


Cup.


Dandy mengecup hidung Nala sekilas. Mengecup selembut yang Dandy bisa. "Bagaimana? Apakah sudah tidak sakit lagi?" tanya Dandy dengan alis yang naik-turun.


Nala sontak memegangi dadanya dengan mata yang masih membelalak. Ini adalah kali kedua Dandy menciumnya dan entah mengapa, Nala merasa nyaman dengan sentuhan itu.


Nala mengangguk. "Sudah, Mas. Tetapi, sekarang jantungku yang berdetak tidak normal," ucap Nala dengan sisa raut terkejutnya.


Dandy tergelak renyah. "Mau aku cium juga?" tunjuk Dandy pada dada yang kini sedang Nala pegangi.


Sontak saja hal itu membuat Nala melotot tajam. "Mana boleh. Nikah dulu baru boleh," kesal Nala lalu segera masuk ke mobil.


Dandy tergelak renyah. Dia berjalan memutar setengah badan mobilnya untuk duduk di bangku kemudi.


Melihat raut wajah Nala yang masih cemberut, membuat Dandy memilih bersuara lagi. "Maafkan aku. Aku hanya bercanda tadi. Aku mencintaimu," ucap Dandy yang membuat Nala menoleh dan tersenyum.


"Aku menyayangimu, Mas," jawab Nala berbeda.


Dandy hanya menghela napas. Dandy tahu jika Nala tidak sepenuhnya bisa mencintai dirinya. Bukan, lebih tepatnya belum bisa.


Dandy yakin, dia akan membuat Nala jatuh cinta secepat yang Dandy bisa.


"Aku tahu kamu belum bisa menjawab. Tetapi akan aku pastikan jika dalam satu Minggu ke depan, kamu akan mengucapkan kata-kata itu." Dengan lapang dada Dandy mengucapkannya.


Setulus itu cinta Dandy pada Nala. Seperti lirik lagu milik Ebit G Ade yang berjudul Apakah Ada Bedanya.


Cinta yang kuberi...


Setulus hatiku...


Entah yang kuterima...


Aku tak peduli...


Aku tak peduli...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


🙃🙃🙃🙃


__ADS_2