
"Bu? Zia sedang apa ya? Kenapa aku kepikiran Zia terus?" tanya Nala mengungkapkan kegelisahannya.
Bu Laras yang akan menyendokkan suapan terakhir ke mulut, gerakannya sontak terhenti. Begitu juga dengan Zio yang saat ini perhatiannya langsung tertuju pada sang Mommy.
"Zio juga rindu Zia, Mom. Rindu Daddy juga," rengek Zio dalam hati bersorak karena ibunya memberikan jalan yang mudah untuk menyatukannya dengan sang ayah.
"Zio ingin bertemu dengan Zia dan Daddy. Zio ingin tinggal di rumah dimana disana ada Oma laras, Oma Nilam, dan Opa Prabu. Mengapa kita tidak tinggal bersama saja sih, Mom," rengek Zio lagi.
Wajahnya sudah tertekuk dengan bibir yang menggerucut lucu. Bu Laras yang mendengar itu, berdehem pelan untuk membasahi tenggorokan yang mendadak kering.
Ehem.
"Mana bisa seperti itu? Itu tidak mungkin terjadi, Sayang," jawab Bu Laras lembut sambil mengelus puncak kepala sang cucu yang saat ini duduk di kursi yang terletak di sebelahnya.
"Kenapa tidak bisa?" tanya Zio belum puas dengan jawaban Oma-nya.
Bu Laras menghela napas panjang. "Tidak apa-apa. Lupakan saja," jawabnya kemudian melanjutkan makan.
Nala terdiam. Dia tentu tahu bahwa ibunya tidak akan mengizinkan Nala dengan mudah mengunjungi rumah mantan mertuanya. Namun, hal itu segera terjawab saat ibunya kembali bersuara.
"Pergilah, La. Susul Zia ke Jakarta. Ini tahu bagaimana rasanya rindu dengan sang Anak namun tidak bisa bertemu karena di dipisahkan pulau dan laut," ucap bu Laras yang terdengar seperti sindiran untuk Nala.
Nala mencebikkan bibirnya kesal. "Ibu sedang menyindirku?" tanyanya bersungut.
Bu Laras tergelak renyah. "Tidak. Tetapi, jika kamu merasa tersindir, ya sudah. Itu bukan salah ibu," jawab bu Laras kemudian segera mengangkat gelas yang berisi air putih lalu meneguknya.
Nala hanya mendengkus pelan kemudian meminum susu putihnya. "Jadi ... Aku dan Zio diperbolehkan untuk menjemput Zia?" tanya Nala memastikan.
Bu Laras mendelik sampai-sampai, bola matanya seperti akan keluar dan menggelinding. Zio dan Nala tertawa terbahak-bahak melihat itu.
__ADS_1
"Oma lucu sekali jika ekspresinya seperti itu. Makanya aku dan Mommy tertawa," sela Zio ikut menimbrung.
Bu Laras menghela napas lalu geleng-geleng kepala. "Kalian boleh pergi. Tetapi ingat, hanya untuk menjemput Zia. Ibu tidak ingin ada drama rujuk lagi," ultimatum bu Laras yang segera diangguki oleh Nala.
Tepat pukul sembilan pagi, Nala dan Zio akhirnya berangkat menuju Jakarta dengan melewati jalan tol. Ada pak sopir yang menemani perjalanan mereka.
Untuk urusan kantor, Nala mempercayakannya pada Yuna dan Rani. Beruntung akhir-akhir ini panggilan pekerjaan terbilang ringan. Jadi, Nala tidak harus turun tangan ke lapangan.
Sekitar satu jam setengah, mobil yang dikendarai anak dan ibu itu sampai di depan rumah orangtua Reigha.
Nala mengumpulkan keberanian terlebih dahulu sebelum benar-benar turun dari mobil.
"Ini kan alamatnya, Bu?" tanya pak sopir memastikan karena Nala tak kunjung turun.
"Mom. Kita sudah sampai kan?" Kini giliran Zio yang bertanya. Nala mengangguk membenarkan.
"Iya. Ayo, kita turun sekarang," ajak Nala pada akhirnya. Siap atau tidak siap, Nala harus turun dan melawan kegugupan yang seketika hadir.
"Ada Zio, Mom. Mommy tidak perlu gugup seperti akan bertemu dengan seorang kekasih," goda Zio yang membuat Nala melebarkan matanya tidak percaya.
"Zio tahu darimana kata-kata kekasih?" tanya Nala penuh selidik.
Zio menggeleng lalu menyengir kuda. "Lupakan, Mom. Itu disana ada Daddy yang sedang melihat ke arah Mommy," ucap Zio yang seketika membuat Nala tersadar jika ia sedang tidak berada di wilayah kekuasaannya. Wkwk.
Nala mengikuti arah tunjuk Zio dan melihat sosok Reigha kini sedang tersenyum ke arah ... Siapa ya? Entah Zio atau dirinya.
"Kalian akhirnya datang juga," ucap Reigha tersenyum bahagia. Nala hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
Zio kini berhambur memeluk sang ayah sedangkan Nala, dia mendadak canggung dengan situasi yang tercipta.
__ADS_1
Sibuk dengan pemikirannya sendiri, Nala berjenggit ketika namanya di panggil dari arah pintu masuk.
"Nala?" ucap bu Nilam tersenyum lebar.
Nala menoleh lalu tersenyum sendu. "Apa kabar ... Tante," sapa Nala untuk pertama kalinya.
Bu Nilam langsung berhambur ke pelukan Nala. "Kabar Mama baik. Tetaplah memanggilku dengan Mama. Aku senang saat kau memanggilnya seperti itu. Begitu juga sebaliknya, aku tidak suka di panggil Tante olehmu. Menurutku, panggilan itu sangat buruk," ucap bu Nilam panjang lebar.
Nala tersenyum dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Lalu, tangannya bergerak untuk membalas pelukan yang sudah lama sekali tidak Nala rasakan.
Jujur, Nala merindukan pelukan ini.
"Oma! Apa Oma tidak merindukanku?" tanya Zio dengan nada yang sedikit meninggi.
Bu Nilam melepas pelukan lalu menatap ke bawah dimana cucunya kini sudah menggerucutkan bibirnya.
"Aduh! Oma sampai lupa jika Zia memilki kembaran," goda bu Nilam yang semakin membuat Zio kesal.
"Oma jahat!" gerutu Zio kemudian melipat tangan di depan dada. Semua terkekeh geli melihat Zio yang sedang dalam mode merajuk.
Akhirnya, bu Nilam membawa Zio ke dalam gendongannya. "Jangan marah lagi. Oma hanya bercanda," ucap bu Nilam menenangkan lalu mengecup kedua sisi pipi Zio.
"Ayo, kita masuk dulu. Jangan hanya berdiri disini saja," ajak bu Nilam sambil tangan yang tidak memegangi Zio, digunakan untuk menggandeng lengan Nala.
Reigha tersenyum bahagia lalu mengekor dari belakang. Reigha bisa melihat punggung Nala yang berjalan menjauh. Reigha perhatikan, rambut Nala kini sudah memanjang. Lengannya yang putih bersih membuat Reigha gila.
Akhirnya, Reigha hanya bisa membuang napas kasar lalu menggeleng-gelengkan kepalanya saat bayangan ingin memeluk Nala dari belakang menghampiri. Kepalanya memang butuh di pukul agar tidak bersikap kurang ajar.
"Aku mencintaimu, Nala," gumam Reigha yang sayangnya masih bisa Nala dengar.
__ADS_1
Nala seketika menghentikan langkah dan berbalik untuk melihat Reigha. "Apa kamu menggumamkan sesuatu, Mas? Aku tidak terlalu mendengar," tanya Nala dengan dahi mengkerut.
Reigha sontak menggeleng. "Tidak. Aku tidak mengatakan apapun," jawab Reigha berbohong.