
"Mommy! Daddy! Kalian sedang apa?" pekik Zia saat melihat ayah dan ibunya duduk saling menempel. Seperti Reigha yang sedang memeluk Nala.
Sontak saja hal itu membuat keduanya tersadar dan saling menjauh. Bu Nilam yang melihat itu tersenyum penuh arti. "Mommy dan Daddy kalian sedang pacaran," jawab bu Nilam yang membuat Nala mendelik kesal.
"Kalian sudah pulang?" tanya Nala untuk mengalihkan perhatian Zia dan Zio. Dia berdiri untuk menyambut kepulangan anak-anaknya.
"Sudah, Mom. Kami berkeliling mall dan membeli barang-barang yang kami mau. Oma memang yang terbaik," jawab Zio sambil mengacungkan jari jempolnya.
"Wow! Kalian beli apa saja?" Kini giliran Reigha yang bertanya. Langkahnya terayun untuk mendekati Zia dan Zio.
"Coba tunjukkan pada Daddy dan mommy kalian," pinta bu Nilam yang kini sudah mengambil posisi duduk di sofa.
Zia dan Zio tampak antusias membuka satu persatu paperbag untuk ditujukkan pada Mommy dan Daddy-nya. Nala tersenyum bahagia lalu mengacak rambut Zia dan Zio gemas.
"Bilang apa sama Oma?" pinta Nala lembut.
"Terimakasih, Oma," ucap Zia dan Zio bersamaan.
Merasa sudah terlalu sore, ketiganya memutuskan untuk balik ke Bogor. Reigha mengatakan ingin mengantar namun Nala menolak keras tawaran itu.
Tepat pukul enam sore, akhirnya mereka telah sampai di rumah. Tubuh Nala terasa sangat lelah karena seharian ini menyetir. Setelah Zia dan Zio mandi sore dan makan, bu Laras mengambil alih anak-anak. Sedangkan Nala, dia masuk ke kamar untuk membersihkan diri.
Setelah air segar mengguyur tubuh, Nala keluar dan bergegas mengenakan piyamanya. Saat Nala duduk di meja rias, entah mengapa Nala teringat dengan perkataan bu Dian yang meminta dirinya untuk kembali menikah.
Tidak ada yang salah memang. Namun, apakah itu tidak terlalu cepat? Rasanya Nala seperti tidak menghargai Dandy yang telah tiada. Nala mengusap wajahnya kasar kemudian segera memakai krim wajahnya.
Di tempat lain.
__ADS_1
Setelah Nala dan anak-anaknya pulang, Reigha bertekad untuk kembali mengejar Nala. Dia akan berjuang sekali lagi seperti apa yang mamanya katakan. Jika dalam misi perjuangan ini Reigha kembali gagal, itu tidak masalah. Setidaknya, Reigha pernah berjuang meski tak pernah ternilai di mata Nala.
Karena orang yang berbuat kesalahan, sekali salah akan tetap salah sekalipun dia berbuat baik. Kesalahannya akan diingat terus dan menutup kebaikan yang sudah dilakukan.
Begitulah manusia.
Besok Reigha akan kembali ke Bogor untuk mengecek kondisi kantor logistiknya. Nick memang bisa diandalkan selama Reigha tidak ada.
Reigha memilih memejamkan mata dan menjemput alam mimpi agar besok bisa kembali bertemu Nala
Keesokan harinya. Reigha sudah berada di perjalanan menuju Bogor. Sebentar lagi dia akan sampai di kota tersebut sekitar sepuluh menitan lagi.
Saat sudah memasuki kota Bogor, mobil Reigha harus berhenti di lampu merah karena banyaknya mobil yang ingin melaju dari segala arah. Untuk menghilangkan kejenuhan, Reigha mengedarkan pandangan melihat pemandangan kota.
Banyak sekali penjual jalanan yang menjajakan dagangannya pas mobil-mobil yang berhenti. Ada juga manusia silver yang membawa kardus untuk meminta sumbangan.
Reigha semakin mengernyit heran saat ada seorang laki-laki yang datang menghampiri wanita tersebut. Tubuh wanita itu seperti bergetar takut. Lalu, Reigha tidak tahu lagi apa yang terjadi karena bunyi klakson di belakang membuat Reigha tersadar dan kembali menjalankan mobil.
.............
"Bagaimana keadaan kantor, Nick?" tanya Reigha sesaat setelah sampai di kantor logistiknya.
"Semua berjalan dengan lancar, Bos. Sempat ada kendala di suatu daerah. Namun, semua bisa diatasi dengan baik. Tentunya atas kerjasama semua tim perusahan," jawab Nick sambil duduk bersandar di sofa yang berseberangan dengan Reigha.
Reigha mengangguk-anggukan kepala mengerti. "Oh ya. Kamu sudah melakukan apa yang aku minta bukan?" tanya Reigha yang kini wajahnya terlihat berbinar.
Nick mengerjap menatap sikap bosnya yang suka berubah-ubah sesuai isi hatinya. "Sudah." Nick menjawabnya singkat.
__ADS_1
"Bagaimana? Katakan padaku segera," pinta Reigha tidak sabaran.
Nick tersenyum geli lalu segera mengatakan informasi yang ingin Reigha dengar. "Hari ini Nala tidak pergi kemana-mana," ungkap Nick yang langsung mendapat tatapan heran dsie Reigha.
"Darimana kamu bisa tahu?" tanyanya dengan tatapan memicing.
Nick memutar bola matanya malas. "Itu perkiraanku, Bos. Menurut informasi yang aku dengar, hari ini Nala tidak ada pekerjaan yang mengharuskan dia ikut turun tangan," jawab Nick menjelaskan.
"Kata siapa?" tanya Reigha lagi belum percaya.
"Sudahlah, Bos. Jangan memintaku untuk menjelaskan jika Bos tidak ingin mendengarkan," putus Nick pada akhirnya menyerah.
Reigha tertawa renyah. "Aku hanya bercanda. Cepat katakan dan aku akan segera meluncur ke TKP," pinta Reigha lagi yang membuat Nick mengulas seutas senyum.
Senyuman hangat yang damai. Tangan Nick terulur untuk menepuk bahu Reigha pelan. "Tetaplah seperti ini, Bos. Jangan berubah menyeramkan lagi," ucap Nick yang terdengar seperti sindiran.
Namun, Reigha tidak mempermasalahkan itu. Reigha mengangguk mengiyakan nasehat dari asisten sekaligus sahabat terbaiknya.
"Terima kasih, Nick. Kamu sudah menemaniku hingga sampai di titik ini," ucap Reigha bersyukur.
"Sama-sama, Bos. Ingat, jangan lupa naikkan gajiku bulan ini ya, Bos. Bonusnya juga jangan lupa," jawab Nick sambil menyengir kuda.
Reigha sontak menjitak kening Nick kencang. "Dasar mata duitan," gerutu Reigha yang membuat Nick seketika tertawa terbahak-bahak.
"Aku orangnya realistis, Bos. Zaman sekarang, semuanya butuh uang," jawab Nick yang memang ada benarnya.
"Ya sudah, kamu tenang saja. Akan aku kirim lebih cepat dari biasanya. Semua itu karena kerja kerasmu," jawab Reigha tersenyum bangga.
__ADS_1
Nick tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Dia sudah memekik senang karena bulan ini akan mendapatkan uang yang lebih banyak.