
Nala memasukkan barang-barangnya ke tas jinjing miliknya. Sebentar lagi sang Suami pasti akan datang karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat lima belas menit. Itu berarti, empat puluh lima menit lagi Zia dan Zio akan pulang sekolah.
Tin. Tin.
"Benar kan dugaanku. Untung aku sudah selesai berkemas," gumam Nala lalu bergegas keluar dari ruangannya. Beruntung juga, jarak kantor Reigha dan kantornya tidak terlalu jauh. Sehingga tidak perlu memakan waktu lama.
"Rani, Yuna? Aku pergi dulu ya. Nanti kalian urus dengan baik klien yang ingin menggunakan jasa kita." Nala berpesan sebelum benar-benar berlalu dari sana. Rani dan Yuna mengangguk patuh dan siap melaksanakan perintah dari atasannya.
Reigha tersenyum kala mendapati sang Istri keluar dari gedung kantornya. Semakin hari, aura ibu hamil itu tampak bersinar.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Reigha sambil mengecup pelipis sang istri mesra.
Nala mendongak dan memanyunkan bibirnya agar dicium juga.
Cup.
Baru setelah itu, Nala mengangguk dan berucap ceria. "Sangat siap!"
Reigha hanya terkekeh lalu membukakan pintu untuk sang Istri Tercinta. Lalu setelahnya, mobil melaju menuju sekolah tempat Zia dan Zio menimba ilmu.
Hari ini Nala dan Reigha sepakat untuk mengajak anak-anak untuk pergi ke mall. Zia dan Zio seperti sudah lama sekali tidak diajak mengunjungi tempat tersebut. Bagaimana pun, jiwa seorang anak masihlah ingin bermain-main.
"Mereka pasti akan sangat senang, Dad," ucap Nala tersenyum lebar.
"Tentu, Sayang. Tetapi ingat ya, Mommy tidak boleh terlalu lelah. Usia kandungan Mommy masih rawan dan Daddy tidak mau terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ucap Reigha mengingatkan.
Nala mengangguk patuh. "Iya, Dad. Apapun itu yang terpenting aku bisa melihat anak-anak bahagia."
__ADS_1
Tidak berapa lama, mobil mereka telah sampai di depan pintu gerbang sekolah. Nala melihat jam di pergelangan tangan yang sudah menunjukkan pukul sepuluh tepat.
"Kita turun yuk, Dad. Anak-anak sebentar lagi akan keluar," ajak Nala dan Reigha pun menyetujui.
"Tapi tunggu Daddy membukakan pintu untuk Mommy. Jangan keluar dulu." Reigha berucap kala Nala baru saja menyentuh handel pintu.
Hembusan napas kasar terdengar dari mulut Nala. Suaminya itu sangat hati-hati dan posesif. Namun, tidak ada hal yang bisa Nala lakukan selain menurut.
Hingga Nala mendengar pintu mobil di sampingnya terbuka dan Reigha mengulurkan tangan untuk Nala jadikan pegangan. "Aku bukan orang sakit, Mas. Jadi aku tidak perlu di perlakukan semanja itu," rengek Nala dengan bibir mencebik.
"Mommy! Daddy!"
Pekikan itu membuat Reigha mengurungkan niat untuk mendebat sang istri. Setelah Nala berhasil turun, Reigha melambaikan tangan da tersenyum pada Zia dan Zio yang kini nampak berjalan bersama teman-teman yang lain.
Nala juga melakukan hal yang sama yaitu melambaikan tangan pada dua anaknya dengan mengukir senyum semanis mungkin. "Bagaimana sekolah hari ini?" tanya Nala pada Zia dan Zio yang kini sudah ada dalam pelukannya. Walau Nala harus berjongkok lebih dulu untuk menyamakan tinggi badan Zia dan Zio.
Nala tersenyum lalu beralih pada Zia yang akhir-akhir ini tidak banyak bicara. "Apakah Zia juga seperti itu? Kenapa dua hari ini kamu jadi pendiam sekali? Zio? Apakah kamu tahu sesuatu?" Kini, tatapan Nala beralih pada Zio.
"Sayang. Kita masuk mobil dulu ya. Bicara lagi nanti setelah berada dalam mobil." Setelah mengucapkan itu, Reigha membukakan pintu untuk Zia dan Zio terlebih dahulu. Mereka akan duduk di kursi penumpang.
Setelah anaknya duduk tenang, Reigha menutup pintu lalu beralih pada istrinya. "Kenapa? Apa kamu khawatir tentang sesuatu?" tanya Reigha saat melihat wajah sang istri yang murung.
Nala menghela napas lalu mengangguk. "Kita harus masuk dulu, Mas," ucap Nala yang diangguki oleh Reigha.
Setelah formasi lengkap, Reigha melajukan mobil menuju pusat perbelanjaan terbesar di Bogor. Sebenarnya mereka bisa pergi ke Jakarta untuk fasilitas mall yang lengkap. Namun, pasti akan memerlukan waktu yang lebih lama lagi.
"Zia? Bilang sama Mommy sama Daddy jika kamu mengalami masalah. Jangan pendam sendiri ya, Sayang. Zio juga selalu ada untuk Zia loh," ucap Nala memancing Zia agar mau bercerita.
__ADS_1
Pasalnya, semalam Nala mendapat pesan dari ibu guru yang menjadi wali kelas Zia. Beliau mengatakan jika Zia selalu melamun dan tidak fokus dalam belajar. Nala yang masih belum percaya, Akhirnya melihat dengan mata kepalanya sendiri. Sejak pulang sekolah, Zia tampak dingin dan cuek.
"Zio tidak tahu apa-apa, Mom. Kan kelas kita beda," jawab Zia ikut bersuara.
Nala menoleh ke belakang dimana Zia dan Zio berada. Nala tersenyum lembut agar Zia tidak takut untuk menceritakan masalahnya. Sedangkan Reigha, dia masih diam dan membiarkan Nala mengambil alih Zia.
Tanpa diduga, Zia justru menangis kencang dengan air mata yang bercucuran. Sudah tak terbendung lagi. "Loh. Ada apa, Sayang? Apa masalahnya sangat berat?" tanya Nala panik.
Reigha yang sama paniknya, memilih menepikan mobil lalu turun untuk menenangkan Putri tersayangnya. Nala yang ingin pindah tempat duduk terpaksa urung saat Reigha meminta Nala untuk tetap duduk tenang di kursinya.
"Zio? Elus sayang Zia ya? Kamu harus kasih semangat pada Zia," pinta Nala tersenyum manis dan Zio langsung patuh.
"Sudah Zia. Jangan menangis lagi," ujar Zio menenangkan.
Reigha yang sudah duduk di samping Zia pun langsung memeluk sang putra dalam dekapan. Berusaha menyalurkan ketenangan di hati Zia. Zio juga masih melakukan hal yang sama seperti yang Reigha lakukan.
Hingga tangis Zia mereda, Reigha merenggangkan pelukan dan menatap wajah Zia. Nala hanya bertindak sebagai pengamat. Ingin melihat bagaimana suaminya itu membujuk Zia.
"Sekarang, Zia sudah bisa cerita kan? Kalau Zia mau cerita, Daddy akan ajak kalian berdua ke mall," ucap Reigha mengiming-imingi.
Nala geleng-geleng kepala. Tidak menyangka suaminya secerdas itu. "Bagaimana?" tanya Nala ikut mendesak Zia namun tetap menggunakan kelembutan.
"Daddy dan Mommy ingat tidak kalau Minggu kemarin Oma membawa mainan untuk kami? Mainan itu direbut oleh Reno begitu saja. Bahkan, Reno suka sekali meminta uang jajan milik Zia. Saat Zia ingin melapor, Reno mengancam Zia dan mengatakan jika Zia melapor pada ibu guru, Zia akan di pukul oleh geng mereka," jelas Zia panjang lebar tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Nala dan Reigha sampai terperangah tidak percaya. Bagaimana bisa anak TK sudah berani mengancam seperti itu?
"Mas? Ini masalah serius. Kita harus beritahu guru dan orang tua murid itu," ucap Nala sambil menatap serius suaminya.
__ADS_1
"Reigha mengangguk membenarkan. "Sekarang, Zia tenang dulu ya. Zia tidak perlu khawatir tentang itu semua. Daddy dan Mommy akan bantu Zia mengatasinya," ucap Reigha menenangkan.