
Saat ini Nala dan anak-anak sedang berada di ruangan khusus bersantai di kantor. Ruangan yang langsung menghadap jalanan yang terdapat di lantai dua. Itu seperti kamar hanya saja, tidak ada ranjang karena Nala tidak pernah berniat untuk tidur di kantornya.
Bisa disebut, ruangan ini adalah ruang kerja Nala kedua. Karena ruang kerja pertamanya ada di lantai satu namun tidak tertutup seperti di ruangan tersebut. Nala sengaja menggunakan sekat dinding kaca di ruangan bawah untuk melihat tamunya yang datang.
"Mom? Zia lapar," rengek Zia yang kini sedang duduk di double sofa bersama Zio.
"Zio juga, Mom," Zio juga ikut bersuara.
Nala yang sedang fokus dengan laptop di hadapannya, menoleh dengan mata yang menggerjap. "Lapar ya? Bisa ditahan sepuluh menit lagi tidak? Mommy akan selesaikan pekerjaan dulu sebentar," ucap Nala memohon.
"Bisa kok, Mom. Paling sepuluh menit di ganjak dulu pakai roti," jawab Zio yang kini sudah turun dari sofa menuju lemari penyimpanan makanan snak dan berbagai minuman.
Nala tersenyum bangga. "Ambilkan sekalian untuk Zia, Sayang," pinta Nala yang segera diangguki oleh Zio.
Kini, Nala kembali fokus pada laptop di depannya. Sedikit lagi desain gaun yang Nala buat akan selesai. Namun, sebelum sebelum hal tersebut terealisasi, Zia kembali bersuara dan membuat Nala menghentikan aktifitasnya.
"Mom. Mengapa kita tidak mempunyai ponsel sendiri? Padahal, kita juga ingin mengubungi Daddy sepanjang hari," celetuk Zia yang membuat Nala kebingungan harus menjawab apa.
"Iya, Mom. Kami juga rindu Daddy," sahut Zio seakan mengamini ucapan Zia.
Huft..
Nala menghela napasnya lelah. "Kalian kan baru bertemu kemarin. Masa sudah rindu lagi?" tanya Nala tidak habis pikir.
"Wajar, Mom. Delapan jam tidak bertemu Mommy saja, kamu sudah sangat rindu, apalagi satu hari," jawab Zio yang bibirnya kini sudah mengerucut lucu.
Nala terkekeh pelan. "Nanti akan Mommy belikan. Tapi—"
"Kok pakai tapi sih, Mom?" protes Zia yang gagal untuk bersorak-sorai.
Nala tertawa renyah. "Sabar dong. Tapi, setelah kalian masuk Taman Kanak-kanak. Tinggal beberapa bulan lagi kok," ucap Nala yang sama sekali tidak membuat raut cemberut Zia dan Zio tersenyum.
Nala menghela napas panjang. Dia memilih menyudahi pekerjaan dan mendekat pada anak-anaknya.
"Kenapa? Kalian tidak setuju?" tanya Nala lembut sambil mengacak rambut anaknya bergantian.
"Itu masih lama, Mom," protes Zia merajuk. Dua lengannya sudah terlipat di depan dada.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" tanya Nala lagi ingin mendengar alasan anaknya meminta ponsel.
"Kami sudah rindu Daddy. Jika kami ingin menelepon sekarang, harus menggunakan ponsel siapa?" jawab Zio.
"Baiklah. Kali ini kalian bisa menggunakan ponsel Mommy terlebih dahulu. Sebentar ya? Akan Mommy carikan nomor ponsel Daddy kalian," ucap Nala dengan telaten.
Karena sudah tidak mempunyai nomor milik mantan suami, Nala memilih menghubungi bu Nilam terlebih dahulu.
"Halo, Ma?" sapa Nala untuk pertama kali.
Setelah bu Nilam bertanya alasan Nala menelepon, Nala langsung mengungkapan tujuan menelepon yang tentunya, mengatasnamakan anak-anak. Bukankah seperti itu?
"Ya ampun. Mama kira kamu menelepon untuk apa. Baiklah, akan Mama kirim nomor Reigha sekarang ya," ucap bu Nilam di seberang sana disertai kekehan. Setelah telepon terputus, tidak berapa lama ada pesan masuk ke ponselnya.
Nama Reigha tertera pada nama nomor yang dikirim oleh bu Nilam. Setelah menyimpan dalam kontak, Nala segera mendial nomor Reigha.
Tut. Tut. Tut.
Tepat di dering ketiga, telepon diterima. Nala segera memberikan ponselnya pada anak-anak. "Ini, Daddy kalian," ucap Nala sambil menyerahkan ponsel.
"Hallo Daddy?" sapa Zia antusias.
"Hallo Daddy! Akhirnya kita bisa teleponan," sapa Zio tak kalah antusias.
"Hai! Apakah Daddy tidak salah dengar? Ini Zia dan Zio kan?" ucap Reigha diseberang sana. Nala tentu mendengar karena teleponnya sengaja Nala loudspeker.
"Apakah Daddy sudah lupa dengan anak sendiri?" tanya Zia menohok.
Reigha yang berada diseberang sontak terbahak. "Jangan ngadi-adi, Sayang. Daddy hanya bercanda," jawab Reigha pada akhirnya.
Nala mengulum senyum mendengar pertanyaan Zia yang di luar ekspektasi. Bisa-bisanya Zia bertanya seperti itu. Entah anak itu dapat kosa kata darimana.
"Eh! Kok wajah Daddy tidak kelihatan? Layar ponselnya hanya gelap," ucap Zio yang membuat Nala menepuk jidat seketika.
"Itu hanya telepon biasa. Bukan telepon video, Sayang," celetuk Nala tiba-tiba.
"Loh! Ada Mommy sayang juga disitu? Coba kasih Mommy sayang ponselnya. Biar Mommy sayang yang merubah panggilannya," ucap Reigha yang membuat Nala merasa geram.
__ADS_1
"Ini Mommy sayang," ucap Zio sambil tersenyum jahil.
Nala melotot tajam pada anaknya yang ikut memanggil dengan sebutan 'Mommy sayang'. Zia dan Zio langsung tertawa terbahak-bahak.
Setelah telepon beralih menjadi panggilan video, Nala menepi agar tidak perlu melihat wajah menyebalkan mantan suaminya. Dia memilih kembali berkutat dengan pekerjaan.
Nala sudah tak lagi mendengar perbincangan antara anak dan ayah itu karena telah larut dalam pekerjaan. Hingga Zia dan Zio menghampiri ke meja kerjanya dan menunjukkan layar ponsel. Wajah Reigha terpampang disana.
"Hallo Mommy sayang," sapa Reigha yang membuat Nala memutar bola matanya jengah.
Karena sang Ibu tak kunjung menjawab, Zia dan Zio bersuara. "Jawab Mommy!" pinta mereka bersamaan.
"Ooh, kompak sekali kalian ya," ucap Nala memainkan nada bicaranya.
"Mommy! Lihatlah! Daddy ada dimana?" tunjuk Zia pada ponsel yang saat ini dipegangnya.
Nala sontak menoleh dan menatap layar ponsel. Reigha terlihat sedang menaiki tangga. Jangan lupakan senyum tengilnya yang selalu terpampang di layar benda pipih tersebut. Namun, Nala justru fokus pada dinding ruangan yang tidak asing lagi bagi Nala.
"Dimana kamu, Mas?" tanya Nala mengernyit heran.
Kemudian, Reigha mengalihkan ponselnya ke seluruh ruangan. Nala menutup mulutnya tidak percaya. Itu merupakan ruangan kantornya bagian atas. Terbukti dengan banyaknya barang-barang dekorasi.
"Jangan bilang jika kamu—"
Tok. Tok. Tok.
Ucapan Nala terhenti ketika mendengar ketukan pintu dari luar. Belum sempat Nala mencerna situasi, Zia dan Zio sudah berhambur lari untuk membuka pintu sambil berteriak. "Daddy!"
Jelas Nala tahu apa yang sudah terjadi. Tetapi, bagaimana bisa secepat itu? Bukankah Reigha saat ini sedang berada di Jakarta? Nala memijit pelipisnya pelan. Sepertinya Reigha tidak kenal lelah untuk mengganggu hidupnya.
Tidak berapa lama, pintu terbuka dan menampilkan Reigha dengan penampilan yang ... Keren. Ya, Reigha memang tampan dengan postur tubuh tinggi dan kekar. Belum lagi bulu-bulu halus yang tumbuh di area rahang yang kini dicukur tipis, membuat pesona Reigha semakin memancar.
Namun, untuk saat ini Nala tidak ingin terpesona. Dia memilih beranjak dan berjalan mendekat dengan kedua tangan yang sudah terlipat. "Kenapa kamu ada disini?" tanya Nala heran.
Reigha tersenyum manis lalu mengerling kan satu matanya, membuat mulut Nala terbuka lebar.
'Ava-avaan ini? Kenapa dia genit sekali?' batin Nala menggerutu.
__ADS_1