
Dinda yang baru aja masuk ke dalam rumah kos-kosan, ia langsung melemparkan tasnya di atas tempat tidurnya. Kemudian, ia menjatuhkan tubuhnya dan menatap langit-langit didalam kamarnya.
Disusul oleh Ayun, dan Nilam. Keduanya sama halnya yang dilakukan Dinda, yakni berbaring di atas tempat tidurnya masing-masing.
Nilam yang menyimpan rasa penasaran, akhirnya bangkit dari posisinya dan duduk. Lalu, menoleh ke arah Dinda yang terlihat tengah tiduran sambil melihat langit-langit kamar.
"Din, kamu tadi bohongi kita ya? benar-benar ya, kamu ini."
Dinda segera menoleh ke sumber suara, dan bangkit dari posisinya.
"Bohongi kalian, maksudnya apaan?" sahut Dinda dan balik bertanya.
Ayun yang juga penasaran, ia ikutan bangkit dari posisinya yang sedang tiduran.
"Itu loh, katanya kamu mau ambil paketan dari kampung, kok bisa-bisanya satu mobil dengan Elang." Timpal Ayun ikut berbicara.
"Oh, tadi. Ya, aku memang sengaja bohongi kalian berdua, habisnya bakalan dihadang oleh kalian kalau aku mau pulang bareng Elang. Sudahlah, kalian tidak usah halangi rencanaku. Aku akan terus dapetin Elang, apapun caranya." Jawab Dinda yang tetap bersikukuh untuk mendapatkan cinta dari lelaki yang disukainya.
"Din, sadar dong. Elang itu dari dulu hanya cinta sama Anin, tidak untuk perempuan lain. Bukankah kamu sendiri sudah tau, jika Elang tidak bisa ke lain hati. Udah deh, jangan ganggu rumah tangga orang. Lagi pula tuh ya, Anin dan Elang sudah bahagia dengan pernikahannya. Jangan kamu taruh racun di dalamnya, nanti kamu bakalan menyesal. Lagian juga, lelaki tidak hanya Elang saja." Kata Ayun mencoba untuk menyadarkan Dinda, agar tidak menyesal nantinya.
Dinda yang mendengar perkataan dari Ayun yang tengah menasehati dirinya, langsung pergi ke kamar mandi.
Ayun hanya menggelengkan kepalanya sambil menatap ke arah Nilam.
"Sudahlah Yun, abaikan aja. Percuma kita ngingetin Dinda, gak bakal diterima nasehat dari kita. Secara, dia sudah dibutakan dengan perasaannya sendiri tanpa berkaca terlebih dahulu. Yang penting, kalau ada apa-apa, kita langsung hubungi Elang atau Anin. Setidaknya kita ikut menjaga hubungan mereka dari gangguan wanita perusak rumah tangga, seperti Dinda." Ucap Nilam yang juga memberi saran kepada Ayun.
Ayun hanya mengangguk, dan bergegas mengganti pakaian santainya.
Sedangkan Elang, baru aja sampai di depan rumah yang menjadi tempat tinggal Burnan.
"Lang, lain kali kamu hati-hati. Dinda bisa saja melakukan rencananya, demi mendapatkan kamu. Bukankah kamu pernah bilang, kalau Dinda pernah mengatakan cintanya sama kamu, dan kamu menolaknya. Jadi, berhati-hatilah dengan Dinda, ada Anin istrimu yang harus kamu jaga perasaannya. Maaf, aku hanya mengingatkan." Ucap Burnan tak lupa untuk mengingatkan.
__ADS_1
"Ya, Bro. Tenang aja, nanti karyawan baru akan dipindahkan ke kantor satunya." Jawab Elang.
"Syukurlah, semoga tidak ada yang mengganggu rumah tangga kamu. Ya udah ya, aku turun. Makasih loh, tumpangannya." Ucap Burnan sebelum turun dari mobil.
"Seharusnya aku yang bilang terimakasih, karena sudah membantuku untuk menghindari Dinda." Kata Elang.
"Kita teman, harus saling menolong. Ya sudah ah, aku turun. Apa tidak sebaiknya kamu mampir dulu, masih jam tigaan juga." Ucap Burnan menawari.
"Lain kali aja, ya udah, sampai jumpa dan sampai bertemu lagi di kantor." Jawab Elang, dan segera pulang.
Berbeda di rumah Tuan Vitton, kini tengah duduk bersantai di belakang rumah sendirian.
"Bi Asih, Mama dimana?"
"Nyonya sedang duduk santai di belakang rumah, Tuan." Jawab asisten rumah.
"Oh," ucapnya dan segera menemui ibunya.
Saat sudah berada di belakang rumah, ikutan duduk disebelah ibunya.
"Ya, Ma. Mama ngapain disini? kak Lara, mana?"
"Kenapa kamu tanya Mama, Mama tidak tahu perginya kakak kamu. Mungkin sedang pergi bersama temannya, kenapa? tumben, kamu cari kakak kamu."
"Tidak ada apa-apa, Ma. Tian cuma ingin tau aja."
"Kamu kenapa, kelihatannya ada sesuatu yang kamu sembunyikan."
"Gak apa-apa kok, Ma. Ya udah ya, Ma, Tian masuk ke kamar dulu." Jawab Tian yang langsung bergegas pergi.
Sang ibu hanya menatapnya heran, ketika melihat ada yang aneh dengan putranya.
__ADS_1
"Ada apa dengan Tian? gak seperti biasanya, kelihatannya dia murung. Apa ada sesuatu yang disembunyikan? mungkin saja." Gumamnya saat mendapati putranya yang berubah aneh.
Tian sendiri yang sudah berada didalam kamar, langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Apa benar yang dikatakan Papa barusan saat di kantor? apa aku salah menguping? tidak, aku tidak salah mendengar." Gumamnya yang merasa dilema.
Karena tidak ingin ambil pusing, Tian memilih untuk memejamkan kedua matanya. Berharap, apa yang ia dengar saat di kantor, telinganya salah mendengar.
Sedangkan di tempat lain, Tuan Vitton tampak menajamkan kedua matanya dengan rahang yang mengeras, dibarengi gigi yang saling bergesekan.
"Mawan Alexander, aku pastikan, bahwa kau beserta anak dan menantu, juga istrimu, akan aku lenya_pkan dalam waktu yang singkat. Lihat saja, aku yang akan berkuasa. Kau sudah berani merebut milikku, maka kau harus menggantikannya, sama seperti Rahtair." Ucapnya dengan rahang yang mengeras, dengan suara gigi yang bergesekan.
Setelah mendengar rekaman video yang didapat dari anak buahnya, Tuan Vitton segera bergegas untuk pulang.
Lain lagi di tempat yang berbeda, yakni di kediaman keluarga Alexander. Elang dan ayahnya pulang bersamaan, meski dari kantor yang berbeda, mungkin saja karena kebetulan.
"Kok sendirian, katanya mau jemput istri kamu, dimana Anin?"
Tanya sang ayah yang tidak mendapati menantunya, langsung bertanya kepada putranya.
"Pulang bareng Mama sudah dari tadi, Pa. Oh ya, Papa kok baru pulang?"
"Tadi, ada teman Papa meminta untuk janjian, ya udah, akhirnya berhenti di Restoran. Kamu sendiri, kenapa baru pulang? janjian juga?"
"Gak ada janji, Pa. Tadi, teman Elang si Burnan alias sekretaris baru, macet di jalanan, akhirnya Elang ajak pulang bareng."
"Oh, kirain Papa ada kendala apa. Ya udah, ayo kita masuk." Kata sang ayah, dan mengajaknya untuk segera masuk kedalam rumah.
Karena sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istrinya, Elang langsung masuk ke kamar tanpa menyapa ibunya yang sedang mengupas buah.
"Anak kamu tuh, sudah ada istri, buru-buru masuk ke kamar." Ucap ibunya Elang saat melihat putranya yang terburu-buru menapaki anak tangga.
__ADS_1
"Namanya juga pengantin baru, pasti sudah tidak sabar pingin bermanja-manja, sama kek kita dulu. Cuma, kita gak kelihatan sama orang tua kita, orang kitanya langsung pindah rumah." Jawab Tuan Mawan, sang istri tersipu malu mendengar ucapan dari suaminya.
Elang yang baru aja masuk kedalam kamar, ia tercengang saat membuka pintu. Apa lagi kalau bukan melihat istrinya yang sudah berdiri menyambutnya pulang dengan penampilan yang begitu terlihat cantik.