
"Kamu kenapa lagi, sayang?" tanya Elang sambil mendongakkan wajah istrinya agar menatap dirinya.
"Tidak apa-apa, aku hanya kangen sama Ibu Amira, hanya itu saja." Jawab Anin dengan anggukan, Elang langsung menyandarkan istrinya untuk bersandar di dada bidangnya.
'Apa ya, kamu sedang merindukan Andika? terlihat jelas dari raut wajahmu. Bahwa kamu mengingat kenangan bersama mendiang kekasihmu. Pantaskah aku cemburu dengan mendiang temanku sendiri? sadar, Elang, sadar.' Batin Elang sambil mengusap lengan milik istrinya pelan.
Anin yang mendapati suaminya seperti bengong dan melamun, ia mendongak pada suaminya. Kemudian mengubah posisinya sedikit menyerong.
Dilihatnya sang suami tengah melamun, Anin membuyarkan lamunannya dengan pertanyaan.
"Kamu sedang mikirin apa? kelihatannya ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan."
Elang langsung membuang napasnya kasar, tentu saja untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Gak ada yang aku pikirkan, maksudnya aku sedang tidak melamun." Jawab Elang beralasan.
"Oh, kirain. Kita duduk di sana aja yuk, bareng Papa sama Didit. Gak baik kita duduk disini, nanti disangka masih kasmaran, akunya jadi malu." Ucap Anin mengajak suaminya untuk bergabung dengan ayah mertua dan adik laki-lakinya.
"Pa, gimana, belum di pindah ruangan ya?" tanya Elang ingin tahu, soalnya sedari tadi ia melihat sang ayah dan adik iparnya masih duduk santai, pikirnya.
"Belum, mungkin sebentar lagi." Jawab sang ayah.
"Semoga penanganannya berjalan dengan lancar, soalnya perasaan udah lama menunggu. Jadi, berasa lama." Ucap Elang dan mengajak istrinya untuk duduk.
Sambil menunggu ibu mertuanya dipindah ke ruang rawat pasien, sesekali Elang mengecek ponselnya, takutnya ada pesan masuk atau panggilan telpon. Secara, sedari tadi ponsel miliknya dengan mode silent.
Sedangkan Anin, memilih untuk duduk bersandar di pundak suaminya. Elang tidak mempermasalahkannya, justru dirinya merasa dibutuhkan.
Sambil merangkul istrinya dengan tangan kirinya, tangan kanannya yang sibuk dengan ponselnya.
'Nomor baru, punya siapa?' batin Elang mengernyit.
Setelah melihat panggilan masuk yang tidak terjawab, Elang membuka pesan masuk.
'Elang, aku sangat merindukanmu. Kamu tahu, aku tidak pernah berhenti untuk mengagumi kamu dan tidak akan menyerah untuk mendapatkan cintamu.'
Tidak berani berucap, Elang hanya bisa berkata lewat batinnya dalam membaca pesan masuk ke nomor ponselnya.
Saat itu juga, Elang langsung mengcopy paste pesan masuk dan dikirimkan lagi ke nomor Burnan, dan juga nomor ponsel si pengirim pesan untuk di lacak si pemilik ponsel.
__ADS_1
Tidak hanya kepada Burnan, Elang juga mengirimkan pesan kepada orang kepercayaannya.
Setelah itu, Elang langsung mematikan ponselnya karena tidak ingin diganggu dan tidak ingin ada panggilan masuk ke nomornya.
'Siapa lagi yang mengirimkan pesan tadi, ini pasti atas dasar kesengajaan untuk menghancurkan pernikahanku dengan Anin. Tapi aku tidak sebodoh itu, siapapun orangnya, bakal aku beri pelajaran.' Batin Elang dengan penuh kecurigaan.
Saat itu juga, ibunya Elang telah datang menghampiri bersama Lara.
"Bagaimana dengan istrinya Tuan Vitton, Pa?" tanya ibunya Elang.
"Belum di pindahkan ke ruang rawat pasien, Ma. Mungkin sebentar lagi, kita tunggu aja." Jawab Tuan Mawan.
Kemudian, ibunya Elang mengajak Lara untuk duduk. Rupanya disaat itu juga, pasien telah dipindahkan ke ruang rawat.
"Mama!" panggil Lara sambil lari kecil untuk mengejar ibunya yang hendak masuk ruang rawatnya.
Anin yang melihat serta mendengarnya, hanya diam dan melihatnya dengan rasa cemburu.
"Tidak usah cemburu, ada waktunya untukmu bertatap muka dan melepaskan segala kerinduan kamu pada orang tua yang sudah melahirkan kamu." Ucap Elang sambil menggenggam tangan istrinya.
"Ya Kak, yang dikatakan oleh Kak Elang itu, ada benarnya. Biarkan Lara yang menemuinya lebih dulu, kita mengalah." Timpal Didit ikut bicara.
"Ya, Kakak mengerti." Jawab Anin dan berjalan menuju ruang rawat.
Lara yang sudah berada di dalam ruang rawat, langsung melihat kondisi ibunya. Rupanya sang ibu sudah sadarkan diri dari pingsannya.
"Ma, maafkan Lara." Ucap Lara sambil memegang tangan milik ibunya.
"Papa dan Tian, mana?" tanya sang ibu teringat pada suami dan putranya.
Lara diam, bingung harus menjawabnya apa.
"Kamu sendirian?" tanya sang ibu kembali dengan suara yang lirih.
Lara menggelengkan kepalanya.
"Terus?"
"Keluarga Alexander, Ma." Jawab Lara yang akhirnya berterus terang.
__ADS_1
Seketika, ibunya teringat dengan janji yang sudah di sepakati untuk melakukan pertemuan dengan keluarga Alexander.
"Tuan Mawan dan istrinya kah?"
Lara mengangguk.
"Ya, Ma. Mereka sedang di luar, sebentar lagi akan datang bersama anak dan istrinya, serta menantu dan saudara laki-lakinya."
Sang ibu sontak kaget, yang mana menantunya Tuan Mawan adalah putri kandungnya. Lara yang tidak ingin membahasnya, memilih untuk berpura-pura tidak tahu, jika istrinya Elang dan juga adik iparnya adalah anak kandung dari ibunya.
Tentu saja, kabar seperti itu sangat menyakitkan untuk didengar oleh Lara. Lebih lagi, dia sendiri tau, jika dirinya bukanlah anak kandung dari ibunya.
'Benarkah aku akan bertemu dengan kedua anakku? Rahtair, andai saja kamu masih hidup, alangkah bahagianya aku jika dipersatukan kembali dengan keluarga kecil kita. Jujur, aku sudah muak dengan Vitton.' Batin istrinya Tuan Vitton.
"Ma, Mama kenapa?" tanya Lara saat mendapati ibunya terlihat seperti sedang melamun.
"Tidak apa-apa, Lara. Oh ya, kamu sudah makan? dijaga kesehatan kamu." Jawab ibunya, dan mengusap pipi kirinya dengan lembut.
"Sudah kok, Ma. Tadi Lara diajak makan siang oleh Nyonya Yenizar, istrinya Tuan Mawan."
"Ma," panggil Lara, dirinya masih memegangi tangan ibunya.
"Ya, ada apa, Lara?"
"Mama janji ya, tidak akan pernah meninggalkan Lara." Jawab Lara dengan ekspresinya yang terlihat tengah bersedih.
"Kenapa kamu berbicara seperti itu, Lara? apakah ada orang yang bergosip denganmu?"
Lara menggelengkan kepalanya, tidak mungkin juga jika dirinya menunjukkan kecurigaannya.
"Tidak apa-apa, Ma. Lara hanya takut saja, jika Mama akan meninggalkan Lara."
"Mama tidak akan meninggalkan kamu, sayang. Kamu adalah putri Mama, tetap akan Mama sayangi." Ucap sang ibu mencoba untuk meyakinkan putrinya.
"Janji ya, Ma." Kata Lara yang takut jika dirinya ditinggal pergi oleh ibunya, dan tidak lagi dianggapnya anak, pikirnya.
"Ya, Nak. Mama janji, tidak akan meninggalkan kamu." Jawab ibunya disertai anggukan dan juga meyakinkannya.
Anin dan Didit yang tengah berdiri diambang pintu, yakni sambil melihat langsung kedekatan Lara dengan ibunya.
__ADS_1
Merasa iri itu, yang jelas sudah pasti ada rasa cemburu. Anin dan Didit hanya bisa melihat sikap ibu kandungnya dengan rasa cemburu juga, sama seperti Lara. Tapi, karena takut ada sesuatu yang tidak mengenakan, memilih untuk bersabar.
Saat itu juga, ingatan Anin justru berada di kampungnya.