
'Kenapa aku menjadi rindu dengan Ibu Ami, aku merindukan kasih sayangnya dan juga perhatiannya. Andai saja Ibu Ami masih hidup, aku mempunyai sandaran kuat untuk menopang tubuhku ini yang terasa tak berdaya.' Batin Anin.
Elang yang mendapati istrinya tengah bersedih saat melihat pemandangan yang membuatnya iri, ia segera merangkul istrinya.
"Kamu tak perlu bersedih dan cemburu, karena Lara yang tinggal bersama Ibu kandungmu sejak dulu. Kamu tak perlu merasa iri, karena kamu sudah mendapatkan kasih sayang yang begitu tulus dari Ibu kamu di kampung. Bukan maksud aku untuk memanasi kamu, lalu apa untungnya kamu cemburu. Ya, aku mengerti akan keadaanmu, tapi tidak untuk menghakimi." Ucap Elang berusaha untuk meyakinkan istrinya, berharap tidak mudah terpancing dengan emosi.
"Yang dikatakan Kak Elang itu ada benarnya, tidak perlu kita jadikan diri kita ini orang yang paling mementingkan ego. Tapi, kita harus lapang, meski sangat menyakitkan sekalipun." Timpal Didit ikut angkat bicara.
"Kalau gitu, biar Mama dan Papa yang akan masuk duluan. Kalian bertiga tunggu saja di depan ruangan ini, mengerti."
"Baik, Ma." Jawab Anin dan Elang bersamaan, begitu juga dengan Didit.
Tidak ingin masuk secara tiba-tiba tanpa ada arahan, ketiganya memilih untuk menunggunya di luar untuk sementara waktu.
Tuan Mawan dan istrinya masuk kedalam ruang rawat pasien untuk melihat kondisi istrinya Tuan Vitton.
"Hai, Nyonya Vitton, bagaimana keadaan kamu? maafkan aku, jika aku baru saja datang. Tadi, aku ada perlu dengan suamiku." Sapa ibunya Elang yang baru saja masuk bersama suaminya.
Istrinya Tuan Vitton, pun tersenyum saat mendapatkan sapaan dari ibunya Elang. Perasaannya bahagia, yakni ternyata besanan dengan teman sendiri, seperti yang diharapkan oleh mendiang suami pertamanya.
"Hai, juga. Keadaan aku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Makasih ya, atas kebaikan darimu dan juga suami kamu." Jawab istrinya Tuan Vitton.
"Sudah diwajibkan untuk saling tolong-menolong, kita sama-sama mahluk Tuhan yang diwajibkan saling membantu satu sama lain." Kata ibunya Elang.
"Saya jadi malu, karena sudah merepotkan kalian berdua. Oh ya, dimana putramu dan juga menantimu, dan adik ipar putramu. Kata Lara, mereka ada di rumah sakit ini, kok tidak diajak untuk masuk, kenapa? panggil mereka, dan ajaklah untuk masuk." Jawab istrinya Tuan Vitton sambil celingukan untuk mencari keberadaannya.
__ADS_1
"Ada, mereka bertiga sedang menunggu di luar. Maafkan aku jika tidak mengajaknya untuk masuk kedalam ruangab ini langsung." Kata ibunya Elang menjelaskan dengan jujur.
Kemudian, istrinya Tuan Vitton menoleh pada Lara. Dilihatnya dengan lekat, seperti tak kuasa untuk mengungkapkan perasaannya.
Lara yang tahu apa yang akan dilakukan ibunya untuk bertemu kedua anaknya, Lara memberanikan diri untuk berkata pada ibunya.
"Lara sudah mengetahui semuanya, Ma. Bahwa istrinya Elang dan adik iparnya adalah anak kandung Mama, 'kan? Lara juga tahu, jika yang ada di hadapan Mama ini adalah bukan putri kandung Mama, tapi ... perempuan lain." Ucap Lara yang akhirnya memberanikan diri untuk mengungkapkan semuanya yang sudah ia pendam sejak mengetahui bahwa Anin dan Didit adalah anak kandung dari ibunya.
Sakit, tapi tak mempunyai pilihan lain selain menerima kebenaran yang ada. Kecewa, sedih, sakit, itu sudah pasti tengah dirasakan oleh Lara. Perempuan yang pernah akan melangsungkan pertunangan dengan lelaki pilihan orang tuanya, tetapi harapannya tertolak oleh pihak lelaki, karena sudah mempunyai cinta pertamanya.
Dan kini, kembali menelan kekecewaan saat mendapati bahwa sudah ditemukannya kedua anak kandung ibunya. Tentu saja, dirinya seakan tidak akan dianggapnya sebagai putrinya.
Lara meneteskan air matanya karena merasa cemburu, sedangkan dirinya hanyalah anak perempuan yang menjadi perusak rumah tangga, pikirnya saat mendapatkan kabar yang beredar.
Ibunya Elang yang mendengarnya, pun ikut bersedih.
"Papa, Lara yang mendengarnya sendiri saat sedang berada di ruang kerjanya dengan penuh amarah saat itu. Tak disadari, Papa tengah mabuk dan bicara sendiri dan mengungkapkan segala kekesalannya dan menyebutkan masa lalunya." Jawab Lara berterus terang dan berkata jujur.
Ibunya Elang maupun istrinya Tuan Vitton sama-sama terkejut mendengarnya.
Sang ibu segera meraih tangan putrinya, dan mendongak sambil menatapnya dengan serius.
"Apakah kamu akan membenci Mama saat kamu mengetahui kebenarannya? maafkan Mama, Lara." Ucap ibunya dengan napasnya yang terasa berat.
"Lara tidak bisa membenci Mama, karena Mama segalanya untuk Lara." Jawab Lara dan memeluk ibunya sambil membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Kamu anak Mama, selamanya." Ucap ibunya dan menc_ium pucuk kepala putrinya.
Ibunya Elang begitu terharu melihatnya, sungguh pemandangan yang begitu mengharukan. Meski sudah ditemukannya Kebenaran, tetap menyayanginya.
Tidak ingin terus menerus menangis karena takut akan kesehatan ibunya, Lara melepaskan pelukannya.
Bukan hanya itu saja, Lara sadar diri bahwa ada kedua anaknya yang juga menginginkan untuk bertemu dengan ibunya. Lara meyakinkan diri sendiri, bahwa dirinya kuat dan mampu untuk melewati semuanya.
Tak peduli dengan adik dan ayahnya, yang ia pedulikan hanyalah ibunya, ibunya, dan hanya ibunya semata.
"Ma, Lara izin keluar. Di luar ada kedua anak Mama, yang juga merindukan Mama dan ingin bertemu. Lara tidak ingin menjadi anak yang serakah, ada yang lain yang sama halnya seperti Lara." Ucap Lara yang tidak ingin menjadi sosok yang mementingkan diri sendiri.
Ibunya mengangguk, benar-benar seperti mimpi. Lara yang diketahui anak yang manja dan selalu ingin menang sendiri, kini seakan berubah total. Lara yang dikenalinya benar-benar berubah.
Kemudian, Lara dan ibunya Elang dan juga Tuan Mawan segera keluar. Tentu saja, memberikan waktu untuk Anin dan Didit untuk bertemu.
"Anin, Didit, sekarang giliran kalian berdua untuk masuk. Jangan gugup, mereka orang tua kandung kalian. Jadi, tenangkan dulu pikiran kalian, baru masuk kedalam. Dan kamu Elang, tunggu istrimu di depan pintu." Ucap ibunya Elang saat keluar dari ruang rawat.
Anin dan Didit langsung bangkit dari posisi duduknya, dan juga Elang.
Dengan penuh yakin dan tekadnya yang sudah bulat untuk bertemu dengan ibu kandungnya, Anin dan Didit bergandengan tangan saat hendak masuk ke ruang rawat ibu kandungnya.
Degdegan itu sudah pasti, tentu saja bercampur aduk rasanya saat akan bertemu ibunya yang sudah sekian lamanya tidak pernah bertemu sejak masih bayi.
"Kak, ayo kita masuk." Ajak Didit masuk ke ruang rawat ibunya.
__ADS_1
Gugup, takut, malu, sedih atau bahagia, Anin maupun Didit tidak bisa untuk menggambarkan perasaannya. Sungguh, keduanya benar-benar tidak tahu harus menyapa ibunya bagaimana.