Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Nekad


__ADS_3

Ketika sudah banyak penjelasan kepada Burnan, Elang meminta salah satu orang kepercayaan ayahnya untuk dimintai pertolongan, yakni mengajari Burnan dalam tugasnya sebagai sekretaris.


Saat sudah keluar dari ruang kerjanya, Elang kembali disibukkan dengan pekerjaannya yang belum di selesaikan.


Tidak terasa waktu yang sudah dilewatinya, ternyata sudah waktunya jam makan siang. Perut keroncongan karena hanya sarapan dengan roti dan susu, Elang segera memesan makan siangnya untuk diantarkan di ruang kerjanya.


"Permisi, Tuan." Ucap seorang OB yang diminta untuk mengantarkan pesanannya.


"Taruh saja di meja itu." Perintah Elang sambil menunjuk ke arah meja yang tidak jauh dari meja kerjanya.


"Baik, Tuan." Jawabnya, dan segera meletakkan nampan yang berisi porsi makan dalam satu piring beserta air minumnya.


Setelah itu, bergegas keluar dari ruang kerja milik Bosnya.


Kini, Elang sendirian saat jam makan siang. Sedangkan karyawan yang lainnya, berada di kantin untuk mengisi perutnya yang merasa lapar.


Begitu juga dengan Atun bersama kedua temannya tengah berjalan menuju kantin yang ada di dalam kantor.


"Yun, kok Elang gak kelihatan, ya?"


Dinda yang sedari tadi celingukan mencari keberadaan sosok Elang, sama sekali tidak mendapatinya.


"Ya gak lah Din, Elang kan, Bosnya. Yang pasti nih, dia istirahatnya di dalam ruang kerjanya. Bos kan, gampang. Tinggal pesan, datang tuh pesanannya tanpa harus menunggu lama." Jawab Ayun sambil berjalan.


"Hem. Apa kamu sudah lupa, Bos kita aja yang dulu makan siangnya juga di kantin bareng karyawannya." Kata Dinda yang mengetahui sosok Bosnya dulu.


"Lain Bos, lain juga aturannya. Sudahlah, ayo kita ke kantin." Ucap Nilam ikut menimpali.


Dinda tidak berkomentar, diam dan memilih berjalan menuju kantin yang ada di kantor.


Sedangkan di lain tempat, Anin tengah sibuk membantu ibu mertuanya mengerjakan pekerjaannya.


"Anin, sepertinya sudah waktunya untuk istirahat. Bagaimana kalau Mama ajak kamu pergi ke Restoran, soalnya Mama ada janji dengan seseorang."


"Tapi, Mama balik lagi ke butik ini, 'kan?"


"Gak, Mama mau langsung pulang. Soalnya sudah tidak ada kerjaan, sudah Mama serahkan dengan asisten kepercayaan Mama."

__ADS_1


"Padahal Anin masih betah di butik ini loh, Ma. Tapi, karena Anin belum terbiasa dan juga belum begitu dekat dengan semua karyawan, Anin ikut ajakan Mama saja kalau gitu."


"Ya udah, kamu siap-siap aja, dulu. Mama mau menyelesaikan kerjaan dulu. Nanti, kamu tunggu Mama di mobil saja."


"Ya, Ma. Maafkan Anin ya, Ma."


"Gak apa-apa, Mama cuma sebentar aja, cuma mau periksa doang." Kata ibu mertua, Anin mengangguk dan bergegas untuk bersiap-siap.


Lain lagi di tempat yang berbeda, perempuan paruh baya tengah duduk di belakang rumah sambil melamun, tentunya mengingat masa lalu yang sudah kelam.


"Andai saja kamu masih hidup, tidak akan menjadi seperti ini kehidupanku. Aku yang harus berjuang sendiri, tak ada penyemangat dalam hidupku. Kenapa kamu begitu tega, tidak mengatakannya langsung kepadaku, jika kedua anak kita masih hidup." Gumamnya sambil melihat kupu-kupu yang berterbangan di atas bunga-bunga yang indah.


Begitu sakit dan perih dalam perjalanan hidupnya, bertahun-tahun seperti tak dianggap istimewa di hadapan suaminya. Kekayaan yang sudah menutup jalan pikirnya yang sehat, hingga Tuan Vitton yang terus berambisi untuk mendapatkan kekayaan secara instan.


"Apa lebih baik aku datang langsung ke rumahnya Yenizar, apa ya? di sana, aku akan bertemu langsung dengan putriku. Sungguh, aku sangat merindukannya. Ibu mana yang tidak bersedih, jika ternyata anak-anaknya masih hidup." Gumamnya lagi yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kedua anaknya.


Karena tidak mempunyai pilihan, akhirnya memilih untuk bersiap-siap pergi ke rumah temannya.


Tidak ingin suaminya mencurigainya, memilih pergi di waktu jam kerja suaminya. Berharap, tujuannya tidak di ketahui oleh orang rumah, pikirnya.


Rasa yang sudah tidak sabar karena ingin bertemu, cepat-cepat untuk bersiap-siap. Setelah itu, segera pergi dari rumah.


"Ya, Nya. Kalau Bapak tanya kemana perginya, Bibi harus menjawabnya apa, Nyonya?"


"Bilang aja, lagi belanja, gitu ya Bi."


"Baik, Nya." Ucapnya setelah mengetahui kemana perginya sang majikan perempuannya.


Tidak ada yang perlu di khawatirkan, secepatnya segera pergi ke rumah yang akan dituju. Sedangkan asisten rumah kembali melanjutkan pekerjaannya.


Selama dalam perjalanan, mencoba melihat kendaraan yang ada dibelakangnya. Takutnya, ada anak buah suaminya yang terus mengikutinya.


Karena tidak ingin perginya diikuti oleh anak buah suaminya, sejenak berpikir untuk mencari ide yang bagus.


Setelah mendapatkan idenya, membelokkan mobilnya ke sebuah perbelanjaan, seperti yang dipesankan kepada asisten rumahnya.


'Aku harus ganti mobil, tidak mungkin jika aku masih menggunakan mobil yang aku bawa.' Batinnya yang menggunakan idenya.

__ADS_1


Agar tidak mencurigakan, mengitari Mall yang didatangi dan mencari kerumunan. Berharap, jejaknya sulit untuk di ikuti.


Setelah keluar dari Mall, cepat-cepat mencari ojek.


Selama perjalanan, tidak henti-hentinya untuk berdoa, agar selamat sampai tujuan tanpa harus diikuti oleh orang suruhan suaminya.


Cukup lama dalam perjalanan menuju kediaman keluarga Alexander, rupanya sampai juga di depan pintu gerbang yang menjulang tinggi dan besar.


"Pak, makasih ya, ini sisanya untuk Bapak." Ucapnya sambil menyodorkan uang untuk membayar ojek.


"Tapi, Bu, ini kebanyakan." Jawabnya saat menerima pembayaran.


"Tidak apa-apa, ini serius untuk Bapak." Ucapnya.


Karena tetap memberikannya uang lebih, mau tidak mau, si tukang ojek tidak bisa menolaknya.


"Kalau gitu, makasih banyak ya, Bu. Semoga Ibu dilancarkan rizkinya." Kata si tukang ojek.


Setelah mengantarkan sampai tempat tujuan, segera pergi untuk mencari pelanggan berikutnya.


Saat si tukang ojek pergi, cepat-cepat segera menekan bel pintu.


"Maaf, anda siapa?" tanya seorang satpam sambil memperhatikan penampilannya.


Saat itu juga, Istri Tuan Mawan bersama menantunya kebetulan sampai di depan pintu gerbang saat ada istri Tuan Vitton datang.


"Seperti istrinya Tuan Vitton, benarkah?" gumam ibunya Elang sambil memperhatikan lewat dalam mobil.


Karena rasa penasaran, akhirnya membuka kaca jendela mobil untuk memastikannya.


"Nyonya Vitton, benarkah?"


"Yenizar, ya ini aku, istrinya Vitton." Jawabnya dengan girang, pasalnya tidak capek-capek untuk memberi penjelasan kepada kedua satpam keluarga Alexander, pikirnya.


"Kamu sendirian, dimana mobilmu?" tanya ibunya Elang sambil celingukan mencari keberadaan mobil milik istrinya Tuan Vitton.


"Aku naik ojek, ceritanya sangat panjang." Jawabnya.

__ADS_1


"Ya udah kalau gitu, naik lah ke mobilku." Kata ibunya Elang, dan memintanya untuk naik ke mobilnya.


Sedangkan Anin tidak begitu memperhatikan siapa orangnya yang tengah berdiri di depan pintu gerbang, ia hanya memperhatikannya dengan samar.


__ADS_2