Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Akhirnya bertemu


__ADS_3

Ayun yang malas mendengar keluh kesah dari Dinda, memilih untuk makan siang dan segera beristirahat. Begitu juga dengan Nilam, sama halnya yang dilakukan oleh Ayun untuk makan siang bersama.


"Din, makan dulu gih. Entar perut kamu keroncongan loh, buruan sini." Ajak Nilam sambil membuka kotak nasinya.


"Ya loh, Din. Nanti perut kamu sakit loh, kita makan dulu yuk. Udah deh, jangan mikirin Elang mulu. Positif thinking aja, tinggal beberapa jam lagi." Timpal Ayun yang juga mencoba untuk membujuk Dinda.


"Ya loh, Din. Habis makan, kita langsung istirahat. Percaya aja deh sama aku, gak lama kok kalau nunggunya sambil tidur." Ucap Nilam yang juga ikutan membujuk seperti Ayun.


Setelah dipertimbangkan, akhirnya Dinda mau nurut dengan ajakan kedua temannya.


Sambil menikmati makan siang, Dinda tidak lepas untuk mengamati jam tangannya. Sampai tidak terasa, semua dapat menghabiskan porsinya masing-masing.


Sesuai ajakan Nilam, setelah makan, langsung mencuci muka dan menggosok gigi. Kemudian, dilanjutkannya untuk beristirahat.


Rasa kantuk karena lelah dan juga capek pikiran, tidak terasa di luar rumah sudah gelap dan banyak lampu yang menyala.


Ayun yang tersadar dari tidurnya, ia langsung meraih ponselnya dan mengecek pesan masuk.


Benar saja, ternyata Burnan telah mengirimkan sebuah pesan kepadanya. Cepat-cepat, Ayun menggeser layar ponselnya. Kemudian, ia membuka pesan masuk dari teman sekolahnya.


"Yang benar aja ini Burnan, masa ya sudah menunggu di cafe." Gumam Ayun, tentu saja dapat ditangkap oleh Nilam.


"Burnan udah di cafe?" tanya Nilam, Ayun mengangguk.


"Ya, pesan masuknya memang gitu, Nil. Terus, bagaimana ini? kita mau langsung berangkat kah?"


"Ya iya lah, masa ya, kita cancel."


"Kalian berdua ngomongin apaan sih, berisik banget deh." Timpal Dinda sambil mengucek kedua matanya.


"Lihat noh, jam dindingnya." Jawab Ayun sambil menunjuk ke arah jam dinding.


Dengan kilat, Dinda langsung melihatnya. Sungguh sangat terkejut saat melihat jarum jam yang sudah menunjuk ke angka 7.


"Apa! sudah malam?"


kedua temannya, pun mengangguk.


"Kalian berdua gimana sih, kenapa sampai kebablasan gini, coba. Ah, payah banget kalian ini. Jangan bilang, kalau malam ini kita gagal untuk bertemu dengan Burnan."


Ayun maupun Nilam, keduanya sama-sama menggelengkan kepala.

__ADS_1


"Buruan mandi, dan bersiap-siap untuk berangkat. Aku sudah mengirimkan pesan kepada Burnan untuk menunggu kita, jawabannya siap untuk menunggu."


"Serius?"


"Nggak! ya serius lah, buruan ayo kita bersiap-siap. Mandinya jangan lama-lama, karena kita harus gantian." Jawab Ayun, tak lupa mengingatkan.


"Ya deh, ya." Kata Dinda yang lebih awal untuk membersihkan diri.


Sedangkan kedua temannya memilih untuk mengalah. Sambil bersiap-siap, Ayun dan Nilam menunggu Dinda selesai mandi.


Tidak memakan waktu yang lama, akhirnya dilanjut bergantian mandinya. Selesai mandi dan sudah merasa rapi dengan penampilannya masing-masing, ketiganya segera berangkat ke tempat tujuan.


Dengan rasa ketidaksabaran, Dinda kembali tampak gelisah.


"Stop! kita berhenti disini aja, Pak." Ucap Ayun menghentikan mobil Bus yang dinaikinya.


Dengan spontan mendadak mengerem, hampir saja menabrak mobil yang ada di depannya.


"Kalau berhenti tuh, jangan dadakan begini, Neng. Kalau supirnya kaget dan menambahkan kecepatannya, bagaimana? pikirkan penumpang yang lainnya. Jangan seenaknya sendiri, tidak mau mikir akibatnya." Ucap salah satu seorang laki-laki yang statusnya sebagai penumpang.


"Ya, Mas, maaf. Tadi saya banyak pikiran, sekali lagi saya meminta maaf." Jawab Ayun merasa bersalah.


Dinda yang tampak emosi, ingin rasanya menyerang. Tapi, dirinya telah sadar, bahwa sedang tidak tinggal di tanah kelahirannya.


"Ya, Mas, sekali lagi saya minta maaf." Jawabnya sebaik mungkin.


Setelah itu, Ayun dan kedua temannya segera turun dari mobil Bus. Karena tidak tahu alamatnya dengan jelas, Nilam maupun Ayun dan Dinda, sama-sama celingukan sambil memperhatikan sisi kanan dan kiri untuk memastikan tempat yang sudah disebutkan oleh Burnan.


"Yun, sepertinya cafe yang dimaksudkan oleh Burnan, itu deh. Coba kamu perhatikan tempatnya, benar atau tidaknya." Kata Nilam sambil menunjuk arah cafe yang dimaksud.


Ayun maupun Dinda, sama-sama memperhatikannya. Karena ingin memastikannya dengan jelas, Ayun membuka ponselnya untuk mengecek pesan dari Burnan yang memberi alamat tersebut.


"Ya, Benar. Yuk, kita ke sana." Jawab Ayun dengan yakin.


"Ya udah, ayo kita ke sana. Tau gak sih, aku udah gak sabar nih." Ucap Dinda dengan jujur, dan tidak ada yang ditutup tutupinya.


Tidak ada lagi yang diragukan oleh ketiganya, Nilam dan kedua temannya segera menyebrang jalan.


Sampainya di depan Cafe, Ayun dan kedua temannya sama-sama celingukan untuk mencari keberadaan Burnan.


"Hei! Ayun, Nilam, Dinda, sini." Panggil Burnan dengan suara yang cukup keras.

__ADS_1


Alhasil, ketiga temannya langsung menoleh. Untuk mengkode, Burnan melambaikan tangannya untuk memanggilnya.


"Ya tuh, si Burnan. Yuk, kita samperin." Ucap Nilam, dan kedua temannya ngikutin Nilam dari belakang.


"Hai, apa kabarnya kalian?" sapa Burnan dengan ramah.


"Kabarnya kita bertiga sangat baik, seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri, bagaimana kabarnya? lama tak jumpa, tambah banyak perubahan aja, kamu." Jawab Nilam mewakilkan kedua temannya, tak lupa memberi pujian untuknya.


"Hem, sama aja aku mah, masih seperti yang dulu. Oh ya, silakan duduk. Kalian bertiga mau pesan apa?"


"Apa aja deh, penting sama." Jawab Ayun yang tidak ingin merepotkan temannya, yakni kepada Burnan.


"Tunggu ya, aku pesankan dulu. Maklum, cafenya tidak semewah yang lainnya, ongkos punyaku berat." Kata Burnan berterus terang.


"Permisi, Mas, Mbak." Ucap seorang pelayan cafe.


"Ya, ada apa?"


"Tadi kami dapat pesan, bahwa kalian semua di gratiskan berada di cafe ini. Jadi, tidak perlu mengeluarkan ongkos sepeserpun." Jawabnya.


"Kok gitu, Mbak?" tanya Nilam penasaran.


"Ini atas pesan dari orang yang mengatasnamakan, Elang." Jawabnya.


Keempatnya kaget mendengarnya. Memang tidak seberapa, tapi sangat berarti uang sekecil apapun untuk keempat temannya Elang. Ditambah lagi, hanya menjadi seorang perantau dari daerah lain. Tentu saja, berapapun besar kecilnya nominal, sangatlah berharga.


"Dari Elang ya, Mbak. Makasih banget ya, Mbak." Ucap Nilam berterima kasih.


"Kalau begitu, kami permisi." Jawabnya berpamitan, tentu saja untuk melanjutkan pekerjaannya.


Setelah memesan, Burnan membenarkan posisi duduknya.


"Kita mau mengobrol dari mana dulu nih? atau, ada yang mau kalian sampaikan dari segi pertanyaan."


Akhirnya, Burnan membuka obrolan.


Dengan percaya diri dan juga rasa penasarannya, Dinda memberanikan diri untuk bertanya.


"Burnan, memang bener ya, kalau Elang itu sudah menikah."


"Ya, Elang sudah menikah." Jawab Burnan yang mulai berhati-hati untuk menjawab pertanyaan dari Dinda.

__ADS_1


"Kalau Anin, bagaimana kabarnya? kamu tahu kan, dimana dia sekarang? atau, dia sudah menikah dengan Andika."


Kini, giliran Ayun yang bertanya, lantaran rasa penasarannya.


__ADS_2