Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Merasa kesal


__ADS_3

Anin yang mendengarnya, pun langsung memegang tangan suaminya.


"Tidak apa-apa, nanti kita konsultasi langsung pada dokternya. Kamu tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja. Percayalah denganku, sayang." Kata Anin yang meyakinkan suaminya.


"Ya Kak, sebaiknya Kak Anin konsultasi dulu dengan dokter. Takutnya terjadi apa-apa dengan kondisi Kakak." Timpal Didit ikut bicara.


Sedangkan ayah mertuanya tidak memaksa menantunya, semua bisa dikonsultasikan sama dokter, pikir Tuan Mawan.


"Ya, Dit. Nanti Kakak akan konsultasi terlebih dahulu, dan tidak perlu untuk dikhawatirkan." Kata Anin.


Setelah itu, keempatnya segera menemui dokter.


Sedangkan dalam ruangan rawat pasien, Lara tengah memandangi wajah ibunya yang terlihat pucat dengan tubuhnya yang terbaring lemas di atas ranjang pasien.


Hatinya begitu sakit saat melihat kondisi ibunya yang dinyatakan kritis. Lara meneteskan air matanya, hatinya begitu hancur saat harus mendapati kenyataan yang begitu menyakitkan.


Ambisinya yang begitu besar mendapatkan sosok Andika untuk dijadikan suaminya, tetapi kenyataannya harus kehilangan.


Dan kini, dirinya kembali menerima kenyataan pahitnya, yakni ibunya adalah ibu kandung dari perempuan yang sudah ia benci karena sebuah hubungan asmara.


Sedih, penyesalan, kekecewaan, tengah menjadi satu untuk dirasakannya.


Ibunya Elang yang melihat Lara tengah menangis, segera mendekatinya. Kemudian, memeluknya untuk menenangkan pikirannya agar tidak larut dalam kesedihan.


"Tante tahu yang sedang kamu rasakan, Nak. Bersabarlah, mungkin ini ujian untukmu." Ucapnya sambil memeluk Lara.


Setelah itu, Lara melepaskan pelukannya.


"Lara merasa hina, Tante. Lara bukanlah anak yang baik, dan juga bukan anak dari Mama Rahel, tetapi Anin lah putrinya." Jawab Lara.


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu, setiap orang mempunyai masa lalu. Bahkan, tidak ada larangan untuk memperbaikinya. Tante tahu, kamu anak yang baik. Percayalah dengan Tante, Mama kamu akan tetap menyayangimu dan tidak akan pernah berubah." Ucap ibunya Elang mencoba untuk meyakinkannya.


Lara mengangguk, sedangkan ibunya masih berbaring dan belum juga sadarkan diri.

__ADS_1


Dilain tempat, tepatnya di kantor. Dinda bersama kedua temannya sudah berada didalam kantor, sosok Dinda celingukan sambil menunggu sosok Elang terlihat dari penglihatannya.


Nilam segera menghampirinya.


"Kamu ngapain sih Din, perasaan dari tadi kamu tuh bolak balik gak jelas gitu. Kamu sedang cari siapa, Elang?"


"Ya, siapa lagi." Jawab Dinda sambil celingukan tanpa merasa capek sedikitpun.


Saat itu juga, Dinda mendapati Burnan yang baru saja keluar dari kantin.


"Burnan!" panggil dengan nada teriak, dan langsung mengejar.


Burnan yang mendengar namanya dipanggil, ia segera menoleh ke sumber suara.


"Dinda, ada apa?" tanya Burnan saat melihat Dinda yang sudah di dekatnya.


"Gak ada apa-apa, aku cuma mau tanya aja." Jawab Dinda sambil mengatur pernapasannya karena mengejar Burnan.


"Memangnya kamu mau tanya apa, Din?" tanya Burnan kembali.


Dengan percaya dirinya, Dinda bertanya langsung pada Burnan, yang kini sudah menjadi sekretarisnya.


"Oh, Elang. Memangnya ada perlu apa kamu mencari dia? hari ini dia gak berangkat ke kantor karena ada urusan keluarga bersama istrinya." Jawab Burnan dan balik bertanya.


"Oh, gitu ya. Ya udah ya, makasih."


"Tunggu."


"Apa ada yang ingin kamu sampaikan, nanti aku sampaikan pesan darimu."


"Tidak perlu, aku cuma tanya aja. Soalnya dari tadi aku tidak melihatnya, jadi aku tanya langsung sama kamu."


"Sudahlah Dinda, kamu jangan mengganggu rumah tangga teman kamu sendiri. Elang dan Anin sudah berjodoh, tak perlu kamu masuk dalam kehidupannya." Ucap Burnan berusaha untuk mengingatkan.

__ADS_1


"Aku tidak akan menyerah, Burnan. Selagi masih ada kesempatan, aku akan terus mendapatkannya. Kamu tahu tidak sih, aku tuh sudah menyukainya dari dulu, sebelum Anin menyukainya. Yang bikin aku kesal, setelah tidak berjodoh dengan Andika, lantas kenapa mesti deketin Elang, coba." Jawab Dinda masih merasa dongkol.


"Kata siapa yang mendekati Elang itu si Anin, tahu dari mana kamunya? aku kasih tahu nih sama kamu. Elang sudah dari dulu menyukai Anin, bahkan sampai sekarang. Kalaupun Elang tidak benar-benar menyukai Anin, dia sudah menikah dari dulu dengan perempuan yang sama derajatnya dengan keluarganya. Tetapi kenyataannya tidak, Elang tetap mempertahankan perasaannya dan cintanya pada Anin."


Dinda yang mendengar penuturan dari Burnan, hatinya terasa panas.


'Tidak, aku tidak akan membiarkan Anin bahagia. Apapun caranya, aku harus bisa dapetin Elang.' Batin Dinda sambil memikirkan cara untuk merebutnya.


Burnan yang merasa nasehatnya diabaikan dan tidak didengar, ia lebih memilih untuk pergi dari hadapan Dinda. Menyingkir dan menghindari itu akan jauh lebih baik daripada harus berdebat, pikirnya.


Lain lagi di rumah sakit, Anin yang sudah diizinkan untuk mendonorkan darahnya karena atas kemauannya yang tidak bisa di rubah, Elang hanya bisa pasrah. Tetap saja, dirinya selalu mengawasi istrinya.


Satu persatu setelah mendapatkan izin untuk mendonorkan darahnya kepada ibu kandung Didit dan Anin, keempatnya mulai dilakukan untuk mendonorkan darahnya.


Badan terasa lemas karena usai donor darah, Anin berusaha untuk kuat. Saat itu pula, Elang mengajak istrinya untuk makan siang.


Didit yang merasa dapat mendonorkan darah untuk ibu kandungnya, juga ikut makan siang bersama.


"Sayang, gimana keadaan kamu? kalau kamu merasa lemas, bilang saja. Awas loh, kalau sampai kamu membohongiku." Ucap Elang sambil menatap istrinya cukup serius.


Anin tersenyum pada suaminya, Elang sendiri hanya mengernyit.


"Tenang aja, aku baik-baik saja. Memang sih sedikit lemas, tapi itu wajar. Percaya deh sama aku, nanti juga baikan. Kamu sendiri bagaimana? awas juga kalau ternyata kamu yang sebenarnya pura-pura kuat." Jawab Anin dan balik menuduh suaminya, lagi-lagi Elang kembali mengernyit sambil menatap wajah ayu milik istrinya.


"Sudah ah, habiskan dulu makannya. Nanti sehabis makan siang, kita temui Mama kamu." Ucap Elang, Anin mengangguk.


Sedangkan Didit dan ayahnya Elang hanya menjadi pendengar setia sambil menikmati makan siangnya.


Berbeda lagi di kediaman rumah Tuan Vitton, tengah mengompres luka yang didapatkan dari Didit.


"Si_alan! ternyata kuat juga tenaga anak itu, tidak akan aku biarkan lolos begitu saja. Lihat saja, bakal aku balas perbuatannya yang sudah bikin aku babak belur." Gerutunya sambil menahan rasa sakit pada bagian sudut bibirnya dan juga tengkuk lehernya yang mendapat serangan dari Didit.


Begitu juga dengan Tuan Vitton, dirinya benar-benar merasakan sakit pada kedua sudut bibirnya dan juga rahangnya karena sebuah pukulan yang melesat saat akan menonjok sudut bibirnya.

__ADS_1


"Awas! kau Tuan Mawan, aku tidak akan membiarkan kamu begitu saja. Suatu saat nanti, aku akan menghancurkan keluarga kamu, yakni lewat anak dan menantumu." Ucapnya penuh kesal sambil menahan rasa sakitnya.


__ADS_2