Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Ketakutan


__ADS_3

Tidak ada pilihan lain, Ayah Andika akhirnya mengizinkan Anin dengan terpaksa, tetap saja masih menyimpan kebencian terhadap orang yang sangat dicintai oleh putranya.


Setelah mendapatkan izin dari orang tua kekasihnya, Anin dapat bernapas lega, dan langsung dibantu Didit untuk melihat kondisi Andika lewat kaca jendela.


Saat Anin sudah dibantu berdiri dengan kondisi infus yang terpasang, Didit masih berjaga-jaga didekat kakaknya. Takutnya akan ada sesuatu hal yang tidak diinginkannya.


Seketika, Anin menitikkan air matanya.


"Maafkan aku, sudah menyelamat nyawaku. Ini semua salahku, yang begitu egois. Andai saja aku tidak ikutan terburu-buru, mungkin kamu tidak akan mengalami hal buruk yang seperti ini." Ucap Anin dengan lirih, sambil melihat sang pacar tengah berbaring lemas dan dibantu alat-alat medis.


Anin semakin terisak ketika melihatnya, dadanya juga ikut terasa sesak. Sungguh, semua diluar dugaannya. Ingin berteriak sekencang mungkin untuk meminta maaf, Anin sadar berada di rumah sakit.


Didit mengusap punggungnya pelan, agar mereda isak tangisnya.


"Semua sudah takdir, hidup dan mati. Kita hanya menjalani dan berusaha melakukan yang terbaik, meski nyawa yang harus menjadi taruhannya. Doakan, semoga Kak Andika segera sembuh dan pulih dari sakitnya." Ucap Didit.


"Kakak menyesal, dan tidak akan memaafkan diri Kakak sendiri, jika terjadi sesuatu padanya." Kata Anin yang melihat kekasihnya lewat kaca.


"Tidak baik mengutuk diri seperti itu, hidup dan mati tidak bisa kita hindari."


"Sekarang juga, kalian pergi dari sini. Aku sudah muak melihat kalian berdua, pembawa sial pada putraku." Ucap ayah Andika mengagetkan dengan suaranya yang cukup keras dan terdengar membentak.


Anin dan Didit langsung menoleh.


"Air mata buaya, tidak akan pernah membuat kami luluh. Pergi kalian sekarang juga, cepat." Sambungnya lagi untuk mengusir Anin dan Didit.


"Ya, kami akan pergi. Semoga putra Bapak segera membaik keadaannya, dan sembuh dari sakitnya." Jawab Anin berusaha untuk tetap tenang, meski rasanya begitu sakit saat mendengar caci maki dari ayah pacarnya sendiri.


Ayah Andika tidak menghiraukannya, beliau langsung kembali ke tempat duduknya.


Karena masih gelap dan waktunya untuk istirahat, Didit menyarankan kakaknya untuk beristirahat. Anin tidak menolaknya, karena dirinya memang terasa ngantuk dan juga badannya mulai terasa sakit.


Begitu juga dengan Didit, sama halnya yang dirasakan oleh kakaknya, sakit pada bagian anggota badannya. Kemudian, Didit memilih untuk beristirahat di lantai beralaskan tikar.

__ADS_1


Karena rasa kantuknya, akhirnya keduanya sama-sama terlelap dari tidurnya hingga pagi hari menyambutnya.


Sedangkan di ruangan lain, Andika mulai sadarkan diri.


"Anin, Nin ... Aaanin." Panggil Andika berulang kali saat Dokter akan memeriksa keadaannya.


"Nin ... Aanin." Panggilnya lagi yang terus menyebut nama kekasihnya.


Sang Dokter segera menyuruh asistennya untuk memanggilkan nama yang disebutkan oleh pasien.


"Maaf, Tuan. Pasien memanggil-manggil nama Anin, apakah orangnya berada disini? keadaan pasien sangat kritis." Ucapnya pada ayahnya Andika, Tuan Herman.


"Apa! mencari Anin? kenapa tidak mencari ayahnya? dimana akal pikirannya. Sudah kritis, masih saja cari anak pembawa sial itu."


"Tuan, jika yang bernama Anin ada di rumah sakit ini, tolong panggilkan. Mungkin ada sesuatu yang akan disampaikan, permisi." Ucapnya dan segera kembali masuk ke ruangan.


"Mana orangnya? sudah ketemu yang bernama Anin." Tanya Dokter yang sedari tadi mendengar pasiennya yang terus memanggil dan menyebut nama Anin.


"Kamu tunggu saja di sini, awasi pasien. Saya harus bicara dengan ayah pasien." Perintah Dokter, dan segera keluar untuk menemui ayah Andika, yang tidak lain temannya sendiri.


"Apa kamu sudah gila, membiarkan putramu meregang nyawa? dimana pemilik nama Anin, Tuan Herman? cepat pertemukan putramu dengan pemilik nama Anin. Jangan sampai kamu menyesalinya."


Sedikit emosi dengan sikap ayahnya Andika, seorang Dokter terpaksa memarahinya.


"Aku tidak akan menyesalinya, karena aku sangat membenci pemilik nama Anin. Aku tidak akan membiarkannya lolos, jika sampai terjadi sesuatu pada putraku." Kata Tuan Herman, ayah Andika.


Sang dokter menggelengkan kepalanya, terasa geram mendengar ocehan dari orang yang keras kepala.


"Sudahlah, Pa. Pertemukan saja, Andika dengan perempuan yang bernama Anin itu." Timpal istrinya ikut menyarankan.


Sedangkan sang dokter, langsung kembali untuk melihat kondisi pasiennya.


Lagi-lagi, Andika terus memanggil nama Anin. Tidak ada pilihan lain, selain membiarkan putra temannya terus memanggil nama perempuan yang disebutkan. Kasihan, tapi mau bagaimana lagi? tidak bisa mencari keberadaan yang bernama Anin.

__ADS_1


Ayah Andika yang mendapat bujukan dari istrinya, dengan terpaksa menurutinya. Saat itu juga, Tuan Herman memanggil Anin yang sedang menikmati sarapan pagi bersama adiknya.


"Bapak beneran, saya diizinkan untuk bertemu dengan Andika?" tanya Anin yang seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh ayah pacarnya.


Didit sedikit ragu, takutnya sang Kakak akan dikerjainnya.


"Aku serius, putraku sepertinya ingin bertemu denganmu. Dari tadi memanggil-manggil namamu, cepat kamu temui Andika, selagi aku masih memberi kesempatan padamu. Tetap saja, aku akan menuntut kamu, jika sampai terjadi sesuatu pada putraku." Jawab ayah Andika, tak lupa memberi ancaman pada kalimat terakhirnya.


Anin yang tidak peduli dengan ancaman dari ayah pacarnya, yang terpenting bisa bertemu dan melihat langsung kondisi pacarnya lewat kedua matanya.


Tidak mau menunggu lama, Anin segera membereskan sarapan paginya dan dibantu Didit untuk duduk di kursi roda. Kemudian, mengantarkan kakaknya untuk menemui Andika.


Dengan perasaan yang tidak karuan, Anin tidak henti-hentinya untuk berdoa demi kesembuhan pacarnya.


Sampai didalam ruangan, Anin kembali meneteskan air matanya ketika melihat orang yang dicintainya tengah berbaring lemas.


Anin tetap duduk di kursi rodanya dengan infus yang masih terpasang.


Anin menangis sesenggukan ketika sudah berada di dekat kekasihnya. Kemudian, perlahan-lahan, Andika meraih tangan Anin. Wajah yang terlihat pucat, membuat Anin semakin bersedih.


"Aa-Anin. Ma-maafkan a-a-aku, jik-jik-ka a-ku, a-ada sal-lah sam-ma kam-mu." Ucap Andika dengan suara yang terbata-bata karena menahan rasa sakit yang begitu dalam.


Anin semakin terisak dengan tangisnya, dan menggenggam erat tangan Andika.


"Aku yang seharusnya minta maaf denganmu, karena aku, kamu menjadi seperti ini. Aku menyesal, seharusnya aku mencegah kamu. Maafkan aku yang sudah menjadikan kamu terluka seperti ini." Jawab Anin yang terus menyalahkan diri sendiri.


Andika mengusap rambutnya, sebisanya untuk bicara dengan mudah, meski sedikit terbata-bata karena menahan rasa sakit.


"Ja-jaga di-ri ka-mu bab-baik-baik, jik-ka aku tid-dak la-gi ada di sam-pingmu. A-ku sa-sangat men-cintaimu, An-nin." Ucap Andika disaat hembusan terakhirnya.


Anin sangat terkejut melihat sang kekasih yang tiba-tiba seperti pingsan dan tidak sadarkan diri.


"Tidak! Andika, bangun. Andika, bangun." Teriak Anin saat mendapati kekasihnya tidak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2