
Dengan berat hati, Andika membiarkannya pulang hanya berdua dengan adiknya.
"Maafkan aku, Anin. Jika aku sudah memberi kekecewaan padamu." Ucapnya lirih sambil menatap lurus pandangannya, yakni pulangnya sang ke kasih dengan saudaranya.
Tidak ada cara lain selain menuruti keinginan sang pacar, Andika berusaha keras untuk mendapatkan restu dari orang tuanya, apapun itu.
Sedangkan Anin dan Didit sudah sampai di rumah majikannya, semua terlihat sepi di ruangan yang sudah di dekorasi mewah untuk acara lamaran.
Anin berhenti sejenak, terasa berat baginya untuk melangkahkan kakinya.
Saat itu juga, sudah berdiri tegak sosok laki-laki yang tidak lain yaitu, Tian Guntoro, adik dari Lara.
"Puas! kalian berdua, melihat acara pertunangan kakakku hancur." Ucapnya dengan suara yang cukup keras.
"Maaf,"
"Maaf kau bilang. Kata maaf saja tidak cukup untuk menghancurkan acara keluargaku dan kebahagiaan kakakku, paham."
"Apa kamu tidak menyelidiki sebelum pertunangan berlangsung? aku yakin, pasti sudah kalian selidiki. Tidak mungkin, orang kaya sepertimu tidak penasaran dengan sosok Andika yang berasal dari kampung." Sambar Didit yang sudah mulai geram, ketika sang kakak mulai direndahkan.
Tian mengepalkan kedua tangannya, seraya hendak melayangkan tinjuan-nya.
"Awas saja kalian, kalau sampai terjadi sesuatu pada ibuku. Aku tidak akan segan-segan untuk membalaskan dendam padamu. Sekarang juga, kalian tinggalkan tempat ini."
"Dengan senang hati, kami akan meninggalkan tempat ini."
"Bagus lah, cepat beresin barang-barang kalian berdua, dan segera tinggalkan tempat ini." Ucap Tian mengusirnya.
Didit dan Anin segera pergi, karena tidak ingin masalah semakin berlarut.
"Nak Anin, Nak Didit, kalian berdua beneran mau pergi dari rumah ini? kalian berdua nanti tinggal dimana? ini sudah malam." Ucap Bi Asih merasa kasihan.
"Ya, Nin. ini sudah malam loh, apa tidak sebaiknya besok aja perginya?" tanya Mbak Nana yang merasa kasihan melihat Anin Didit yang menerima nasib sial.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kalian tinggal di rumah Bibi, kebetulan rumah Bibi kosong. Nanti Pak Tejo yang akan mengantarkan kalian berdua, mau ya?"
"Tidak usah, Bi. Kita nanti kita cari penginapan saja, besok kami juga akan langsung pulang ke kampung." Jawab Anin menolak.
"Jangan dulu, Nak. Nanti kalau Nyonya tanya, bagaimana?"
"Katakan saja sama Nyonya, jika saya pulang ke kampung halaman. Soal pertunangan, saya tidak akan ikut campur. Keputusan ada pada Andika dan Nona Lara." Jawab Anin asal, karena tidak mungkin jika menjawabnya dengan kalimat yang bisa menjadi gaduh.
"Tapi, Nak Anin. Tidak baik seorang perempuan berada di jalanan. Meski ditemani seorang adik laki-laki, namanya kejahatan, kita tidak tahu, Nak." Ucap Bi Asih mencoba untuk mengingatkan.
"Ya, Nin. Yang dikatakan Bi Asih itu, benar. Dan kamu Dit, apa kamu tidak kasihan dengan kakak kamu? bergadang semalaman di jalanan." Timpal Mbak Nana ikut bicara dan mengingatkannya, agar Didit dan Anin memikirkan lagi mengenai keselamatan.
Sejenak, Didit berpikir dan mencernanya. Kemudian, menoleh pada kakaknya.
'Ya, yang dikatakan Bi Asih dan Mbak Nana memang ada benarnya. Tidak mungkin aku membiarkan Kak Anin bergadang di jalanan, dan pasti banyak pikiran, lebih lagi dengan Kak Andika.' Batin Didit mukai memikirkan kondisi kakaknya.
"Ya, Bi. Saya Terima tawaran dari Bibi, tapi hanya malam ini saja, saya dan Kak Anin menginap di rumah Bibi." Ucap Didit yang akhirnya menerima ajakan dari Bi Asih.
Bi Asih dan Mbak Nana tersenyum lega, karena dapat membujuknya.
"Kalau kamu terus-menerus memikirkan tidak ingin merepotkan orang lain, bagaimana caranya orang lain bisa menolong dan membantu kamu dalam kesulitan, Nak?"
"Saya hanya malu aja, Bi. Karena saya dari awal sudah banyak merepotkan."
"Tidak kok, Nak. Ya sudah, sekarang bereskan barang-barang bawaan kalian berdua. Bibi mau panggil Pak Tejo untuk mengantar kalian ke rumah Bibi." Ucap Bi Asih yang langsung memanggilkan Pak Tejo.
Sedangkan di kediaman Putra Utama, Andika tengah mengemasi barang-barangnya untuk dibawa pergi ke kampung, tempat dimana dirinya dibesarkan oleh ibunya.
Tak sadar, jika sang ayah sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Papa tidak akan mengijinkan kamu pergi dari rumah ini, titik." Ucapnya dengan suara meninggi, Andika langsung menoleh ke belakang.
Saat itu juga, Andika menatap ayahnya.
__ADS_1
"Papa benar-benar egois, selalu ingin menang sendiri dan merasa paling benar, sama seperti Kakek. Apa Papa sudah lupa? mengabaikan aku dan Mama, hidup di kampung tanpa tanggung jawab dari seorang suami yang kini berstatus seorang ayah. Tanpa Papa sadari, perbuatan Papa sangat keji dan sudah menyakiti hati Mama. Aku tidak akan pernah memaafkan Papa sampai kapanpun, sampai Papa mau merestui hubunganku dengan Anin." Jawab Andika tak kalah marahnya dengan sang ayah.
"Makanya, sebelum kamu menikahi perempuan kampung itu, tinggalkan dia sekarang juga. Dia itu hanya perempuan miskin, dan tidak akan bisa meninggikan derajat kamu. Yang ada, kamu akan menyesal seumur hidupmu, jika kamu masih nekad untuk menikahinya." Ucap sang ayah dengan suara yang cukup bising untuk didengar.
"Terserah Papa mau bilang apa, yang jelas aku akan menikahi Anin, apapun alasannya." Jawab Andika yang tidak kalah menentangnya.
Saat itu juga, sang ayah menahan sesaknya di didalam dada. Rasa sakit dan juga sesak, kini menjadi satu yang dirasakan oleh beliau.
"Pa! Papa." Panggil Andika dengan kepanikan saat sang ayah kesusahan untuk bernapas, dan segera membawanya ke rumah sakit.
Sampainya di rumah sakit, Beliau langsung ditangani oleh Dokter spesialis.
Andika mondar-mandir menunggu hasil pemeriksaan.
Duduk, salah. Berdiri, juga salah. Andika terus gelisah, begitu lamanya menunggu sang ayah yang tengah berada di ruang pemeriksaan.
"Saudara Andika, diminta untuk masuk kedalam." Perintah dari seorang perawat untuk memanggil Andika masuk dan menemui orang tuanya.
Andika mengangguk, dan masuk kedalam ruang pemeriksaan.
"Andika, kemari, Nak." Panggil sang ayah dengan kalimat yang di jeda karena napasnya yang terasa sesak.
Andika berjalan mendekati ayahnya yang tengah berbaring, terlihat begitu jelas menahan rasa sakitnya.
"Dud-dud-duduklah." Pinta sang ayah pada putranya.
Entah kenapa, tiba-tiba suasana menjadi hening dan berubah tak seperti berada di rumah. Sedangkan ibu tirinya menunggu di luar dan ditemani salah satu asisten rumah.
Sambil menatap lekat wajah putranya, Beliau meraih tangannya.
"Andika, tolong kabulkan permintaan Papa. Menikahlah dengan Lara." Ucap sang ayah dengan suara lirih, karena menahan rasa sakit.
Andika menggelengkan kepalanya, yang berarti menolak perintah dari ayahnya.
__ADS_1
"Tidak, Pa. Andika tidak bisa, pilihan Andika hanya Anin." Jawabnya yang tetap menolak.
"Mau sampai mati pun, Papa tidak merestui hubungan kalian berdua. Percayalah dengan Papa, bahwa pilihan Papa adalah yang terbaik. Sebelum Papa pergi untuk selama-lamanya, menikahlah dengan Lara. Suatu saat kamu akan tahu alasan Papa melarang untuk menikahi gadis pilihan kamu." Ucap sang ayah sambil menahan sakit.