Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Merasa Beruntung


__ADS_3

"Dit, Kakak kok takut ya. Rumahnya gede banget, pembantunya ada berapa ya? kita pamit aja yuk?"


"Jangan dong Kak, kita coba aja dulu. Kalau kerjaannya tidak sesuai, baru kitanya mengundurkan diri." Jawab Didit setengah berbisik.


Takutnya, ucapannya akan di dengar oleh pemilik rumah.


Alangkah terkejutnya saat masuk ke dalam rumah, begitu mewah bak istana.


"Bi Asih, Bi, cepetan sini." Panggilnya kepada salah satu asisten rumahnya.


Dengan terburu-buru, Bi Asih segera menemui majikannya.


"Ya, Nyonya." Jawabnya yang sudah berada di hadapan majikannya sambil setengah membusungkan badannya.


"Saya ada asisten baru untuk penggantinya Duri dan Jaka, tunjukan apa saja yang harus dikerjakan. Sekalian juga, tempat tidur untuk mereka berdua. Ingat, jangan lupa beritahu larangan di rumah ini." Ucapnya saat memberi perintah pada Bi Asih.


"Baik, Nyonya." Jawab Bi Asih dengan anggukan.


"Dan kamu Didit dan Anin, semoga kalian berdua betah untuk tinggal di sini. Kalian berdua pasti capek, boleh istirahat dulu. Untuk bantu bantu ala sekedarnya saja, nanti kalian akan diberitahu tugas-tugas kalian."


"Baik, Bu, maksud saya Nyonya." Jawab Anin sedikit gugup.


"Tidak apa-apa, panggil Ibu juga boleh. Ya sudah, Bi Asih boleh ajak mereka berdua ke belakang." Ucapnya, serta memberi perintah pada asisten rumahnya yang sudah diberi kepercayaan.


"Baik, Nyonya." Jawabnya, pemilik rumah segera masuk ke kamarnya.


Karena tidak ingin dapat masalah, Bi Asih langsung mengajak Didit dan Anin ke belakang. Tepatnya, untuk mengantarkannya ke kamarnya masing-masing, serta memberinya tugas-tugas yang harus dikerjakan.


"Ini kamar kamu, Nak. Untuk kamar laki-laki, nanti Bibi antar. Soalnya Pak Tejo lagi keluar. Oh ya, kalau boleh Bibi tahu, siapa nama kalian?"


"Nama saya, Anin. Sedangkan di sebelah saya ini, Didit, adik laki-laki saya." Jawab Anin memperkenalkan diri.


"Saya Didit, Bi." Ucap Didit ikut memperkenalkan diri.


"Anin dan Didit, nama yang bagus. Perkenalkan, nama Bibi, Asih. Kalian panggil aja Bi Asih. Disini memang banyak pelayan, semuanya baik-baik kok. Jangan takut, yang penting niat kita kerja dan nurut sama majikan." Ucap Bi Asih yang tak lupa untuk mengingatkan.

__ADS_1


"Ya, Bi. Terimakasih banyak ya, Bi. Saya tidak merasa sendirian, ada Bi Asih yang bisa menjadi teman saya." Jawab Anin merasa bersyukur tekan dipertemukan dengan orang baik.


"Nyonya orangnya memang terlihat galak, tapi baik kok. Waktu kerja, kita harus kerja. Waktunya untuk istirahat, kita istirahat. Memang agak galakan, tapi soal gaji tidak pernah telat. Yang penting kita ikutin aturannya, pasti aman." Ucap Bi Asih.


"Ya, Bi. Terima kasih sudah di beri tahu, saya akan lebih hati-hati." Jawab Anin, lalu Bi Asih menoleh pada Didit.


"Oh ya, untuk kamar laki-laki, mari Bibi antar ke kamar kamu. Untuk Nak Anin, kamu boleh istirahat dulu di kamar."


"Ya, Bi." Jawab Anin dengan anggukan.


Kemudian, Bi Asih mengantarkan Didit ke kamarnya.


"Nak Didit, kamar kamu disini, bersama asisten yang lainnya. Sebentar lagi Pak Tejo pulang, nanti akan memberitahukan semua tentang pekerjaan kamu. Sekarang ini lebih baik Nak Didit istirahat aja dulu, Bibi mau buatkan Kopi dan teh buat Nak Didit sama Nak Anin."


"Tidak usah repot-repot lah, Bi. Istirahat saja saya sudah cukup." Jawab Didit berusaha menolak, karena tidak enak hati.


"Nak Adit tidak boleh menolak. Disini itu, setiap ada orang baru yang mau kerja di rumah ini, tidak diizinkan untuk langsung bekerja. Sudah, nurut aja sama Bibi." Ucap Bi Asih.


"Maaf ya, Bi, sudah merepotkan Bibi." Jawab Didit merasa segan.


"Ya, Bi." Jawab Didit disertai anggukan dan senyum yang ramah.


Sedangkan di dalam kamar khusus para asisten rumah untuk perempuan, Anin duduk di tepi ranjang.


"Bagaimana ini, aku tidak mempunyai baju ganti sama sekali. Malang sekali nasibku, musibah yang harus aku terima." Gumam Anin sambil melamun.


"Nak Anin, kok melamun? ini, Bibi buatkan teh hangat untuk kamu."


"Bibi, repot-repot segala. Saya jadi malu, sudah merepotkan Bibi." Jawab Anin yang langsung membenarkan posisi duduknya.


"Nak Anin kenapa? sepertinya sedang gelisah, apakah ada sesuatu yang ingin disampaikan? tanyakan saja sama Bibi." Tanya Bi Asi dan ikut duduk di sebelahnya.


"Tidak ada kok, Bi. Saya cuma ... nggak jadi lah, Bi." Jawab Anin gugup, tentu ada rasa tidak enak hati.


"Loh, kok tidak ada. Katakan saja sama Bibi, kamu tidak perlu takut."

__ADS_1


"Begini, Bi. Sebelumnya saya mau minta maaf. Sebenarnya saya mengatakan, kalau saya tidak mempunyai baju ganti. Dengan alasan, tadi perjalanan saat mau naik Bis yang selanjutnya, saya kena jambret. Jadi, semua barang bawaan saya dibawa kabur." Jawab Anin sambil menunduk.


"Kasihan sekali kamu, Nak. Kamu tenang saja, nanti Bibi akan sampaikan sama Nyonya, agar kamu dikasih baju ganti." Ucap Bi Asih dan tersenyum.


"Tapi, Bi. Saya takut, kalau Nyonya marah, bagaimana?"


"Nak Anin tidak perlu takut. Meski Nyonya galak, orangnya baik. Ya sudah, lebih baik kamu istirahat. Jangan lupa, diminum tehnya ya." Kata Bi Asih, Anin mengangguk.


"Ya, Bi, makasih banyak. Maafkan saya yang sudah merepotkan Bibi." Jawab Anin, Bi Asih tersenyum dan segera keluar dari kamar.


Setelah melapor pada majikannya, Bi Asih mendapatkan baju ganti untuk Anin. Kemudian, memberikannya pada Anin.


"Bi, ini seriusan untuk saya?" tanya Anin saat menerima baju ganti ada sepuluh setel pakaian lengkap untuknya.


Bi Asih tersenyum saat melihat Anin tersenyum bahagia.


"Ya Nak Anin, ini baju masih baru semua. Nyonya memang sudah menyiapkan berbagai ukuran dan juga untuk usia berapa aja." Kata Bi Asih memberitahu.


"Makasih banyak ya, Bi. Benar kata Bibi, Nyonya memang sangat baik. Sama asisten rumah saja baik, apalagi dengan anak-anaknya ya, Bi."


"Ya, benar. Nyonya sangat sayang sama kedua anaknya." Ucap Bi Asih sedikit menjeda ucapannya.


"Wah, beruntung banget ya jadi anaknya. Mempunyai orang tua baik, ditambah kaya raya lagi."


Saat itu juga, Anin kembali teringat saat membaca wasiat dari ibunya. Yakni, bahwa dirinya bukanlah anak dari Beliau, melainkan hanya anak yang ditemukan di pinggir jalanan, seperti isi tulisan dalam lembaran kertas.


"Nak Anin, kamu kenapa?" tanya Bi Asih mengagetkan.


Anin langsung mengusap air matanya yang sempat jatuh dan membasahi kedua pipinya, Anin langsung berusaha untuk tersenyum.


"Saya terharu, Bi."


"Ya sudah, Bibi mau lanjutkan pekerjaan Bibi dulu. Nanti kalau sudah selesai pekerjaan Bibi, datang lagi menemui kamu, sekaligus memberikan tugas-tugas untuk dikerjakan besok." Ucap Bi Asih.


"Ya, Bi. Saya benar-benar sangat beruntung dipertemukan dengan orang sebaik Bibi, dan juga Nyonya pemilik rumah ini." Jawab Anin merasa beruntung.

__ADS_1


__ADS_2