Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Di bengkel


__ADS_3

"Kak Anin," panggil Didit saat melihat siapa orangnya yang datang ke rumah.


"Ya, Dit, kenapa?" sahut Anin yang berada di ruang tengah, posisi sedang memeriksa berkas-berkas yang harus dibawa untuk pendaftaran kuliahnya.


"Itu, Kak Elang sudah datang. Didit langsung berangkat duluan ya, Kak." Jawab Didit, kemudian berpamitan dengan ibunya.


"Bilang ke dia, kalau Kakak sedang bersiap-siap." Ucap Anin sambil memasuki beberapa hal penting yang ia bawa ke kampus.


"Ya, Kak." Jawab Didit sambil menemui ibunya untuk berpamitan.


Tidak ada yang tertinggal, Anin segera menemui ibunya.


"Anin berangkat dulu ya, Bu." Ucap Anin berpamitan, dan meraih tangan ibunya dan mencium punggung tangannya.


Ibu Ami mengangguk, tak lupa untuk menc*ium kedua pipi putrinya secara bergantian, kanan dan kiri.


"Semoga diterima ya, Nak. Ibu doakan, semoga kamu menjadi orang yang sukses, seperti harapanmu." Jawab Ibunya dan menepuk pundaknya, tertanda memberi semangat untuk putrinya.


"Ya, Bu, terima kasih atas doanya. Semoga Ibu selalu diberi kesehatan dan bahagia. Anin berangkat dulu, Bu." Ucap Anin sebelum berangkat.


Setelah itu, Ibu Ami ikut keluar mengantarkan putrinya sampai di depan rumah. Saat keluar dari ruang tamu, rupanya sudah ada Elang yang tengah duduk sambil menunggu.


"Nak Elang, kamu sudah datang rupanya. Pikir Ibu, kamu belum datang. Titip Anin ya, sama kamu." Ucap Ibu Ami.


"Ya, Bu, kebetulan juga hari ini Elang terakhir di kampung ini. Jadi, mungkin sekarang pertemuan terakhir, Bu." Jawab Elang yang langsung berterus terang tanpa memulainya dengan basa basi.


Anin maupun Ibu Ami sama-sama terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Elang.


"Maksud kamu itu apa, Lang?" tanya Anin yang tidak mengerti.


"Ya, Nak Elang, maksud kamu itu, apa? memangnya kamu mau pergi kemana?" sambung Ibu Ami yang juga penasaran.


"Begini Bu, Elang diminta untuk pulang dan tinggal bersama kedua orang tua Elang. Kata Papa dan Mama, Elang disuruh kuliah di tempat orang tua Elang, Bu. Sebenarnya Elang juga sudah menolak, tapi karena sesuatu yang tidak bisa ditolak, Elang menerimanya." Jawab Elang yang akhirnya berterus terang.


Anin yang mendengarnya seperti tidak percaya.


"Kamu tenang aja Nin, aku berikan motorku untuk kamu kuliah. Jadi, motorku yang akan menggantikan aku untuk mengantarkan kamu berangkat kuliah." Sambung Elang kembali.


"Tapi, Lang ..."

__ADS_1


"Maafkan aku ya, Nin, jika aku mendadak memberi kabar ini. Sebenarnya ingin dari kemarin-kemarin, tapi aku belum siap. Tapi, karena nanti malam aku harus berangkat, mau tidak mau, aku harus berpamitan denganmu." Ucap Elang dengan berat hati harus meninggalkan Anin, teman satu-satunya yang ia kenali dengan dekat.


"Ibu tidak bisa berkata apa-apa, hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kamu, Nak. Semoga kamu menjadi orang yang sukses, dan tetap rendah hati seperti sekarang ini." Ucap Ibu Ami yang tak lupa memberi ucapan doa, serta memberi nasehat kecil untuk Elang.


"Ya, Bu, terimakasih atas doa dan juga nasehatnya. Elang akan selalu ingat pesan dari Ibu. Elang doakan, semoga Ibu diberi kesehatan serta umur yang panjang, berharap Elang bisa berjumpa lagi dengan Ibu, Anin, dan juga Didit." Jawab Elang.


"Takut telat, Anin berangkat dulu ya, Bu." Ucap Anin langsung berpamitan, takutnya akan terbawa suasana karena Elang.


"Elang juga Bu, pamit mau mengantarkan Anin." Sambung Elang yang juga ikutan pamit.


"Hati-hati kalian berdua, jangan kebut-kebutan." Ucap Ibu Ami berpesan.


"Ya, Bu." Jawab keduanya dengan serempak.


Dalam perjalanan, Anin tiba-tiba kepikiran dengan kepergian Elang yang tinggal beberapa waktu lagi.


"Nin," panggil Elang sambil mengendarai motornya.


Anin masih diam, pikirannya masih fokus entah kemana dan apa yang sedang dipikirkannya.


"Nin," panggil Elang kedua kalinya.


"Ya, Lang, ya." Sahut Anin yang baru saja tersadar dari lamunannya, Elang menghentikan motornya dan menepi dipinggir jalan.


"Nggak kok, siapa yang lagi mikirin Andika. Oh ya, kenapa berhenti? terus, tadi kamu memanggilku, ada apa? tadi aku sedang mikirin diterima atau enggaknya, gitu."


"Sepertinya Ban motornya bocor halus, Nin. Kita ke tambal ban dulu, tidak apapa, 'kan? terlambat nggak kira-kira? atau aku carikan ojek saja." Jawab Elang.


"Cuma pendaftaran kok, Lang. Nggak masalah, waktunya juga masih panjang. Kecuali kalau uji tes, takut telat."


"Oh gitu ya, nambal ban dulu ya, Nin." Kata Elang, Anin mengangguk tanda mengiyakan.


Karena tidak ada pilihan lain, Elang mendorong motornya bersama Anin sampai di bengkel. Lumayan cukup jauh, dan membuat Anin maupun Elang kehausan.


Sampai di bengkel, Elang menyerahkan motornya sama si tukang bengkel.


"Nin, kamu tunggu disini sebentar, ya."


"Kamu mau pergi kemana?" tanya Anin.

__ADS_1


"Aku mau beli minuman dulu, jangan kemana-mana." Ucap Elang yang tidak tega melihat Anin yang terlihat menahan dahaga.


"Tidak usah repot-repot, Lang. Aku tidak haus, kok."


"Hem, jangan ngeyel. Sudah ah, aku beli minuman dulu." Ucap Elang dan bergegas pergi untuk membeli minuman.


"Ya, Lang. Maaf ya, kalau aku lagi-lagi selalu ngerepotin kamu." Jawab Anin, sedangkan Elang tidak menanggapinya dan memilih segera pergi.


Anin yang merasa tidak enak hati, tak tahu harus membalas kebaikan temannya dengan cara apa.


'Maafkan aku ya, Lang. Jika aku belum bisa membalas kebaikan kamu, aku hanya bisa mendoakan kebaikan untuk kamu. Selama ini kamu selalu ada waktu untukku, selalu bantu keluargaku.' Batin Anin merasa dilema dengan kebaikan-kebaikan dari Elang.


Ditambah lagi akan pergi jauh juga seperti pacarnya, Andika. Anin tidak tahu jika tidak ada Elang, semua akan dilakukannya sendiri.


"Hei, ngelamun aja dari tadi. Nih minumannya, biar nggak kering tuh tenggorokan kamu." Ucap Elang mengagetkan, Anin langsung menoleh padanya.


"Elang, ngagetin aja sih kamu. Terima kasih ya, kamu baik banget." Jawab Anin sambil menerima sebotol air mineral dari Elang, tak lupa juga memuji kebaikannya.


"Hem, baru tahu ya, kalau aku itu baik. Cie ... sok percaya diri banget akunya. Diminum, entar tambah kering tenggorokan kamu." Ucap Elang, Anin tersenyum dan membuka tutup botolnya.


"Cah bagus, motornya udah selesai." Ucap si tukang bengkel.


"Sudah ya, Pak. Berapa total pembayaran semuanya, Pak? tidak ganti ban kan, Pak?"


"Bocor halus, dan tidak perlu ganti ban. Jadi totalnya cuma lima belas ribu aja." Jawab si tukang bengkel.


"Syukur deh kalau tidak ganti ban, soalnya saya bawa uangnya hanya pas-pasan." Ucap Elang dan menyodorkan uang tiga lembaran lima ribuan.


"Terima kasih ya, Pak." Ucap Anin, bapak tersebut tersenyum ramah.


"Ya, Neng, Hati-hati dijalan. Kalian berdua sangat mirip, kakak beradik ya?" jawab si bapak tukang bengkel.


"Bukan, Pak, kita hanya berteman." Kata Anin malu-malu.


"Oh, teman, bapak kira kakak-beradik. Biasanya kalau mirip tuh, bisa berjodoh." Ucap bapak si tukang bengkel.


Anin dan Elang sama-sama tertawa kecil.


"Bapak mah bisa aja, do'ain aja Pak, semoga kita berjodoh nantinya." Timpal Elang ikut bicara, Anin langsung menatap Elang.

__ADS_1


"Canda, bercanda, ya kan Pak?" kata Elang tak lepas dengan tawanya.


"Sudah ah, ayo kita berangkat." Ajak Anin untuk mengalihkan gurauan.


__ADS_2