
Sudah beberapa hari meninggalnya sosok Andika, telah meninggalkan banyak luka pada Anin, perempuan yang begitu dicintainya. Bahkan, cinta yang sudah ia jaga dengan hati yang tulus, harus berakhir dengan tragis.
Siapa sangka, jika hidupnya banyak meninggalkan kenangan indah bersama kekasihnya, yakni Anin. Bertahun-tahun lamanya menjaga nama cinta, dan berakhir dengan air mata.
Anin yang sudah siap meninggalkan rumah sakit, tubuhnya terasa tak ada keseimbangan. Bahkan, begitu beratnya untuk menyanggah berat badannya sendiri.
"Dia Pak, perempuan itu pelakunya, yang sudah menewaskan putra saya. Tangkap dia, Pak Polisi." Ucap seorang laki-laki paruh baya yang suaranya terdengar keras, Anin dan Didit dapat mendengarnya dengan sangat jelas.
Keduanya langsung menoleh ke sumber suara.
Betapa terkejutnya saat melihat beberapa anggota polisi mendekatinya. Didit yang tahu siapa laki-laki itu, langsung meraih tangan kakaknya dan menggenggamnya sangat erat.
"Tunggu, ada apa ini?" tanya Didit yang mulai cemas dan khawatir.
"Jangan sok sok lupa, kalian berdua. Cepat Pak, tangkap mereka berdua."
Tanpa menjawab, Tuan Herman langsung menyuruh anggota polisi untuk menahan Anin.
"Tunggu! apa salahnya Kakakku?"
"Nanti kalian berdua akan tahu sendiri di kantor polisi? cepat! tangkap mereka.
Saat itu juga, Anin maupun Didit diringkus polisi dan dibawanya untuk dilakukannya pemeriksaan. Didit tidak bisa melawan ataupun memberontak, dan memilih nurut dengan apa yang di perintahkan.
Sampainya di kantor polisi, Anin dan Didit mulai diintrogasi. Tetap saja, berbagai macam penjelasan, Anin dan Didit tetap kalah telak. Saat itu juga, media mulai menyorot keduanya. Bahkan, beritanya sampai ke kampung halamannya dan kota tersebut.
Baru saja merasa lega, karena terbebas dari rumah sakit. Tapi, justru berbanding terbalik dengan apa yang dibayangkan. Kini, Anin harus mendekam didalam penjara, karena telah menjadi tersangka meninggalnya mendiang Andika.
Didit yang tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya hanya bisa pasrah dengan musibah yang tengah menimpa dirinya dan sang kakak.
"Sekarang kalian berdua rasakan sendiri akibatnya. Asal kamu tahu, Kakak kamu akan mendekam di penjara seumur hidupnya. Bahkan, tidak ada seorangpun yang bisa membebaskan kakak kamu. Nikmati atas perbuatan kalian berdua, ini belum seberapa denganku yang harus kehilangan putra satu-satunya." Ucap Tuan Herman pada Didit dengan ancamannya.
__ADS_1
Didit menatapnya dengan penuh kebencian, kedua tangannya mengepal kuat. Sedangkan Tuan Herman langsung pergi dari kantor polisi, dan meninggalkan Didit yang terpisah dengan sang kakak.
Anin masih terus menangis, dirinya benar-benar tidak tahu harus meminta pertolongan pada siapa, keluarga dan teman saja tidak ada disekitarnya.
Didit benar-benar dengan tangan kosong, bak gelandangan.
"Kak, maafkan aku yang tidak bisa membantu Kakak. Aku adik yang tidak berguna, sampai-sampai Kakak harus berakhir didalam jeruji besi ini." Ucap Didit sambil memegangi tangan kakaknya.
Anin terus menangis dibalik jeruji besi, hancur sudah nasibnya.
Karena tidak lagi diizinkan untuk terus menerus berada di ruang sel tahanan, Didit diminta untuk keluar dari ruangan tersebut. Dengan terpaksa dan berat hati, Didit segera keluar dengan berat hati. Mau tidak mau Didit pergi sendirian, tanpa sang kakak didekatnya.
Anin yang tidak tahu harus bagaimana, hanya bisa duduk meringkuk di pojokan. Untung saja, semua yang ada didalam baik-baik.
Didit yang terasa penat karena banyaknya pikiran, membuatnya bingung harus pergi kemana. Jangankan ponsel, uang saja tidak ada sepersen pun.
Didit duduk di teras kantor polisi dengan penampilan yang terlihat lusuh.
Didit dibuatnya kaget, dan langsung menoleh ke samping.
"Ya, saya Didit. Maaf, anda tahu darimana kalau nama saya ini, Didit?" jawab Didit dan balik bertanya.
"Berita heboh yang sudah memberitahu saya. Dari kemarin-kemarin, saya sudah mengikuti kasus kamu. Tentu saja, saya sangat tertarik dengan Kakak kamu."
Didit benar-benar terasa tidak terima, jika musibah yang dialaminya akan diambil keuntungan.
"Maaf, silakan Anda pergi dari sini. Saya tidak ada minat apapun tentang berita saya maupun kakak saya sendiri." Kata Didit yang berusaha untuk menghindari, takutnya akan dimanfaatkan, pikirnya.
"Tenang, jangan emosi dan jangan gegabah dulu. Justru, saya akan memberi penawaran yang sangat bagus padamu. Itupun kalau kamu mau bekerja sama dengan saya."
"Maksudnya apa? saya masih tidak mengerti." Tanya Didit yang tidak tahu apa-apa, pikirannya benar-benar buntu.
__ADS_1
"Apakah kamu menginginkan kakak kamu bebas dari sel tahanan? jika ya, katakan saja. Bagi saya sangatlah mudah untuk membebaskan kakak kamu, karena aku mempunyai kebenaran untuk menguak insiden kecelakaan yang menewaskan putra dari keluarga yang sudah menjebloskan kakak kamu." Jawabnya begitu santai, Didit kembali terkejut mendengarnya.
"Maaf, saya tidak bisa." Kata Didit yang masih waspada, takutnya dirinya yang akan mendapatkan kesialan setelah kakaknya.
"Apa kamu tidak kasihan dengan kakak kamu? yang seumur hidupnya berada di dalam jeruji besi? pikirkan baik-baik tawaran dari saya ini. Jangan sampai kamu menyesal nantinya."
"Silakan pergi." Usir Didit yang masih sulit untuk percaya dengan orang yang tidak dikenalinya.
"Ini, ada nama kartu saya. Jika kamu setuju dengan tawaran dari saya, kamu tinggal hubungi nomor yang sudah tertera di kartu nama saya. Dan ini, ada beberapa uang untuk menghubungi saya." Ucapnya sambil menyodorkan lembaran kertas merah dan juga sebuah kartu nama.
"Maaf, saya tetap tidak bisa." Jawab Didit yang masih terus menolaknya.
"Jangan sungkan dan jangan takut, saya bukan orang jahat. Bahkan, kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tunjukkan kartu nama saya ini ke dalam kantor polisi, nanti kamu bisa menilainya sendiri." Ucapnya meyakinkan.
Didit yang merasa capek karena terus-menerus dibujuknya, akhirnya menerima sebuah kartu nama dan dua lembaran kertas merah.
"Saya akan pikirkan lagi." Jawab Didit.
"Baiklah, saya akan menunggu konfirmasinya dari kamu. Semoga membantu, dan kamu bisa membebaskan kakak kamu dari tahanan dan juga dari ulah orang yang tidak bertanggung jawab." Ucapnya dan pergi dari hadapan Didit.
Berulang kali Didit memutar sebuah kartu nama, sama sekali tidak membacanya.
"Siapa ibu-ibu tadi? benar-benar sangat mencurigakan." Gumamnya sambil menatap lurus ke depan.
Karena penasaran, Didit membaca sebuah kartu nama yang membuatnya penasaran.
"Yenizar Xandria, nama yang sangat sulit, seperti orangnya." Ucapnya lirih sambil membaca kartu nama milik seorang perempuan paruh baya yang terlihat masih cantik.
Karena rasa lapar yang sudah mengundang perut keroncongan, Didit kembali teringat dengan kakaknya.
"Kak Anin pasti lapar, seperti apa makanan di dalam sana? maafkan aku, Kak. Maafkan adikmu ini yang tidak ada gunanya." Gumam Didit teringat kakaknya.
__ADS_1