Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Seseorang yang asing


__ADS_3

"Terus, gak tertarik sama perempuan di luaran sana kah, Bi."


Bibi tersenyum saat kembali mendapatkan pertanyaan dari istri majikannya.


"Tidak, Non. Den Elang cintanya hanya pada Nona Anin, tidak bisa goyah. Bahkan, koleksi fotonya Nona saja banyak di ruang pribadinya, yang sekarang dijadikan ruang kerjanya." Jawab Bibi menjelaskan.


"Semoga ya, Bi." Kata Anin sambil mengupas bawang putih.


"Ekhem, sepertinya sedang asik ngobrol nih." Celetuk Elang saat berada di dapur.


Anin langsung melotot, berasa malu untuk membalikkan badannya.


"Non, ada suami Nona." Ucap Bibi sambil menyenggol lengan milik istri majikannya.


Wajah Anin berubah seperti udang rebus, merah karena malu.


Elang yang tahu istrinya malu karena membicarakan tentang dirinya, langsung meraih tangannya.


"Malam ini aku akan mengajak kamu untuk makan malam di luar. Jadi, ayo kita bersiap-siap. Untuk Bibi, porsinya di kurangi untuk makan malamnya. Tidak perlu menjelaskan pada Mama, Elang udah menyampaikan pesan pada mereka berdua." Ucap Elang pada istrinya, yang juga memberi pesan pada asisten rumahnya.


"Baik, Tuan." Jawab Bibi.


Setelah itu, Elang mengajak istrinya untuk bersiap-siap.


Sampai di kamar, Elang mengambilkan pakaian ganti untuk istrinya.


"Pakailah baju ini, aku akan mengajakmu makan malam. Tidak hanya itu saja, kita akan jalan-jalan sambil menikmati angin malam di luaran sana. Kebetulan, aku ada pertemuan dengan teman-temanku, sekaligus mengundang mereka untuk hadir di acara resepsi besar pernikahan kita." Ucap Elang sambil menyodorkan pakaian yang baru saja ia beli lewat orang suruhannya.


"Resepsi pernikahan kita? maksud kamu itu, apa? bukankah acara pernikahan kita sudah lewat?"


"Itu kan, acara hanya pernikahan sakral saja, tidak diadakan resepsi besar. Nanti, akan diumumkannya pernikahannya kita. Bahkan, rekan dari berbagai penjuru daerah akan hadir, termasuk bagian keluarga Alexander dan kerabat yang lainnya. Tidak cuma itu saja, nanti akan ada acara live, sekaligus mengumumkan siapa kamu dan Didit. Yang pastinya akan menjadi kejutan yang sangat berharga untukmu dan untuk kita, serta Didit dan ibu kandungmu maupun kakek kamu yang masih ada." Jawab Elang menjelaskan secara detail.


Anin yang mendengarnya, pun bingung untuk mencerna di setiap kata yang terucap lewat ucapan dari suaminya.


"Maksud kamu acara live itu, apa? masuk di televisi kah?" tanya Anin yang tidak tahu menahu dengan ucapan dari sang suami.

__ADS_1


Elang mengangguk pelan.


"Ya, benar. Selama ini kamu dan Didit diberitakan sudah meninggal sejak usia masih bayi. Sebelum semuanya terlambat, dan ayah tiri kamu belum melakukan live mengenai hak waris dari kakek kamu." Jawab Elang memperjelas akan ucapannya.


Anin yang mendengarnya, pun tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kenapa diam? bingung? mendingan kamu kenakan bajumu ini, kita akan segera pergi jalan-jalan dan makan di luar."


"Gak kok, aku cuma takut aja, jika Tuan Vitton akan melukai atau mempunyai cara keji untuk menyakiti Mama dan juga Didit. Aku merasa tidak nyaman dengan keberadaan Didit dan Mama yang masih satu rumah dengan Tian dan ayahnya." Kata Anin yang sudah dikuasai dengan perasaan khawatir kepada adik laki-lakinya dan ibunya.


Elang segera memeluknya, terlihat jelas jika sang istri tengah bersedih saat berbicara mengenai ibunya dan adik laki-lakinya.


"Sudah aku katakan padamu, semua akan baik-baik saja. Dari pada kamu bertambah pusing, mendingan kita pergi untuk jalan-jalan malam ini." Ucap sang suami sambil memeluk istrinya.


Setelah dipikir kembali akan ajakan dari suaminya, melepaskan pelukan dari suami.


"Aku hanya bisa berharap, semoga semuanya akan baik-baik saja." Kata Anin sambil menatap wajah suaminya.


Elang mendaratkan ci_uman di kening milik istrinya.


Anin mengangguk, keduanya segera bersiap-siapbersiap-siap.


Beda lagi ditempat lainnya, Dinda dengan kedua temannya tengah menikmati malam minggunya di tempat yang belum pernah didatangi.


"Tempatnya bagus juga ya, andai saja formasinya masih lengkap. Mungkin kita menjadi pencetus persahabatan yang abadi. Tapi sayangnya, beberapa diantara kita mempunyai kesibukan dan aktivitas yang lainnya." Ucap Ayun sambil menunggu Burnan di sebuah tempat yang dijadikan anak muda untuk berkumpul dengan gengnya, juga pasangan yang lainnya.


"Ya, andai saja Andika masih hidup, pasti sekarang aku sudah menjadi istrinya Elang, bukan Anin. Enak banget itu anak. Sudah ditinggal oleh Andika, eee dengan mudahnya langsung menikah dengan Elang." Sahut Dinda ikut menimpali.


"Itu namanya jodoh, mau diawali cinta atau gak, kalau sudah jodoh, tetap akan berjodoh." Ucap Nilam ikut bicara.


"Belum tentu juga mereka berdua akan berjodoh, lagi pula usia pernikahannya juga belum lama. Satu lagi, Anin belum hamil. Jadi, masih banyak kesempatan emas untukku mendapatkan Elang." Jawab Dinda tak malu malu untuk merebut Elang dari teman dekatnya sendiri.


"Serah kamu dah, aku tidak ikut-ikutan. Yang jelas, aku sudah mengingatkan kamu berulang kali. Mau kamu rebut Elang juga terserah kamu, salah juga salah kamu." Ucap Nilam dengan tatapan tidak suka.


"Hei! ngomongin apa kalian. Kelihatannya serius gitu."

__ADS_1


Dengan sengaja, Burnan mengagetkan ketiga temannya.


Dinda Maupun Nilam dan Ayun, pun kaget saat Burnan dengan tiba-tiba membuat ketiganya jantungan.


Namun, pandangannya mulai tertuju pada sosok laki-laki yang ada di sebelahnya Burnan.


'Siapa lelaki ini? tampan sih, sepertinya teman baru Burnan.' Batin Nilam saat melihatnya.


Sedangkan Dinda, hanya acuh dan acuh. Beda kalau Ayun, tersenyum ramah padanya.


'Penampilannya aja biasa aja, jauh dari kata tajir.' Batin Dinda saat memperhatikan penampilan lelaki yang baru saja datang bersama Burnan.


"Dia siapa Burn?" tanya Nilam ingin tahu.


"Namanya Gion, dia ini temanku saat aku baru pertama kali tinggal di rumah pamanku." Jawab Burnan, Nilam manggut manggut saat mendengar jawaban darinya.


"Oh ya, silakan duduk." Ucap Ayun mempersilakan untuk duduk.


"Bro, silakan duduk. Ini loh, teman satu kampung aku dulu. Gak nyangka kalau sekarang dipertemukan lagi. Kalau yang dua, mereka sudah menjadi suami istri. Kalau yang satunya, sudah meninggal." Sambung Elang menjelaskan, Gion mengangguk tanda mengerti.


"Seru ya, berteman dalam satu geng, lebih dari lima orang." Kata Gion ikut bicara.


'Dih! jauh banget sikapnya dari Elang, yang tampan dan perawakan bagus, serta mempunyai sikap wibawanya. Lah ini, ancur dah.' Batin Dinda yang berasa risih saat melihat sosok Gion.


"Oh ya, Burn. Memangnya kabar apaan yang mau kamu sampaikan ke kita bertiga, Burn. Kedengarannya di telpon sangat srius, tidak terjadi sesuatu pada Anin dan Elang, 'kan?" Tanya Nilam yang teringat saat mendapatkan pesan masuk dari Burnan.


"Oooh, itu."


"Ya."


"Ya nih, kamu jangan bikin kita-kita ini penasaran."


"Satu minggu lagi, tepatnya di hari minggu, Anin dan Elang mengadakan resepsi pernikahannya. Pesan yang aku terima, akan ada aca live juga. Tidak cuma itu saja, akan ada kabar mengejutkan dan juga kabar bahagia untuk Anin dan Didit. Jadi, kita diminta untuk datang ke acara pernikahan mereka. Bahkan nih ya, akan ada acara live tentang persahabatan kita." Jawab Burnan menjelaskan secara detail.


Ketiga teman perempuannya mendadak terkejut saat mendengar jawaban dari Burnan, termasuk Dinda yang terkejut juga kesal tentunya.

__ADS_1


__ADS_2