
Waktu yang sudah dilalui Anin, tak membuatnya menyerah untuk menggapai impiannya selama beberapa tahun lamanya setelah berpisah dengan Andika, kekasihnya.
Hubungan Anin dengan Andika masih baik-baik saja, keduanya masih saling memberi kabar satu sama lain. Hanya saja, Andika belum pernah menyempatkan diri untuk pulang ke kampung dengan alasan waktu yang tidak bisa berlama-lama dan harus segera kembali ke negri tempatnya menuntut ilmu.
Tetapi berbeda dengan Elang, justru putus kontak sejak memberinya kabar untuk menuntut ilmunya ke negri orang. Saat itu juga, Elang sama sekali tak pernah memberinya kabar.
Anin yang sama sekali tidak bisa mendapatkan kabar dari Elang, juga tidak ada jawaban oleh Kakek dan Neneknya di kampung.
Kesibukan Anin masih sama seperti yang dulu, sibuk dengan belajarnya, dan juga membantu ibunya untuk bekerja dan dibantu oleh Didit, adiknya, yang kini juga sudah menyusul sang kakak melanjutkan pendidikannya di jenjang kuliah.
"Biar Anin saja yang menyelesaikan pekerjaan ini, Bu. Lebih Baik Ibu istirahat saja, seperti yang dikatakan oleh dokter. Takutnya, kesehatan Ibu akan terganggu." Ucap Anin saat mendapati Ibunya yang tengah membantunya untuk mengemasi barang-barang pesanan.
"Ya, Bu, yang dikatakan Kak Anin itu ada benarnya. Lebih baik Ibu istirahat aja, lagi pula ini hari minggu. Jadi, biar Didit dan Kak Anin yang akan menyelesaikan semuanya, Bu." Timpal Didit yang juga tidak ingin melihat ibunya kecapean dan kesehatannya akan terganggu.
"Maafkan Ibu ya, Nak. Gara-gara Ibu sakit-sakitan, kalian berdua harus kecapean." Jawab Ibu Ami yang merasa merepotkan kedua anaknya masih membutuhkan waktu untuk belajar.
"Ibu tak baik bicara seperti itu, Ibu adalah tanggungjawab kami sebagai anak. Ibu istirahat saja, sampai benar-benar pulih. Anin bantu Ibu berbaring ya, Bu." Ucap Anin sambil menyiapkan tempat untuk Ibunya tiduran, dan tidak ikutan menyelesaikan pekerjaan.
Ibu Ami yang sudah tidak bisa beraktivitas seperti dulu, hanya bisa rebahan dan menikmati hari-harinya di rumah.
"Anin, kemari lah Nak. I-i-ibu ingin berbicara sesuatu pa-padamu." Ucap Ibu Ami dengan terbatuk-batuk.
Anin langsung menyambar gelas berisi air minum, dan membantu ibunya untuk minum air putih tersebut.
"Ibu mau bicara apa? lebih baik istirahat aja dulu, Bu. Jika tidak terlalu penting, tak perlu Ibu mengatakannya sekarang. Masih ada waktu lain, Ibu butuh istirahat yang cukup."
Ibu Ami yang tidak mau putrinya terus melarangnya, beliau menurutinya dan memilih untuk istirahat seperti yang dimintanya.
__ADS_1
Karena harus membereskan ruangan yang baru saja digunakan untuk mengemasi barang pesanan, Anin segera keluar dari ruang tengah dan meninggalkan Ibu Ami sendirian.
"Kak, semuanya sudah aku kemasi. Mau di antar langsung, atau mau di ambil oleh pelanggan? kebetulan hari ini aku mau keluar, ada tugas yang belum aku selesaikan." Ucap Didit sambil menata semua barang yang baru saja dia kemasi.
"Kamu tidak perlu mengantarkan pesanan, nanti orangnya mau datang kemari. Jadi, kamu boleh pergi jika ada urusan yang lebih penting. Soal Ibu, biar Kakak yang menemani. Titip aja, nanti belikan obat untuk Ibu ya, di apotek. Soalnya belum ada pembayaran, kita nunggu uang kumpul."
"Ya, Kak, tidak apa-apa. Memangnya tabungan dari Kak Elang sudah habis ya, Kak."
"Sudah, Dit. Kamu tahu sendiri, Ibu harus berobat terus menerus sejak jatuh sakit dan harus dirawat. Kakak juga tidak pernah mendapatkan kabar dari Elang, entah kemana dan bagaimana kabarnya. Sehat, sukses, atau sebaliknya, Kakak juga tidak tahu. Uang yang dikirim pacar Kakak, semua masih utuh, entah kenapa Kakak tidak berani memakainya. Mungkin kalau situasi mendesak, Kakak baru mau memakainya."
"Kenapa, Kak? kok tidak berani memakainya? bukankah Kak Andika pacar Kakak? sedangkan Kak Elang bukan siapa-siapa Kakak, hanya teman dekat aja."
"Kakak diberi pesan dari Ibu, Dit. Kalau uang dari Elang, itu jelas Kakek Yusno dan Nenek Lidi yang mengantarkan tabungannya ke rumah. Sedangkan dari pacar Kakak sendiri, belum tahu kejelasannya. Jadi, Ibu melarang Kakak untuk menggunakan uangnya." Jawab Anin menjelaskan.
"Ya sudah ya, Kak. Kalau gitu, aku berangkat dulu. Secepatnya, aku akan segera pulang. Kalau Kakak ada apa-apa, segera hubungi aku ya, Kak."
"Ya, Kak, Didit berangkat dulu." Jawab Didit dan segera pergi, dan kini tinggal Anin sendirian yang menemani Ibunya.
Setelah sang adik pergi dari rumah karena masih ada tugas yang harus diselesaikan, Anin segera membereskan ruangan tersebut, alias gudang yang bersebelahan dengan ruang tamu.
Sambil beres-beres, ingatannya Anin kembali teringat dengan Andika dan juga Elang. Kedua lelaki yang mempunyai perannya sendiri-sendiri pada diri Anin.
"Ibu!" teriak Anin saat mendengar sesuatu yang jatuh, segera Anin Melihatnya.
"Ibu! tolong, tolong." Teriak Anin memanggil ibunya dan berteriak meminta tolong.
Beberapa tetangga yang mendengar teriakan Anin yang cukup keras, cepat-cepat untuk melihatnya.
__ADS_1
Anin terus mencoba untuk membangunkan ibunya, tetap saja tidak mendapatkan respon apapun dari ibunya.
"Ibu, bangun, Bu. Ibu ... bangun, tolong! tolong." Panggil Anin terus-menerus dengan khawatirkan dan juga menangis sesenggukan karena tidak tahu harus bagaimana.
Ibunya masih berada di pangkuannya, dan beberapa orang masuk ke dalam untuk melihat keadaan.
Saat itu juga, salah satu tetangga tengah memeriksa denyut nadinya.
"Masih ada denyut nadinya, ayo kita bawa ke rumah sakit." Ucapnya dan langsung menggendong ibu Ami.
Kebetulan, sebelah rumah mempunyai mobil. Meski tidak begitu bagus, setidaknya bisa untuk mengantarkan Ibu Ami ke rumah sakit terdekat.
Anin terus menangis dan memanggil ibunya berulang-ulang. Salah satu tetangganya tengah menghubungi Didit yang sedang dalam perjalanan.
"Ibu, bangun. Ibu, jangan tinggalkan Anin dan Didit. Kita berdua tidak mempunyai siapa-siapa selain Ibu." Ucap Anin yang terus memanggil ibunya dan juga menangis.
Tetangga yang diminta suaminya untuk menemani Anin, pelan-pelan mengusap punggung milik Anin.
Tidak lama kemudian, sampailah di depan rumah sakit. Dengan cekatan, Ibu Ami langsung dilarikan ke ruangan pemeriksaan.
Anin masih mondar-mandir dengan pikirannya yang kalut.
"Nak Anin, duduk lah. Tenangkan dulu pikirannya kamu, Ibu Ami pasti bisa melewati ini semua." Ucap ibu paruh baya yang tidak lain tetangga samping rumah.
Dengan langkah terburu-buru, akhirnya Didit sampai juga di rumah sakit.
"Kak Anin, Ibu dimana? bagaimana keadaan Ibu, Kak?" tanya Didit dengan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Ibu sedang ditangani oleh dokter, Kakak belum tahu bagaimana keadaan Ibu." Jawab Anin dengan gelisah.