Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Berusaha kuat


__ADS_3

"Jadi, calon suami Lara menentang pernikahan? kenapa, Pa? apa karena ada perempuan lain? katakan pada Mama, Pa."


"Ya, dia menjawabnya seperti itu." Jawabnya dengan menunduk.


"Kasihan sekali putri kita, Pa. Mama kira hanya sekedar tidak suka, jadi wajar saja."


"Doakan saja, Ma. Semoga yang kita takutkan tidak akan terjadi, dan semuanya akan baik-baik saja."


"Ya, Pa. Ya sudah, Papa istirahat dulu, Mama mau memeriksa ruang tamu."


Beliau hanya mengangguk, dan membenarkan posisinya untuk beristirahat.


Ketika sudah berada di ruang tamu, terlihat sangat rapi tatanannya.


"Nyonya, bagaimana dengan dekorasinya?" tanya Bu Asih, yang kebetulan masih berada di ruang tamu ditemani Anin.


"Sangat bagus dan elegan, Bi Asih memang pintar kalau disuruh memperbagus ruangan." Jawabnya dan tak lupa untuk memuji.


"Nyonya bisa aja, yang memadukan warna dan yang lainnya itu, Nak Anin, Nya." Jawab Bu Asih dan menunjuk ke arah Anin yang sedang membereskan sesuai yang tidak dipakai.


"Beneran nih, Bi. Jadi, yang melakukan semua ini, Anin?"


"Ya, Nya. Yang ngerjain sih, adiknya dibantu sama yang lainnya. Untuk yang memadukan warna serta kecocokan untuk isi ruangan ini, Nak Anin." Jawab Bi Asih, sedangkan Anin pura-pura tidak mendengarnya dan sama sekali tidak menghiraukannya.


"Anin, kemari sebentar." Panggil majikan perempuan, Anin langsung menoleh.


"Ya, Nyonya." Jawab Anin, dan segera mendekatinya.


"Terima kasih ya, kamu sudah membuat ruangan ini seperti hidup. Warna yang sangat cocok untuk acara lamaran, kamu benar-benar pintar." Ucapnya memuji, Anin tersipu malu mendengarnya.


"Nyonya bisa aja, justru saya merasa malu dan saya merasa tidak bagus. Yang melakukan semua ini juga dibantu adik saya." Jawab Anin malu-malu.


"Benar kok, Nin. Saya menyukai hasil kerjamu, sangat bagus. Oh ya, setelah ini nanti kalian segera menyiapkan untuk makan malamnya." Ucapnya dan meminta untuk segera mempersiapkan makan malam.


"Baik, Nyonya." Jawab Anin dan Bu Asih bersamaan, sang majikan tersenyum ramah.


Karena tidak ingin ada kesalahan dalam menghidangkan makan malam, Bu Asih lansung mengajak Anin untuk pergi ke dapur. Tentu saja, untuk menyiapkan bahan-bahan yang akan diolah.


Ketika sudah berada di dapur, semua disibukkan dengan tugasnya masing-masing. Meski sudah ada juru masak yang handal, tetap membutuhkan asisten yang lainnya.


"Bi," panggil Anin sambil mengupas bawang.

__ADS_1


"Ya, ada apa?"


"Acaranya pasti sangat mewah ya, Bi."


"Ya, soalnya calon suami Nona Lara itu, dari keluarga sangat kaya. Nggak cuma itu saja, tapi ganteng. Pokoknya serasi banget sama Nona Lara, sama-sama cocok. Satu ganteng, satunya cantik." Jawab Bi Asih yang terlihat begitu bahagia.


"Wah, beruntung sekali, Bi. Jadi nggak sabar, ingin melihat acara lamarannya orang kaya."


"Sama aja lah, Nak Anin. Mau kaya atau tidaknya itu, sama aja. Yang bikin beda karena banyaknya uang, ujungnya juga sama-sama lamaran."


"Ya sih Bi, cuma menang mewahnya saja."


"Nah, itu. Ya udah, kita lanjutkan lagi kerjaan kita, biar cepat selesai." Kata Bi Asih.


"Ya, Bi." Jawab Anin dengan anggukan.


Sesaat kemudian.


"Aw!" pekik Anin kesakitan saat jari telunjuknya terkena pi*sau.


"Nak Anin, bentar bentar, Bibi ambilkan obat dulu." Ucap Bi Asih dan berlari mengambil obat untuk Anin. Sedangkan teman kerja yang satunya langsung menahan jari jemarinya agar darah tidak terus mengalir.


"Bi Asih, kenapa lari-lari?" tanya Didit saat mendapati Bi Asih yang terburu-buru.


"Kakak!"


Dengan reflek, Didit langsung menyambar kotak obat yang ada ditangan Bi Asih dan lari menuju dapur.


Kemudian, Didit langsung mengobati dan merobek bajunya sendiri untuk menutupi luka pada jari tangan milik kakaknya, karena tidak ada perban di kotak obat tersebut.


"Kakak pasti banyak melamun, ya 'kan? Kakak kalau kerja yang hati-hati. Kita tidak tahu, musibah apa yang akan kita dapatkan."


"Ya tuh Dit, Kakak kamu dari tadi pagi banyak melamun dan juga nangis." Timpal asisten rumah ikut bicara.


"Apa saya boleh membawa Kakak saya ke kamar sebentar? aku ingin bicara sesuatu dengannya."


"Boleh kok, Nak Didit. Ya udah, ajak Kakak kamu ke kamar. Nanti Bibi menyusul, sekarang mau Bibi buatkan teh hangat. Mungkin saja Kakak kamu banyak pikiran, tidak apa-apa kalau mau istirahat sebentar." Ucap Bi Asih sebagai kepala asisten rumah, yakni orang kepercayaan.


"Jangan lah, Dit. Kakak tidak apa-apa kok, serius. Kakak tidak ingin disangka tidak bisa bekerja sama Nyonya. Jadi, lebih baik lanjutkan saja pekerjaan kamu."


"Ada apa ini?" tanya majikan perempuan yang sudah berada di dapur.

__ADS_1


"Tidak ada apa-apa, Nyonya." Jawab Anin lebih dulu.


Takutnya, akan ada yang menjawabnya dengan jujur.


"Ini, Nyonya. Nak Anin jarinya kena pis*au, lukanya cukup dalam. Jadi, saya sarankan untuk istirahat. Saya melihat, bahwa Nak Anin sepertinya sedang banyak pikiran, Nya." Sambung Bi Asih yang tidak ingin Anin berbohong.


"Sudah diobati atau belum? kalau lukanya serius, bawa ke dokter. Takutnya, nanti akan terkena infeksi."


"Lukanya tidak begitu serius kok, Nya. Nanti juga baikan, sudah terbiasa mendapatkan luka karena pi*sau." Sahut Anin yang tidak ingin merepotkan orang lain.


"Yakin tidak apa-apa? ya sudah, lebih baik kamu istirahat aja dulu. Jangan dipaksakan untuk bekerja, jika kamu sedang banyak pikiran. Bi Asih, tolong ajak pergi ke kamarnya, dan kamu Mbak Nana, buatkan teh hangat untuknya."


"Baik, Nyonya." Jawab Bi Asih dan Mbak Nana bersamaan.


Kemudian, majikan perempuannya pergi dari dapur.


Sedangkan Bi Asih mengajak Anin untuk beristirahat di kamar, Didit mengikutinya dari belakang.


"Bi, saya malu." Ucap Anin saat sampai di depan pintu kamarnya.


"Malu kenapa, Nak Anin?"


"Ya, Kak, kenapa malu? lebih baik Kakak istirahat sebentar. Setidaknya pikiran Kakak akan jauh lebih tenang dari sebelumnya." Timpal Didit ikut bicara, karena rasa kekhawatirannya terhadap sang kakak.


"Bi, bolehkah saya bicara sesuatu dengan Kakak saya sebentar?"


"Boleh, silakan kau ingin mengobrol sebentar. Bibi tinggal dulu ya, sebentar lagi Mbak Nana bawakan teh hangat untuk kamu."


"Makasih banyak ya, Bi."


"Ya, sama-sama. Kalau begitu, Bibi tinggal dulu." Ucap Bi Asih, Anin mengangguk.


"Ya, Bi." Jawab Anin, lalu Bi Asih segera melanjutkan pekerjaannya.


Kini, tinggal Anin dan Didit.


"Dit, lebih baik kamu lanjutkan tugasmu. Nanti kalau Nyonya melihat, kamu bisa dipecat."


"Tidak masalah, yang terpenting keselamatan Kakak yang utama. Kalau kita di pecat, tidak jadi masalah jika kita pergi dari tempat ini. Didit bisa minta tolong Dani atau yang lainnya untuk menjual motor Didit di kampung, dan uangnya bisa untuk mengontrak. Didit masih ada berkas yang bisa untuk mendaftar kerja, Kakak tidak perlu khawatir."


"Maafin Kakak ya, udah merepotkan kamu. Padahal kamu adalah tanggung jawabnya Kakak."

__ADS_1


"Kakak tidak boleh bicara seperti itu, kita kakak-beradik dan harus saling menjaga dan memberi perhatian satu sama lain." Ucap Didit.


"Permisi, Nak Anin, ini tehnya. Jangan lupa, segera istirahat, agar nanti malam bisa menyaksikan acara lamaran." Ucap Mbak Nana, Anin tersenyum.


__ADS_2