
Selesai menikmati makan siang, Tuan Mawan mengajak anak dan istri beserta menantunya untuk pulang.
Dalam perjalanan, Anin memilih diam dan tidak untuk bersuara. Pasalnya, apa yang katakan, berbanding terbalik dengan pendapat istrinya.
Ingin marah, itupun tidak mungkin. Saat itu juga, Anin teringat bagaimana Elang memperlakukannya dengan baik, dan tidak pernah menunjukkan emosinya sama sekali.
Sedangkan yang sekarang, sangatlah sensitif, ketika apa yang diinginkannya salah, tak 'kan ada benarnya.
Anin masih saja melihat keluar, tak penting jika harus menoleh pada suaminya.
Begitu juga dengan Elang, dirinya menatap lurus ke depan sambil dengan posisi kedua tangannya yang menyilang di dada bidangnya.
Sesekali menoleh pada istrinya, tapi tidak untuk mengajaknya bicara. Sampai tidak terasa, ternyata sudah sampai di depan rumah.
"Tuan, Nona, kita sudah sampai." Ucap pak Ratno mengagetkan kedua majikannya.
Anin dan Elang tersadar dari lamunannya.
"Ya, Pak." Jawab Anin dan Elang bersamaan sambil melepaskan sabuk pengaman nya masing-masing.
__ADS_1
Entah disengaja atau bagaimana, Elang begitu kesulitan untuk melepaskan sabuknya.
Anin yang melihat suaminya tengah kesulitan, segera membantunya. Dengan posisi badan sedikit membungkuk, Anin mencoba melepaskan.
Ketika berhasil melepaskannya, keduanya saling menatap satu sama lain dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan, jarak diantara keduanya tak ada satu jengkal.
Detak jantung Anin berdegup tak karuan, saat menatap kedua mata suaminya. Bahkan, terasa terkunci tubuhnya saat ingin menjauh dari suaminya. Lelaki mana yang akan tahan, jika didepan matanya ada bibir manis yang siap untuk diterkam.
Tidak ingin membuang kesempatan emas, Elang langsung menegakkan posisi duduknya dan menc_ium bibir manis milik istrinya.
Meski kakinya tak dapat melakukan apa-apa, kedua tangannya mampu untuk menahan tubuh istrinya agar tidak memberontak.
Semakin mencoba bergerak, Elang semakin kuat menahannya. Dengan bringas, Elang terus menc_iuminya sampai turun ke leher jen_jang milik istrinya hingga menyisakan bekasnya.
Setelah itu, Elang melepaskan istrinya tanpa merasa bersalah apapun padanya. Sedangkan Anin sendiri tidak mempunyai perlawanan apapun pada suaminya.
Dengan penuh kekesalan karena sudah merasa di curi ciu_mannya, Anin hanya bisa menahan rasa gondok di hatinya.
Saat itu juga, di tersadar jika lehernya meninggalkan bekas jejak suaminya.
__ADS_1
"Aku pinjam kain punyamu, terserah kain apa." Ucap Anin langsung tanpa basa-basi.
"Untuk apa?" tanya Elang yang tidak mengerti.
"Untuk menutupi luka yang ada di leherku." Jawab Anin berterus terang.
"Oh, biarkan aja. Kamu langsung turun aja, dan masuk ke kamar. Lagi pula, MaMa dan Papa belum sampai. Jadi, kamu bisa masuk ke rumah duluan." Kata Elang.
Anin yang merasa dongkol, langsung turun dari mobil dan segera masuk ke kamarnya. Tidak peduli bagi Anin, jika harus meninggalkan suaminya yang masih berada di mobil.
Sampainya di dalam kamar, Anin langsung berdiri di depan cermin untuk memastikan bekas jejak yang ditinggalkan oleh suaminya.
Benar saja, ada banyak bekas akibat ulah suaminya sendiri, saat dirinya membantunya untuk melepaskan sabuk pengaman.
Anin memegangi bekas tersebut sambil memejamkan kedua matanya. Berharap, lelaki yang pertama dan terakhir yang menyentuh dirinya yakni, Andika. Tapi, kenyataannya lain dari harapannya itu. Justru, Elang lah yang sudah menyentuhnya.
"Maafkan aku, Anin. Jika aku sudah melakukan hal yang salah terhadapmu. Aku lelaki bo_doh yang jatuh cinta padamu, yang tak pernah berpikir, kamu itu milik siapa? sedangkan yang aku tahu, sekarang kamu adalah milikku." Ucap Elang yang akhirnya berterus terang pada istrinya.
Anin masih berdiri di depan cermin. Bukan lagi menatap wajahnya sendiri, melainkan melihat pantulan suaminya lewat cermin di depannya.
__ADS_1
Elang mendekati istrinya.