Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Pertemuan yang sah


__ADS_3

Tuan Mawan segera menemui putranya di kamar.


"Elang! awas!" teriak Tuan Mawan yang langsung menangkap putranya yang hampir saja jatuh dari atas tempat tidurnya yang hendak pindah ke kursi roda.


"Kamu bisa minta tolong sama Bibi atau pak Ratno, atau yang lainnya. Kalau kamu jatuh, bagaimana? karena tidak ada yang mengawasi kamu."


"Aku hanya tidak ingin selalu merepotkan orang lain saja kok, Pa."


Tuan Mawan yang mendengarnya, pun merasa heran. Pasalnya, yang diketahui oleh sang ayah hanya berteriak dan marah-marah. Sedangkan waktunya untuk bertemu dengan Anin, Elang mulai kelihatan aneh.


Dari bicaranya, dari sikapnya, Elang mulai berubah.


"Lain kali jangan kamu ulangi, berbahaya untuk kamu. Kalau sampai terjadi struk, fatal akibatnya. Sekarang juga, ayo kita berangkat. Mama dan Anin sudah menunggu kamu." Ucap Tuan Mawan.


"Sebenarnya ada apa sih, Pa? bertemu saja harus keluar rumah. Bukankah di rumah juga bisa, kenapa mesti di luar?"


"Karena hari ini juga, kamu dan Anin akan menikah. Jadi, persiapkan diri kamu sebaik mungkin saat kamu mengucapkan kalimat sakral dengannya."


"Me-menikah?" tanya Elang seperti mendengar senda gurauan.


Tuan Mawan mengangguk pelan.


"Ya, kamu akan menikah degan Anin, gadis cantik dari kampung. Gadis yang sering kamu ceritakan sama Mama dan Papa, perempuan yang ada di foto yang sering kamu peluk bingkainya." Kata sang ayah, Elang justru mengernyit.


Seakan dirinya mendapatkan malu karena tingkah konyolnya yang kelewatan, pikirnya.


"Bukankah Anin menikahnya dengan Andika? Papa jangan mengada-ngada. Lebih baik Anin suruh datang ke rumah, aku sedang malas untuk keluar." Jawab Elang seraya dikerjain ayahnya.


Pasalnya, Elang tidak mengetahui jika Andika sudah meninggal dan juga Anin yang dipenjara.


"Nanti kamu akan mengetahui kebenarannya sendiri, jika kamu memang benar-benar akan menikah dengan Anin."


"Tidak, Pa. Jangan bilang, kalau Papa memaksa Anin untuk menikah denganku. Karena aku tahu, Anin hanya mencintai Andika. Begitu juga dengan Andika, dia sangat mencintai Anin. Aku tahu seperti apa mereka berdua menjaga hubungannya, dan aku tidak ingin menjadi duri diantara mereka. Andika temanku, dan tidak akan aku menjadikannya musuhku." Jawab Elang karena ketidaktahuannya.

__ADS_1


"Sudahlah, ayo kita berangkat. Waktu kita tidak banyak, masih ada sesuatu yang belum kamu ketahui. Sekarang, Persiapkan diri kamu untuk mengucapkan kalimat sakral." Ucap sang ayah yang belum berani untuk memberitahu yang sebenarnya.


Elang yang penasaran dan merasa ada sesuatu yang ditutupi, akhirnya nurut ajakan ayahnya.


Dalam perjalanan menuju tempat yang akan dituju, Elang terus memikirkan sesuatu yang sudah menguasai pikirannya mengenai Anin, Andika, dan dirinya sendiri.


Tidak terasa sudah sampai didalam area gedung.


"Kita sudah sampai, ayo turun." Ajak Tuan Mawan sambil melepaskan sabuk pengaman.


Kemudian membantu putranya untuk melepaskannya. Kemudian, Tuan Mawan dibantu supirnya untuk membantu Elang duduk di kursi rodanya.


"Papa serius kah, kalau aku masuk ke dalam? Jangan-jangan hari ini Anin dan Andika menikah, ya 'kan Pa? lebih baik aku pulang saja."


"Makanya kita masuk dulu, biar kamu bisa melihatnya langsung. Lagi pula, tidak ada banyak orang didalam gedung ini." Kata sang ayah untuk meyakinkan putranya.


"Jika Papa membohongiku, aku tidak akan pernah memaafkan Papa."


"Papa tidak membohongi kamu, Nak. Yang Papa katakan itu benar. Bahwa kamulah calon mempelai laki-lakinya." Kata sang ayah, Elang tidak menghiraukannya.


Dengan berat hati jika dirinya dibohongi, terpaksa ikut ayahnya masuk. Sudah jatuh, tertimpa tangga, pula.


Seperti itu yang ada dalam pikiran Elang, mustahil baginya jika akan menikah dengan Anin.


Karena sudah ditunggu kehadirannya, Tuan Mawan segera mengajak putranya masuk kedalam gedung. Meski acara tidak begitu mewah, cukup untuk dijadikan saksi pernikahan anak laki-laki satu-satunya.


Elang sama sekali tidak berani menampakkan wajahnya, memilih untuk menunduk demi mengalihkan pandangannya. Semua saksi dan beberapa tamu undangan dari kerabat yang datang, tengah memperhatikan kehadiran pewaris tunggal dari keluarga Alexander.


Tampan dan mempunyai kharisma, itu sudah ada pada diri Elang. Tapi, kenyataannya harus cidera pada kakinya yang mengakibatkan tidak bisa berjalan.


Pernah frustrasi, kedua orang tua Elang berencana membuat biro jodoh, tetapi ditentang oleh Elang sendiri.


Dan kini, Elang mendatangi pernikahannya sendiri yang diduga hanya pembohongan saja. Karena dirinya tahu, yang didatanginya adalah pernikahan kedua temannya, Anin dan Andika.

__ADS_1


Sedangkan Anin tengah duduk di sebelah adiknya, seperti mimpi baginya akan menikah. Rencana dan harapan akan menikah dengan lelaki yang dicintainya, rupanya berbanding terbalik dan tidak. sesuai harapan.


Justru, dirinya harus menikah dengan lelaki yang tidak pernah disangkakannya.


"Kak Anin, itu Kak Elang." Bisik Didit didekat telinga kakaknya.


Angin langsung mendongak karena penasaran. Dan benar saja, yang dilihat adalah Elang yang sudah mengenakan jasnya. Terlihat tampan, itu sudah pasti. Hanya saja, kondisinya yang tidak sempurna, yakni tengah duduk di kursi roda.


Sedangkan Elang sendiri tak berani menampakkan wajahnya ke siapapun, dan memilih untuk menunduk.


Karena kondisi yang tidak memungkinkan, Elang akhirnya diminta untuk berada disebelah ayahnya dan menghadap Didit dan Anin dengan posisi masih duduk di kursi rodanya. Tentu saja, agar Elang dapat melihat wajah calon istrinya.


"Elang, tegakkan pandanganmu ke depan. Sebentar lagi kamu akan mengucapkan kalimat sakral." Pinta sang ayah setengah berbisik didekat telinga putranya.


Elang yang tidak peduli mau itu dikerjain atau apalah, demi melihat Anin dan Andika menikah, akhirnya nurut dengan perintah ayahnya.


Alangkah terkejutnya saat melihat siapa wanita yang ada di hadapannya itu, Elang benar-benar seperti mimpi. Sama halnya dengan Anin, sama halnya terkejut saat sepasang matanya saling menatap satu sama lain.


Kemudian, Elang mencari keberadaan Andika di sekitarnya dan didekat Anin. Nihil, tidak ada kehadiran Andika di acara pernikahan. Elang semakin bingung dibuatnya.


Acaranya pun langsung dimulai, dan tak lupa menyebutkan nama calon pengantin laki-laki dan perempuan. Tentu saja Elang kaget, karena namanya disebutkan, dan bukan nama Andika yang disebutkan.


Saat itu juga, Elang diminta untuk siap mengucapkan kalimat sakral. Sungguh diluar dugaan. Pikirnya hanya akan menjadi saksi pernikahan temannya, justru dirinya yang akan mengucapkan kalimat sakral.


Anin yang merasa malu, memilih untuk menunduk. Ibunya Elang langsung menggenggam tangan calon menantunya agar tidak gugup dan gelisah.


Saat itu juga, Elang akhirnya mengucapkan kalimat sakral begitu sangat jelas untuk didengar. Anin gemetaran saat mendengarnya, bagai mendapatkan sengatan listrik ketika Elang mengucapkannya.


Dan akhirnya, Elang dan Anin resmi menjadi suami-istri yang sah.


Dengan sekuat hatinya, Anin mendongak ke arah Elang yang juga tengah menatap wajah perempuan yang sudah menjadi istri sahnya.


'Bod_oh sekali aku ini, kenapa juga tidak bertanya dimana Andika. Apakah Andika kabur? dan aku yang harus menggantikannya? tidak, ini tidak mungkin.' Batin Elang yang baru menyadarinya.

__ADS_1


__ADS_2