Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Mudah emosi


__ADS_3

Elang menoleh pada istrinya.


"Kalau kamu mau turun, silakan. Aku di dalam mobil aja." Ucap Elang pada istrinya.


"Kamu juga ikutan turun. Kalau kamu tidak mau, aku pun sama." Jawab Anin yang masih memegangi tangan suaminya.


"Jangan berdebat, kalian berdua segera turun." Ucap ibunya Elang.


"Ya, Ma." Jawab keduanya bersamaan.


Anin dan Elang akhirnya menuruti ajakan ibunya untuk makan di Restoran.


Sesudah keduanya turun dari mobil, Anin yang mendorong kursi rodanya sampai dalam Restoran.


Banyak sepasang mata yang tengah melihatnya, dan ada juga yang kagum dengan sosok Anin maupun memandangnya dengan sinis.


"Lihatlah, kalau bukan dari keluarga berduit, mana mungkin dia mau menjadi istrinya." Ucap salah satu orang yang tengah menikmati makannya sambil membicarakan sosok Anin yang menjadi pusat perhatian.


"Halah! palingan juga pembantunya, lihat aja cara bawa kursi rodanya." Timpal yang satunya.


"Yang jelas tuh, tanpa duit, mana mau." Kata yang satunya lagi ikut bergosip.


Berbeda dengan yang kagum, terasa sempurna ketika melihat pasangan Anin dan Elang, yang sama-sama menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain.


Elang dan Anin tidak begitu menghiraukan apa yang dapat ditangkap saat ada orang yang tengah membicarakannya.


Sampainya di tempat yang sudah di pesan dalam perjalanan oleh Tuan Mawan, Elang merasa risih saat ayahnya memilih tempat duduk yang terbukan, bukan yang privat.


Entah apa tujuan orang tuanya memilih tempat terbuka, Elang hanya bisa mendengus kesal.


Meski cukup nyaman dan tidak begitu dipadati orang di sekelilingnya, tetap saja membuat Elang merasa risih.


"Kamu kenapa, Nak? kelihatannya sedang kesal gitu."


Sang ibu yang mendapati putranya tidak nyaman, mencoba untuk bertanya.


"Ma, kenapa sih mesti memilih tempat yang dapat dilihat orang banyak. Memangnya ruangan privat sudah tidak ada? kalau ditempat seperti ini, Elang tidak bebas mau ngapain aja." Kata Elang protes.


"Kamu tidak perlu malu, kita datang cuman untuk makan." Sahut sang ayah.


"Yang dikatakan Papa kamu itu benar, kita cuman sebentar aja."

__ADS_1


Jawab sang ibu, Elang hanya membuang napasnya dengan kasar ke sembarangan arah. Kemudian, ia menoleh dan menatap istrinya.


"Kamu lagi, malah diam. Dibela kek, suami kamu ini." Ucap Elang dengan tatapan kesal.


"Ya udah kalau gitu, Papa mau pesankan ruangan privat untuk kalian berdua. Anin, ikut Papa. Biar yang mendorong kursi rodanya Papa saja, kamu tidak perlu."


"Tapi, Pa. Biar Anin aja yang dorong kursi rodanya." Jawab Anin yang merasa tidak enak hati.


"Tidak ada tapi tapian, biar Papa aja yang dorong kursi rodanya." Kata ayah mertua.


"Turuti aja apa kata Papa, Nin. Papah emang begitu orangnya, jangan takut."


"Ya, Ma." Jawab Anin pasrah.


Karena kalau sudah menunjukkan emosinya, Tuan Mawan segera menuruti permintaan putranya. Takutnya, akan menjadi gaduh di dalam Restoran dan akan menjadi viral.


"Semoga saja, Elang segera sembuh dan pulih kembali seperti dulu. Sudah tidak sabar melihat mereka akrab lagi, sedekat yang pernah Elang ceritakan." Gumamnya lirih dan tersenyum bahagia saat putranya tidak sendirian lagi.


Saat itu juga, tengah dikagetkan dengan


getaran dalam tas kecilnya. Ibunya Elang segera merogoh dan mengambilnya. Kemudian, dilihatnya layar ponselnya.


"Pesan masuk dengan nomor asing, siapa?" ucapnya lirih dengan rasa penasaran.


"Sudah ada di tangan saya, Nyonya." Ucapnya mengikuti tulisan yang ada dalam pesan masuk.


"Syukurlah, ternyata sudah di temukan. Anin pasti sangat senang, ketika aku memberikannya langsung padanya." Ucapnya lagi setelah membaca pesan masuk.


Tanpa disadari, suaminya tengah memperhatikan istrinya yang sedang senyum-senyum tidak jelas.


"Mama kenapa sih, Papa perhatiin dari tadi senyum-senyum gitu. Malu tuh dilihat banyak orang, udah kek kekurangan kewarasan aja ini Mama." Kata Tuan Mawan saat mendapati istrinya yang seperti ada yang aneh.


"Ini loh Pa, Mama mendapat kabar baik." Jawab istrinya sambil meletakkan ponselnya.


"Kabar baiknya, apa?"


"Berkas punya Anin sudah ketemu beserta barang berharganya, katanya nanti akan di antar ke rumah. Jadi, kita bisa pergi ke luar negri dengan tenang." Jawab sang istri.


"Syukurlah kalau sudah ditemukan, punya Didit bagaimana?" tanya Tuan Mawan kembali.


"Punya Didit sudah ditemukan lebih dulu, karena insiden kecelakaan itu." Jawab ibunya Elang.

__ADS_1


"Memangnya barang berharga macam apa sih, Ma? jadi penasaran."


"Mama juga kurang tahu, nanti kita bahas di rumah aja. Sekarang kita makan siang dulu, pelayannya sudah datang tuh." Jawabnya, Tuan Mawan mengangguk dan nurut dengan istrinya.


Sedangkan Elang dan Anin, sama halnya baru saja diantarkan pesanannya.


Dengan telaten, Anin ikut andil untuk mengambilkan porsi makan untuk suaminya.


"Mau minta disuapin atau mau makan sendiri?" tawar anin usai mengambilkan porsi makan untuk suaminya.


"Sini, biar aku yang akan menyuapi kamu dulu." Jawab Elang yang langsung mengambil sendok makan.


"Tidak usah, aku bisa makan sendiri." Kata Anin menolak.


"Ya udah kalau kamu mau makan sendiri, aku juga bisa makan sendiri." Ucap Elang yang langsung menikmati makanannya, dan sama sekali tidak menoleh lagi pada istrinya.


"Kamu marah denganku?" tanya Anin yang merasa diabaikan suaminya.


Elang tidak merespon sama sekali, dan memilih menikmati makanannya secepat mungkin.


Tanpa konsentrasi karena terburu-buru, akhirnya ter batuk-batuk juga si Elang.


"Minumlah, kalau makan jangan terburu-buru." Ucap Anin sambil menyodorkan satu gelas air minum di depan suaminya.


Bukannya langsung minum, Elang menoleh pada istrinya dengan napasnya yang terasa sesak didalam dadanya.


Elang yang merasa begitu sakit hingga tembus pada ulu hatinya, lantaran mencintai perempuan yang mana perempuannya itu tidak mencintainya.


Hal terberat yang tengah dirasakan oleh Elang, butuh kesabaran yang begitu dalam untuk mencintai perempuan yang dicintainya.


"Sekarang juga, kamu keluar dari ruangan ini, suruh pelayan untuk membawakan makananmu keluar, dan makanlah bersama Papa dan Mama."


Perintah Elang yang entah ada angin apa, tiba-tiba dirinya meminta sang istri untuk meninggalkannya sendirian berada di dalam ruangan tersebut.


Anin dibuatnya bingung oleh suami sendiri. Tidak ada angin atau pun hujan, tiba-tiba sang suami mengusirnya. Mungkinkah karena ucapannya barusan? atau memang sedang sensitif, Anin mengatur pernapasannya agar tidak terpancing emosi juga.


"Apa karena tadi aku salah bicara? hingga membuatmu tersinggung? aku minta maaf, aku tidak ada maksud apapun. Aku hanya tidak ingin merepotkan kamu, karena aku sedang tidak sakit. Jadi, kamu tidak perlu untuk menyuapi aku." Jawab Anin yang akhirnya memberi penjelasan pada suaminya.


Elang tidak menanggapinya, dan memilih diam.


"Baiklah, aku akan menerima suapan darimu." Sambungnya lagi yang akhirnya memilih nurut pada suaminya.

__ADS_1


"Aku sudah kenyang, dan juga sudah tidak berselera lagi untuk menyuapi kamu. Kalau kamu mau makan, makan aja." Ucap Elang masih dengan ekspresi dinginnya.


__ADS_2