
Elang duduk sendirian tanpa ada istri disebelahnya.
"Andika, sudah sekian lama kita tidak pernah bertemu. Sekalinya bertemu, kamu sudah pergi lebih dulu. Aku mau minta maaf karena sudah menyukai perempuan yang sama denganmu. Maafkan aku juga, jika aku sudah mengambil perempuan yang kamu cintai. Karena aku ... juga mencintainya. Aku janji, akan bertanggung jawab tentang Anin." Ucapnya lirih sambil menaburkan lagi bunganya.
Tak disangka, rupanya sang istri sudah berdiri di sampingnya. Dengan jelas, Anin dapat mendengarkan apa yang sudah terucap oleh suaminya sendiri.
Anin yang tidak bisa berbohong dengan perasaannya sendiri, menangis sesenggukan. Mulut bisa mengatakan kuat dan tegar, tapi hati dan pikirannya tak bisa untuk menutupi kebohongan.
Elang yang merasa tak berguna, dan tak lagi seperti dulu yang selalu memberi perhatian pada istrinya, dirinya merasa geram dengan diri sendiri karena kondisinya yang tidak bisa apa-apa.
Jangan untuk merangkul istrinya, berdiri saja dirinya tak mampu.
Dengan tekadnya, Elang memaksa dirinya untuk berdiri dengan segudang emosinya yang sekian lama ingin ia luapkan.
BRUK!
"Aaaa!" teriak Elang cukup kencang saat dirinya terjatuh bersamaan dengan kursi rodanya.
"Lang!" teriak Anin yang dikagetkan dengan jatuhnya sang suami dari kursi roda.
Didit langsung datang untuk menolong Elang, dan disusul oleh yang lainnya, termasuk Tuan Mawan dan istrinya.
"Lepaskan! aku bisa berdiri sendiri, aku tidak butuh bantuan kalian." Bentak Elang sambil menyingkirkan tangan Didit sangat kuat, dan cukup sakit yang dirasakan oleh Didit.
Sedangkan Anin masih berjongkok sebelah kanan suaminya, niatnya pun sama untuk membantu suaminya sendiri. Elang sengaja hanya menyibakkan tangan kirinya untuk menyingkirkan tangan adik iparnya agar tidak membantunya.
"Jangan dipaksakan jika Kak Elang tidak bisa untuk berdiri, nanti akan bertambah sakit." Ucap Didit berusaha mengingatkan kakak iparnya.
"Ya, Lang, yang dikatakan Didit itu benar." Timpal sang ayah.
"Diam! semua." Bentak Elang dengan suara cukup keras.
Anin yang mendengar suara bentakan dari mulut suaminya, benar-benar sangat terkejut. Apa yang ia dengar, semua diluar dugaannya. Elang yang dulu ia kenal yang tidak mengeluarkan nada tinggi, kini seakan gendang telinganya seperti mau pecah mendengarkannya.
"Biar aku yang bantu kamu berdiri ya, Lang." Tawar Anin berusaha untuk merayu suaminya, meski dirinya bakal mendapatkan bentakan sekalipun.
"Nggak perlu! aku bisa melakukannya sendiri." Jawabnya dengan penekanan.
Sedangkan kedua orang tua Elang dan yang lainnya sengaja tidak untuk memaksakannya, dan membiarkannya untuk bertanggung jawab atas ucapannya sendiri yang berlagak mampu untuk berdiri sendiri.
"Lakukan, jika kamu bisa melakukannya, Lang." Kata sang ayah yang sengaja memancing emosi putranya.
__ADS_1
Terkadang, orang untuk berubah tidak malas itu, butuh sesuatu yang bisa menggerakkan hatinya.
Meski kenyataannya tidak bisa untuk berdiri, setidaknya ada keinginan untuk sembuh dan tidak untuk menyerah, serta bermalas-malasan untuk melakukan pengobatan maupun terapi, pikir Tuan Mawan.
"Coba, Nak, kalau kamu bisa berdiri sendiri, lakukanlah." Ucap sang ibu ikut menimpali.
Elang yang merasa tertantang oleh kedua orang tuanya, begitu geram mendengarnya.
"Jangan egois, mari aku bantu kamu untuk berdiri." Ucap Anin memberi tawaran pada suaminya yang kedua kalinya.
Elang langsung menoleh padanya, dan tersenyum sinis saat menerima tawaran dari istrinya.
Merasa kesal dan geram, akhirnya nekad untuk berdiri sendiri walaupun entah apa yang akan terjadi.
"Aw!" pekik Elang cukup keras dan akhirnya kembali terjatuh.
Dengan sigap, tubuh Elang mampu ditahan oleh Anin dan dibantu oleh Didit dan Tuan Mawan untuk kembali duduk ke kursi roda.
Elang merasa sial karena dirinya gagal untuk bisa berdiri layaknya didalam drama yang ia tonton, pikirnya. Tapi kenyataannya, dirinya sulit untuk melakukannya.
Merasa gagal dan tidak bisa menunjukkan apa yang ia katakan, akhirnya memilih untuk diam.
"Baik, Nona." Jawabnya.
Elang sendiri tetap diam dan tidak menolak jika istrinya yang mendorong kursi rodanya. Begitu juga kedua orang tuanya, sama sekali tidak melarang menantunya.
Dalam benak pikiran Tuan Mawan dan istrinya, yakni demi kedekatan mereka berdua.
Sambil mendorong kursi roda dan meninggalkan pusaran mendiang kekasihnya, Anin menoleh dengan perasaan sedihnya.
Didit yang melihat kakaknya begitu sedih saat mendatangi makam kekasihnya, ia merasa bersalah besar karena terlalu cepat untuk menerima tawaran dari orang tua Elang.
Tapi, di lain sisi, Didit tidak ingin kakaknya berada dalam tahanan sampai seumur hidupnya. Kesempatan datang tidak ada yang yang kedua kali, pikirnya.
Jadi, apa yang menurutnya ada kesempatan, kenapa tidak?
Saat sudah dalam perjalanan, Elang masih diam, meski hanya berdua dengan istrinya di dalam mobil.
Sedangkan kedua orang tuanya sudah tidak lagi satu mobil dengannya, karena tidak ingin mengganggu kedekatan putranya dengan sang istri.
Anin sendiri memilih untuk melihat jalanan dari pada salah bicara saat mengajak suaminya untuk mengobrol, karena takutnya sang suami masih di kuasai oleh emosinya.
__ADS_1
Orang sakit akan cenderung dengan mudah emosi, dan sangat sensitif akan perasaannya, pikir Anin dengan apa yang ia temui pada seseorang yang mengalami kondisi fisiknya lemah.
'Apa benar, yang dikatakan kedua orang tuanya itu sudah berubah? Elang yang di kenal sekarang bukanlah Elang yang dulu?' batin Anin yang merasa tidak percaya dengan apa yang pernah ia dengar dari mertuanya.
Kemudian, Anin menoleh pada suaminya. Dilihatnya sang suami yang juga tengah melamun sambil melihat jalanan di sisi kanan.
Saat itu juga, Anin teringat dengan apa yang dikatakan suaminya saat tengah berdiri di sebelahnya, yakni ketika dirinya hendak menabur bunga ke pusaran mendiang kekasihnya.
Anin yang semakin penat memikirkan banyaknya masalah yang harus ia diterima, memilih untuk menyandarkan kepalanya di jendela kaca mobil dan memejamkan matanya.
Berharap, beban yang ia terima akan berkurang. Meski cukup pahit yang perjalanan untuk dilewati.
"Tuan, Nona, kita sudah sampai." Panggil pak Ratno pada kedua majikannya yang ternyata tidur dengan pulas.
Pak Ratno yang tidak mendapatkan jawaban dari kedua majikannya, pun tersenyum.
"Tuan, Nona, kita sudah sampai."
Pak Ratno kembali membangunkan kedua majikannya, tak peduli jika Tuannya akan marah sekalipun.
Elang dan Anin yang merasa dibangunkan dari tidurnya, pelan-pelan keduanya membuka mata.
Kemudian, mengucek kedua matanya, dan menyempurnakan penglihatannya.
"Sudah sampai?" tanya Elang sambil melihat sekelilingnya.
"Ya, Tuan. Kita sekarang sudah berada di Restoran, waktunya untuk makan siang." Jawab Pak Ratno.
"Restoran? kenapa mesti ke Restoran, aku gak mau makan di Restoran. Mendingan juga kita pulang aja deh, Pak." Kata Elang menolak, entah apa alasannya, Elang selalu menolak untuk makan di Restoran maupun yang lainnya.
"Elang, ayo turun, Nak. Sudah waktunya untuk makan siang. Mau sampai kapan, kamu tidak akan menampakkan diri dari khalayak umum? kamu sudah punya istri, dan kamu tidak perlu malu. Percaya sama Mama, tidak akan ada yang mencemooh kamu." Kata sang ibu yang berusaha untuk membujuk putranya.
Anin yang tahu bagaimana kondisi suaminya yang sekarang, tangannya segera ia raih sambil menatap suaminya.
___
Sebelumnya saya minta maaf, jika sudah beberapa hari ini updatenya hanya satu bab, dikarenakan kondisi saya yang sedang tidak fit, sudah lima hari ini saya tumbang, yakni jatuh sakit. Nanti kalau keadaan fisik sudah membaik, akan diusahakan crazy up lagi seperti awal ya...
Maaf ya readers setia ... cuaca sedang tidak mendukung dan banyak anak anak maupun orang dewasa jatuh sakit di tempat saya. Dan saya doakan yang disana berada selalu diberi kesehatan, aamiin.
Karena sehat itu mahal, ternyata.
__ADS_1