Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Sungguh diluar dugaan


__ADS_3

Anin masih mengawasi suaminya dengan jarak yang tidak begitu jauh, Elang terus mencobanya untuk bisa berdiri. Walau rasa sakit itu teramat menyiksa, sebisa mungkin untuk tetap terlihat tenang.


Demi harapan yang ia dambakan, menjalin pernikahan dengan perempuan yang dicintainya itu, Elang berusaha keras untuk bisa sembuh.


Harapan yang menurutnya hampir saja pupus, kita telah kembali harapan itu, meski tidak mudah untuk dijalaninya.


Sambil menahan rasa sakit, akhirnya Elang mampu berdiri dengan caranya dengan bantuan alat bantu.


"Aw! pekik Elang sambil menahan rasa sakitnya.


"Hati-hati, bisa jatuh kamunya." Kata Anin saat sudah menahan tubuh suaminya yang hampir saja terjatuh karena keseimbangan suami yang masih belum kokoh.


"Tidak apa-apa, ini hal wajar." Jawab Elang.


"Ya, aku, tapi kalau kamu jatuh, bagaimana? jangan dipaksakan jika kaki kamu tidak mampu untuk berdiri. Lebih baik kamu lakukan pemanasan dulu, jangan melakukan sendiri jika kamu masih merasakan sakit." Kata Anin untuk mengingatkan suaminya.


Elang tersenyum mendengarnya.


"Kamu tenang saja, aku tidak apa-apa kik. Sekarang aku mau mencoba untuk berjalan." Ucapnya yang begitu nekad untuk bisa berjalan.


Dibilang terburu-buru itu sudah pasti. Lantaran, Elang yang begitu menggebu ingin rasanya segera bisa sembuh dan menjalani kesehariannya seperti orang-orang yang lainnya.


Tentunya, semua itu tidak mudah baginya. Tetap saja, tidak boleh menyerah.


"Kamu serius mau mencoba berjalan, apa tidak sebaiknya kamu itu belajar duduk dan berdiri terlebih dahulu?" tanya Anin sedikit ada rasa takut dan juga cemas.


"Tenang saja, sayang, aku bisa kok. Ada kamu yang menjadi penyemangatku, aku akan mencobanya." Jawab Elang yang begitu bersemangat untuk belajar berjalan.


"Ya udah kalau kamu yakin pada diri kamu sendiri, aku hanya takut jika kamu kenapa-kenapa." Kata Anin yang begitu khawatir, dan dirinya akan disalahkan jika terjadi sesuatu pada suaminya.


"Ya, sayang. Kamu cukup awasi aku saja, itu sudah cukup." Jawab Elang sambil membenarkan posisinya yang hendak melangkah.


Dengan tekadnya atas keberaniannya, Elang nekad untuk belajar berjalan.


Sambil menahan rasa sakit karena sudah begitu lamanya tidak pernah berdiri, kini Elang merasakan rasa sakit itu lantaran sudah dua tahun ketergantungan dengan kursi roda.

__ADS_1


Satu langkah yang begitu berat, akhirnya Elang berhasil melakukannya. Anin tersenyum bahagia melihat suaminya telah mampu untuk melangkah, walau selangkah saja sekalipun.


"Aku bisa, 'kan? kamu tenang saja, aku pasti bisa berjalan." Ucap Elang mencoba untuk meyakinkan istrinya.


Begitu menggebu akan kesembuhan kakinya dan bisa berjalan lagi seperti dulu. Tentu saja sangat rindu ingin jalan-jalan menemani istrinya, bukan ditemani.


Karena rasa penasaran, Elang mencoba untuk melangkahkan kakinya untuk berjalan. Dan benar saja, Elang kembali berhasil untuk melakukannya.


"Kamu bisa jalan, say ..."


Ucap Anin yang hampir keceplosan dengan memanggil suaminya dengan panggilan sayang. Elang tersenyum mendengarnya.


"Kenapa berhenti?" tanya Elang.


Anin tersipu malu saat suaminya menegur.


"Tidak apa-apa," jawab Anin setengah gugup.


"Aku mau coba lagi ya, kamu berdiri di situ saja." Ucap Elang, dan dilanjutkan untuk kembali melangkahkan kakinya.


Satu langkah dua langkah, akhirnya berhasil untuk melemaskan otot-otot yang terasa kaku.


Tetap saja, semua itu tidak mudah untuk dijalaninya. Elah harus sering-sering untuk belajar berjalan. Mulai dari alat penyangga, kemudian dilanjutkan dengan tanpa alat bantu apapun. Tentunya, itu semua butuh proses untuk hasil yang maksimal.


Dengan kesungguhannya, Elang terus belajar dan belajar tanpa lelah maupun menyerah.


Waktu pun telah di lewati dengan seiringnya waktu berjalan, hari bertemu hari berikutnya, dan waktu telah dilewati begitu lama. Sudah ada dua minggu lamanya, Elang tidak pernah ada kata patah semangat untuk sembuh.


Sejak kedua orang tuanya tidak ada di rumah, kesibukan Anin menemani suaminya belajar berjalan. Karena tidak ingin asal-asalan, Elang di dampingi oleh seseorang yang jadwalkan untuk melakukan terapi berjalan.


Tidak terasa sudah tiga minggu lamanya, kedua orang tuanya belum juga pulang. Entah apa tujuannya, sudah hampir satu bulan belum juga kembali ke rumah.


Anin tengah disibukkan dengan aktivitasnya di sore hari untuk menyiapkan makan malam. Karena tidak ada kegiatan apapun di rumah selain ikut di dapur dengan Bi Narsih dan asisten lainnya di rumah.


Emang sendiri berada di ruang keluarga, sedangkan Anin kebetulan tengah sendirian di dapur.

__ADS_1


Elang yang begitu nekad, akhirnya mulai belajar berjalan tanpa alat penyangga. Dimulai dari berdiri, dan dilanjutkan untuk melangkahkan kakinya.


Dan benar saja, Elang mampu melakukannya tanpa alat bantu.


"Sayang! aku bisa berjalan." Teriak Elang sambil berjalan menuju dapur untuk menemui istrinya.


Anin yang mendengar suaminya telah memanggil dirinya, segera menuju ke sumber suara. Dengan langkah kakinya yang terburu-buru, Anin mendapati sang suami yang tengah berjalan dengan pelan-pelan.


Alangkah terkejutnya saat melihat suaminya mampu berjalan dengan alat bantunya.


Anin membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna karena benar-benar tidak menyangka.


Anin masih berdiri mematung, sedangkan Elang tengah berjalan menuju istrinya dengan langkah kakinya.


Sampainya di hadapan sang istri, Elang langsung memeluknya begitu erat. Anin terharu dan tak sadarkan diri telah meneteskan air matanya karena bahagia.


"Aku sudah bisa berjalan, sayang. Aku bisa berjalan." Ucap Elang dengan perasaan bahagia, akhirnya impiannya telah tercapai untuk bisa berjalan.


Begitu juga dengan Anin, sungguh di luar dugaannya, jika sang suami bisa berjalan diwaktu yang begitu dekat.


Merasa sudah cukup, Elang melepaskan pelukannya. Kemudian, ia menatap wajah istrinya yang didapati terlihat baru saja menangis.


"Kenapa kamu menangis, sayang?" tanya Elang sambil mengusap air matanya dengan jari-jari tangannya.


"Aku bahagia melihatmu bisa berjalan. Dengan kesungguhan kamu, akhirnya kamu bisa menjalani ini semua. Semoga, langkah kakimu menjadi lebih sempurna lagi." Jawab Anin sambil mendongak pada suaminya, karena lebih tinggi suaminya dibanding dirinya.


Elang kembali memeluk istrinya. Bi Narsih yang melihatnya, pun sangat terkejut. Benar-benar di luar dugaannya, jika Elang sudah dapat berjalan lagi.


"Den Elang sudah bisa berjalan?" tanya Bi Narsih dengan haru.


"Ya, Bi. Sekarang aku sudah bisa berjalan tanpa alat bantu, semua ini karena ide istriku, Bi."


"Bibi ikut bahagia, Den. Akhirnya, Den Elang sudah bisa berjalan. Tuan dan Nyonya pasti sangat bahagia mendengar kabar ini, Den." Ucap Bi Narsih masih seperti mimpi.


"Tidak usah, Bi. Biarin Mama dan Papa melihatnya sendiri kalau sudah pulang."

__ADS_1


"Ya, Den, ya." Jawab Bi Narsih.


Tetap saja, Bi Narsih akan memberi kabar pada kedua majikannya mengenai kabar bahagia.


__ADS_2