
Sampainya di kediaman rumah milik orang tua Didit dan Anin, semua segera turun dari mobil. Dengan sangat hati-hati, Anin dan Lara membantu ibunya untuk turun dari mobil, juga berjalan sampai didalam rumah.
Meski sudah mampu untuk berjalan dengan normal, Anin dan Lara tak lepas untuk memberi perhatian.
'Ternyata Anin orang yang sangat baik, bahkan begitu telaten saat menjaga Mama. Pantas saja, Andika dan Elang jatuh cinta dengannya.' Batin Lara saat mengetahui sikap baik dari Anin.
Sampainya didalam rumah, sang ibu meminta untuk duduk di ruang keluarga. Rumah yang pernah menjadi saksi akan pertemuannya dengan mendiang kekasihnya, Anin kembali teringat begitu sangat jelas dalam ingatannya.
'Aku tak pernah menyangka, jika rumah yang pertama kali aku injakan kakiku ini, rupanya milik orang tuaku sendiri. Sungguh, dunia ini bagai seluasnya daun kelor.' Batin Anin yang tak pernah menyangkalnya.
"Aditya," panggil sang ibu.
Didit yang merasa namanya dipanggil, ia langsung mendekati ibunya.
"Ya, Ma." Jawab Didit sedikit canggung, lantaran tak pernah mengira jika perempuan paruh baya yang dianggapnya majikannya, ternyata ibu kandung sendiri.
Elang juga kembali teringat saat awal mulanya dipertemukan dengan ibunya sendiri.
"Mama mohon, kamu tinggal bersama Mama ya, Nak. Kalau untuk Kakak kamu, dia sudah bersuami, tentu saja harus ikut ajakan suaminya, dan Mama tidak mungkin juga untuk memaksakan kehendaknya." Ucap ibunya dan meminta putranya untuk tinggal bersamanya.
Didit sedikit ada rasa bingung, antara menerima dan menolak permintaan ibunya.
"Kalau menurutku, lebih baik Didit tinggal di rumah ini. Bukankah Didit adalah pewaris dari keluarga Pratama? jadi, tinggallah di rumah ini." Sahut Elang yang tiba-tiba langsung menjawabnya.
Didit langsung menoleh kearah kakak iparnya.
"Tapi, Kak."
Elang berjalan mendekatinya, dan berbisik di telinganya.
"Ikuti saja apa yang aku perintah padamu, kamu mengerti? iyakan saja. Nanti aku akan mengirimkan pesan padamu, setelah aku sudah sampai di rumah." Bisiknya didekat telinga adik iparnya.
Elang tahu, di dalam rumah mertuanya didapati banyaknya kamera, tentu saja di setiap sudutnya.
__ADS_1
Elang berdehem, dan mundur beberapa langkah dari hadapan adik iparnya.
Didit yang tidak bisa menolak perintah dari suami kakaknya, memilih nurut dan mengikuti apa yang harus ia lakukan.
"Bagaimana, Nak? kamu mau kan, tinggal bersama Mama?" tanya sang ibu. Tak peduli jika harus mendapat perintah dari kakak iparnya.
Setidaknya, ajakan dari ibunya dipenuhi, pikir sang ibu yang penuh harap kepada anak laki-laki satu-satunya.
Didit mengangguk.
"Ya, Ma, Aditya akan tinggal di rumah ini bersama Mama." Jawab Didit meyakinkan ibunya.
Anin yang mendengar jawaban dari adiknya, perasaannya menjadi lega.
"Kita pulang, aku masih banyak kerjaan di rumah." Bisik Elang mengkode istrinya.
Tidak dapat dimungkiri, Anin merasa takut jika adik laki-lakinya akan menjadi sasaran empuk oleh ayah tirinya, serta kepada putranya yang bernama Tian.
Setelah menyetujui ajakan dari suaminya, Anin segera berpamitan untuk pulang. Sedangkan Didit, tidak bisa ikut pulang bersamanya.
"Ya, Ma, kita berdua pamit untuk pulang. Besok lagi kita datang ke rumah ini, tidak apa-apa kan, Ma?"
Elang ikut menimpali.
"Ya, tidak apa-apa. Mama tidak menuntut apapun dari kalian. Sudah dipertemukan dengan keadaan baik-baik saja, Mama sudah sangat bahagia." Kata sang ibu yang merasa lega, jika putrinya telah menikah dengan lelaki baik, sesuai yang dijodohkan ayahnya.
"Lara, aku pamit pulang ya? aku titip Mama sama kamu, juga sama Didit. Dit, Kakak pulang, ya? jaga diri kamu baik-baik. Ingat, jangan sampai lupa untuk memberi perhatian kepada Mama." Ucap Anin berpamitan kepada Lara dan Didit.
"Ya, Nin. Kamu tenang aja, aku akan jaga Mama dengan baik." Jawab Lara meyakinkan.
"Makasih kalau gitu." Kata Anin.
"Ya Kak, tenang aja, Didit juga akan menjaga Mama dengan baik. Tidak akan Didit biarkan orang lain menyakiti Mama, siapapun orangnya." Jawab Didit yang juga meyakinkan kakaknya.
__ADS_1
Setelah berpamitan satu persatu, Elang meraih tangan istrinya dan mengajaknya untuk pulang.
Selama perjalanan, Anin bersandar di bagian dada bidangnya.
"Kamu yakin, Mama dan Didit akan baik-baik saja? meski aku merasa lega, tapi tetap saja aku khawatir pada Didit dan juga Mama. Kamu tahu sendiri, 'kan? seperti apa suaminya Mama."
Anin yang penuh kekhawatiran akan keselamatan ibunya dan juga sang adik, dirinya kembali bertanya kepada suami.
Elang mengusap lengan istrinya dengan lembut, dan mencium pucuk kepala milik sang istri.
"Kamu tenang saja, aku sudah mengerahkan anak buah untuk menjadi penyelidik di rumah Mama kamu."
"Apa, kamu sudah mengerahkan anak buah masuk ke kediaman rumah Mama? maksudnya gimana? aku sama sekali belum mengerti."
"Aku memasukkan beberapa orang untuk menjadi penjaga rumah, tentu saja sudah aku atur dengan Mama. Jadi, kamu tidak perlu takut dan cemas. Aku dan Papa sudah merencanakan sesuatu jika terjadi hal yang mengkhawatirkan." Jawab Elang memberi penjelasan kepada istrinya.
Anin yang baru saja mengerti atas penjelasan dari sang suami, Anin merasa lega.
"Kamu ya, banyak banget ide darimu. Aku doakan, semoga semuanya baik-baik saja. Soalnya aku sangat khawatir dengan Didit, apalagi dengan Mama. Kalau untuk soal Lara, aku rasa dia akan aman dari incaran ayahnya. Tidak mungkin kan, seorang ayah akan tega mencelakai putrinya." Kata Anin.
"Justru itu, yang aku khawatirkan adalah keselamatan Lara. Soalnya penjahat itu sangat licik, dan mempunyai rencana diluar dugaan kita. Bahkan, anak sendiri bisa menjadi sasaran empuk untuk dijadikan korban. Kecelakaan Mama kamu saja, ayah tiri kamu sendiri yang berulah. Masih untung belum dijebloskan penjara, tapi sebentar lagi, mereka berdua akan masuk bui." Ucap Elang sambil merangkul tubuh istrinya.
Dilain tempat, yakni di kantornya Elang. Kembali kepada Dinda, kini tengah gelisah lantaran tidak pernah mendapati sosok Elang hadir di kantor. Tentu saja, membuat Dinda kelabakan karena tidak mencuri perhatian darinya.
"Ngelamun terus, kamu ini. Ayok ah, kita ke kantin. Aku lapar nih, yuk cepetan ke kantin." Ucap Ayun mengagetkan, sekaligus mengajak Dinda untuk pergi ke kantin.
"Apaan sih, aku tuh lagi bete. Kalian kalau mau pergi ke kantin, sana pergi. Aku masih kenyang, lagi males makan juga sih." Jawab Dinda menolak ajakan dari Ayun.
Nilam yang malas memberi nasehat kepada Dinda, memilih untuk banyak diam. Kecewa, itu sudah pasti. Karena mempunyai teman yang tidak mau mengerti perasaan temannya sendiri, yakni kepada Anin.
"Kok gitu sih, Din. Seriusan nih, kamu gak mau ikut ke kantin."
"Gak, kalian aja." Kata Dinda.
__ADS_1
Nilam yang malas bicara, dirinya langsung pergi menuju kantin.