Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Membicarakan pertemuan


__ADS_3

Elang langsung merentangkan kedua tangannya, siap untuk memeluk istri tercintanya. Anin yang menyadarinya, segera memeluk suaminya.


Begitu sempurnanya atas kebagian yang ia dapatkan, yang kini sudah beristrikan sosok perempuan yang sangat dicintainya itu.


Elang masih terhanyut saat memeluk tubuh istrinya, sejenak ia memejamkan kedua matanya untuk merasakan kebahagiaan yang didapatkannya.


Tidak cukup hanya memeluk istrinya, Elang mencium puncak kepalanya.


"Aku sangat bahagia memiliki kamu, sayang. Jangan pernah pergi dari kehidupanku yang kedua kalinya, aku tak sanggup harus kehilangan kamu." Ucap Elang sambil memeluk istrinya.


Anin mencoba untuk melepaskan pelukan dari suaminya, dan mendongak ke arah sang suami.


"Aku pun juga bahagia bersuamikan kamu, yang bertanggungjawab dan juga penuh perhatian denganku. Maafkan aku yang pernah mengabaikan kamu, jika kamu yang akhirnya menjadi suamiku." Jawab Anin sambil menatap lekat pada suaminya.


Elang tersenyum mendengarnya.


"Semoga kita benar berjodoh sampai maut memisahkan." Ucap Elang sambil mendorong istrinya pelan pelan, hingga tak sadar mentok pada tempat tidur.


Elang sudah tidak terkontrol, tidak peduli dengan kondisinya yang belum membersihkan. Jangankan untuk mandi, melepaskan jas nya saja juga belum.


Keinginan yang tidak dapat untuk ditahan dan dibendung, Elang tidak peduli dengan waktu. Dirinya pun segera melepaskan pakaiannya yang masih melekat di tubuhnya dibantu sang istri.


Satu persatu, kancing baju kemejanya telah lepas dan menyisakan dada bidang yang terlihat menggoda. Anin mengusapnya dengan lembut, dan membuat suaminya semakin tidak terkendali dan menambah gai_rahnya.


Tak peduli dengan waktu yang sudah hampir sore, Elang tetap akan menuntaskan keinginannya yang sudah tidak dapat untuk ditahan lagi.


Elang yang sudah tidak sabar, langsung mendaratkan sebuah ciu_man hangat ke bibir ranum milik istrinya itu yang sudah dijadikannya candu.


Pagutan demi pagutan di setiap ciu_mannya, Elang semakin buas dibuatnya. Tidak hanya sampai disitu saja, Elang menjatuhkan tubuh istrinya ke tempat tidur dengan sangat hati-hati.


Kemudian, ia mulai aktif tangannya untuk membuka kancing baju istrinya hingga tak tersisa lagi yang melekat pada tubuh istrinya.


Pemandangan yang benar-benar sangat menggoda, Elang mulai berpindah untuk mencium istrinya ke leher jenja_ngnya.

__ADS_1


Anin semakin menggeliat saat suaminya mulai semakin berna_fsu, dan kedua tangannya menjadi aktif. Hingga tak sadarkan oleh keduanya, telah berada dalam balutan selimut yang sama, yakni dengan tubuh polosnya masing-masing.


Semakin lama, semakin panas ketika bermain ritual di atas tempat tidur. Keduanya benar-benar terbawa oleh kenikmatan yang diciptakan bersama hingga sampailah pada titik puncaknya.


Selesai melakukan ritual, keduanya segera membersihkan diri didalam kamar mandi secara bersamaan.


Lagi-lagi, Elang masih merasa kurang dan menginginkannya. Hingga keduanya mengulanginya lagi. Setelah itu, benar-benar membersihkan diri.


Tidak terasa juga, rupanya sudah waktunya untuk makan malam. Anin dan Elang segera keluar dari kamar dan menuju ruang makan.


Betapa malunya, ternyata ayah dan ibunya sudah duduk menunggu anak bersama menantunya keluar dari kamar.


Ibunya Elang tersenyum bahagia saat mendapati anak dan menantunya terlihat ceria dan segar nan wangi harum parfum yang dipakai.


"Maaf, Ma, jika kita berdua sudah membuat Mama dan Papa menunggu." Ucap Elang sambil menarik kursi untuk istrinya.


"Tidak apa-apa, orang Mama sama Papa baru aja duduk. Oh ya, besok kerjaan kamu di kantor, padat atau tidak?"


Ibunya pun tersenyum.


"Tidak ada apa-apa, Mama hanya tanya aja. Gimana, padat ya, kerjaan di kantor?"


"Dibilang padat, gak sih. Dibilang gak, lumayan sibuk. Tapi, kalau memang ada sesuatu yang penting, Elang bisa libur, itupun kalau Papa mengizinkan." Jawab Elang.


"Papa izinkan kamu untuk libur, itupun hanya sampai jam sepuluh aja. Setelah itu, kamu berangkat ke kantor. Mau bagaimanapun, kamu harus tetap berangkat." Timpal sang ayah ikut bicara.


"Tuh kan, Ma. Elang diminta untuk berangkat, jadi cuma ada waktu sampai jam sepuluh aja. Memangnya ada apa sih, Ma? kedengarannya sangat penting."


"Ya, sangat penting. Nanti, Didit akan datang kemari." Kata ibunya.


Seketika, Elang langsung mencerna ucapan yang dilontarkan ibunya.


"Apa ini semua ada hubungannya dengan ibunya Anin dan Didit?" tanya Elang menebak dan tentu saja untuk memastikannya.

__ADS_1


Ibunya pun tersenyum, dan juga ayahnya ikut tersenyum.


"Jadi, benar, kalau Mama dan Papa mau mempertemukan Anin dengan ibunya?"


Sang ibu mengangguk pelan dan senyum.


Anin yang mendengarnya, pun seperti tidak percaya. Seperti mimpi disiang bolong.


"Benar, sekali. Mama sudah membuat janji, dan pertemuannya di rumah ini. Besok pagi Didit juga datang, Papa kamu sudah memerintahkan kepada orang kepercayaan keluarga Alexander untuk menjemput Didit. Jadi, buat Anin, persiapkan diri kamu sebaik mungkin untuk bertemu dengan ibumu." Ucap ibunya Elang menjelaskan, sedangkan Anin masih seperti mimpi.


Elang yang mendengar penjelasan dari ibunya, segera meraih tangan kanan milik istrinya, dan di genggamnya dengan erat. Kemudian, menoleh kepada istrinya.


"Kamu harus siap, besok akan ada pertemuan antara kamu, Didit, dan sosok ibu yang sudah mengandung kmu dan Didit." Ucap Elang menyemangati.


"Ya, Nak. Besok kamu dan Didit, akan ada pertemuan yang sangat sepesial. Mama berharap, kamu dan Didit dapat menerima dengan tulus, apapun alasannya. Ingat, tidak ada seorang ibu yang ingin berpisah dengan anak-anaknya, semua itu pasti ada alasannya." Kata ibunya Elang ikut menimpali, tak lupa juga memberi nasehat kecil untuk menantunya.


"Ya, Ma. Anin tidak akan menyalahkan siapapun atas masalah yang sudah terjadi. Setiap masalah, pasti ada sebabnya, dan juga akibatnya. Tidak ada gunanya untuk menyalahkan, yang ada hanya akan timbul kebencian pada diri Anin sendiri, Ma." Jawab Anin sebaik mungkin.


Dirinya masih dapat dipertemukan saja, sudah sangat bersyukur. Lantas, untuk apa dirinya harus menghakimi, pikir Anin dengan cara berpikirnya yang positif. Baginya, tidak akan menemukan titik terang, jika dirinya hanya mengandalkan ego dan kebencian.


Ibu mertua merasa lega, saat mendengar pengakuan dari menantunya yang siap menerima apapun keadaan orang tuanya, juga tidak akan menyalahkan siapapun.


Meski ibunya Elang sendiri mengetahuinya, sebisa mungkin untuk tidak menjadi provokasi kepada menantunya. Kedua orang tuanya Elang percaya, bahwa Anin akan mendengar pengakuan sendiri dari orang yang sudah menghancurkan keluarganya.


Karena tidak ingin larut dalam obrolan, Tuan Mawan memperhatikan meja makan.


"Kita makan malam dulu, ngobrolnya nanti kita lanjutkan lagi. Papa udah lapar nih, memangnya kalian tidak pada lapar?"


"Lapar sih, Pa. Mana tadi di kantor makanannya terasa hambar, pokoknya rasanya banyak yang kurang." Jawab Elang sambil meraih udah bakar yang tersaji di depannya, sekilas menoleh pada istrinya.


"Gimana gak hambar, orang kamunya gak bawa istri. Coba istri kamu di ajak ke kantor, Mama jamin, kamu akan betah. Bahkan nih ya, suruh pulang keknya gak mau." Sahut ibunya sambil mengambilkan porsi makan untuk suaminya.


Anin hanya tersipu malu mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2