Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Panggilan telpon


__ADS_3

Sudah berganti hari, Anin masih disibukkan dengan tugasnya yang selalu membantu ibunya mengemasi barang pesanan kepada pembeli.


"Kak Anin." Panggil Didit sambil mengemasi barang pesanan.


"Ya, Dit, ada apa?" sahut Anin dan bertanya.


"Kak Andika beneran pindah, ya? nggak kelihatan soalnya."


"Ya, sekarang dianya akan menetap tinggal di kota bareng ayahnya." Jawab Anin yang juga ikutan sibuk mengemasi barang dagangan milik ibunya.


"Wah, orang tua Kak Andika berarti sangat tajir dong. Kak Anin benar-benar sangat beruntung ya, punya pacar kek Kak Andika."


"Hus! ngomongin apa kamu, Dit. Entah beruntung atau tidaknya, Kakak nggak tahu. Lagian juga, hubungan kita berdua itu hanya sebatas pacaran. Janji sih ada, tidak tahu juga dengan nasib kedepannya." Sahut Anin yang tidak muluk-muluk.


"Didit, tidak baik bertanya dan mengajak Kakak kamu untuk mengobrol hal pribadinya. Lebih baik kamu itu, fokus dengan belajarmu dan tugas-tugas kamu." Ucap Ibu Ami ikut menimpali.


"Ya, Bu, ya. Didit kan cuma ingin tahu aja, Bu. Didit do'ain, semoga hubungan Kak Anin dan Kak Andika langgeng, sampai nanti di ujung pernikahan." Kata Didit, Anin sebagai Kakak hanya tersenyum mendengarnya.


"Tapi nih ya, kalau menurut Didit sih, mendingan Kak Elang."


"Didit!"


"Ya, Bu, eh ya." Sahut Didit sambil nyengir kedua atas ucapannya itu.


"Kamu ini, kebiasaan. Jangan dibiasakan bicara seperti itu, kalau Andika mendengarnya, bagaimana? bisa mendapat masalah kamu-nya." Ucap Ibu Ami mengingatkan.


"Anin sudah selesai, Bu." Timpal Anin yang sudah menyelesaikan tugasnya.


"Ya sudah, kamu boleh istirahat. Ingat, jangan tidur kemalaman, tidak baik untuk kesehatan kamu. Karena besok, adalah hari pendaftaran. Jadi, gunakan waktumu sebaik mungkin." Ucap Ibu Ami mengingatkan, Anin mengangguk.


"Ya, Bu. Dit, Kakak duluan ya."


Setelah itu, Anin segera ke kamar mandi untuk mencuci muka dan lainnya. Kemudian, ia baru masuk ke kamarnya. Saat berada di kamar, Anin dikejutkan dengan suara ponsel yang menggetar.


"Siapa yang menelpon malam-malam begini, ya?" gumam Anin bertanya-tanya sambil menutup pintunya.

__ADS_1


Saat sudah di dekat meja, Anin meraih ponselnya dan dilihat siapa yang tengah menelpon dirinya.


"Andika, ada apa menelpon malam-malam begini?" gumamnya lagi, dan langsung menerima panggilan telpon dari kekasihnya.


["Aku baru aja selesai membantu Ibu, kamu sendiri sedang apa?"] jawab Anin lewat sambungan telpon dan balik bertanya.


["Aku sedang tiduran, kamu pasti kecapean, ya?"] tanya Andika dibalik telponnya.


["Tidak, aku sudah terbiasa melakukan pekerjaanku ini."] Jawab Anin sambil mencari posisi duduk yang nyaman.


["Oh ya, kamu jadi melanjutkan kuliah 'kan?"] tanya Andika.


["Ya, besok mulai pendaftaran. Untuk penyeleksian lewat tes, aku belum tahu kapannya. Kamu sendiri, lanjut kuliah juga 'kan? pastinya dong."]


["Ya, tapi ..."] tiba-tiba Andika menggantungkan kalimatnya.


["Tapi kenapa?"] tanya Anin penasaran.


["Aku mau minta maaf sebelumnya sama kamu, Nin."]


["Kamu jangan marah, ya?"]


["Marah kenapa? memangnya kamu salah apa? perasaan tidak ada salah kamu-nya."]


["Aku harus pergi jauh, sangat jauh. Ayahku memintaku untuk kuliah di luar negri. Aku sudah menolaknya, tapi ayahku tetap memaksaku."] Jawab Andika dengan berat hati harus berterus terang.


Anin yang mendengarnya, serasa berat untuk menerima keputusan dari Andika, kekasihnya.


Anin memejamkan kedua matanya, dan tidak terasa meneteskan air mata.


Dadanya terasa sesak dan sulit untuk mengatur pernapasannya, harus berpisah lebih jauh lagi dengan seseorang yang dicintainya. Cukup berpisah karena kelulusan, dan harus berpisah karena jarak ke pulau satu ke pulau satunya. Dan kini, dirinya diminta untuk menerima kabar yang juga menyayat hatinya, harus berpisah dengan jarak begitu jauh, yakni di negara orang.


["Nin, tolong maafkan aku. Janji, aku akan pulang satu tahun sekali dan akan menemui kamu. Percayalah denganku, aku pasti kembali untukmu."] Ucap Andika yang berusaha untuk meyakinkannya, meski begitu berat keputusan yang harus diambil.


Anin menarik napasnya panjang, dan membuangnya kasar.

__ADS_1


["Aku akan mencobanya, untuk bertahan dan percaya denganmu. Tapi, jika kamu mengingkari, aku berharap kamu akan menerima keputusan dariku."] Jawab Anin dengan sesaknya di dalam dada.


Andika ikut membuang napasnya dengan kasar.


["Aku janji akan setia untukmu, dan kembali untuk memiliki kamu sepenuhnya."] Ucap Andika yang begitu berat untuk meninggalkan tanah air, serta seseorang yang dicintainya.


Karena hampir larut malam, Anin ingat pesan ibunya untuk tidak tidur kemalaman.


["Aku tutup panggilan telpon darimu, sudah larut malam dan aku harus istirahat. Maaf, lain waktu kita bisa sambung lagi."] Ucap Anin yang akhirnya meminta untuk memutus panggilan telpon.


["Selamat tidur, dan selamat beristirahat. Aku akan menghubungi kamu lagi, setelah aku sampai di luar negri. Jaga diri kamu baik baik, dan juga kesehatan kamu. Maafkan aku yang harus meninggalkan kamu dengan jarak dan waktu."] Jawab Andika dan mengakhiri panggilan telponnya.


Setelah cukup jelas membicarakan sesuatu dengan pacarnya, Anin memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Kemudian, memejamkan kedua matanya. Berharap, tidurnya bisa nyenyak tanpa beban yang bersemayam di kepalanya.


.


.


.


Pagi hari yang sudah menjadi kebiasaan Anin, bangun pagi dan menyelesaikan tugas-tugasnya untuk membantu ibunya di dapur dan juga untuk menyiapkan bekal ibunya berangkat kerja.


"Dit, nanti kamu ya, yang nyusul Ibu. Soalnya Kakak mau ada pendaftaran, takutnya pulang terlambat, kasihan Ibu kalau harus nunggu Kakak." Ucap Anin sambil menyiapkan bekal ibunya.


"Ya, Kak, tenang aja. Kakak fokus aja dengan kuliah Kakak, biar Didit yang gantiin tugas Kak Anin." Jawab Didit sambil bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah.


"Kamu benar-benar adik Kakak yang sangat baik, kamu juga harus rajin belajar dan juga fokus. Jangan pacaran dulu, entar susah mikir pelajarannya." Ucap Anin yang tak lupa memberi nasehat kecil untuk adiknya.


Setidaknya, setiap obrolan, Anin selalu menyelipkan nasehat kecil untuk Didit, adik laki-lakinya.


"Soal pacaran, Didit tidak kepikiran. Nomor satu itu, bahagiakan Ibu dan angkat derajat Ibu. Untuk soal pacar, Didit belum sampai untuk mikir sampai situ. Tujuan Adit, menggapai cita-cita dan membahagiakan Ibu." Jawab Didit, Anin selaku kakaknya merasa bangga dengan prinsip yang dimilikinya.


"Kamu adik Kakak satu-satunya, kita harus bisa membuat Ibu bahagia dan juga bangga. Tidak hanya itu aja, kita harus angkat derajat Ibu, seperti yang kamu katakan tadi." Ucap Anin yang merasa bangga mempunyai adik laki-laki seperti Didit.


"Ya sudah, kamu buruan berangkat ke sekolah, nanti terlambat. Kakak juga mau berangkat, takut telat." Kata Anin yang melihat jam dinding.

__ADS_1


__ADS_2