Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Ingin menolak ajakan


__ADS_3

Saat hendak sarapan pagi, Anin mengambilkan makanan untuk suaminya. Kemudian, ia mengambil untuk dirinya sendiri.


Tuan Mawan dan istrinya tersenyum bahagia saat mendapati menantunya yang begitu perhatian pada putranya.


'Pantas saja, Elang tidak bisa ke lain hati. Ternyata perempuan yang dicintainya itu sangat baik, dan juga menjadi idaman setiap laki-laki. Semoga saja, Anin terketuk hatinya untuk menerima cinta dari Elang.' Batin ibunya penuh harap.


"Tumben nih, buatan Bi Narsih enak. Biasanya enak sih, tapi ini lebih enak." Ucap Elang memuji sambil mengunyah nasi goreng.


"Mungkin saja kebetulan, lagi seneng sepertinya. Jadi, masakannya enak." Kata ibunya Elang yang juga tidak mengetahui siapa yang sudah ikutan membuat sarapan pagi.


Tetap saja, Elang tidak bisa dibohongi siapa yang sudah membuat sarapan pagi.


Kemudian, Elang menoleh pada istrinya, dan tersenyum tipis tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya.


Anin yang merasa takut jika Bi Narsih mengatakan yang sebenarnya, memilih menunduk sambil menikmati sarapannya.


"Ntar, Mama panggil Bi Narsih dulu." Ucap ibunya Elang.


"Bi Narsih, sini." Panggil ibunya Elang.


Dengan cepat, Bi Narsih segera datang.


"Iya, Nyonya."


"Ini beneran, Bi Narsih yang membuat nasi gorengnya?" tanya ibunya Elang.

__ADS_1


Bi Narsih tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari majikannya. Lalu, arah pandangannya tertuju pada Anin yang juga tengah menatap Bi Narsih sambil memberi kode untuk tidak berkata jujur.


Tapi percuma saja, Bi Narsih tidak bisa berbohong.


"Bukan, Nya. Tetapi, Nona Anin yang membuat sarapan pagi. Sedangkan saya dan dua pelayan lainnya hanya membantunya." Jawab Bi Narsih sambil menunduk.


Kedua orang tua Elang tersenyum mendengar pengakuan dari Bi Narsih, dan menoleh pada Anin.


"Elang pasti sangat beruntung mempunyai istri seperti kamu, sudah cantik, pintar, lagi." Puji Ibu mertuanya, Anin hanya tersipu malu mendengarnya.


"Tidak kok, Ma. Mungkin tadi kebetulan, biasanya juga tidak enak kok, Ma." Jawab Anin merendah diri.


"Ya udah, Bibi boleh kembali melanjutkan pekerjaan Bibi."


"Baik, Nya, permisi." Jawab Bi Narsih, dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Sekarang juga, kalian berdua segera bersiap-siap. Nanti Mama dan Papa menunggu kalian di depan rumah."


"Ya, Ma." Jawab keduanya bersamaan.


Sampai di kamar, Anin bingung antara ikut atau tidak. Pasalnya, ayah dan ibu mertuanya akan mengajak dirinya ke makam kekasihnya. Tentu saja, akan membuat Anin semakin bersedih.


"Kamu serius, mau pergi ke makam Andika?" tanya Anin memberanikan diri.


"Ya, kenapa?"

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku cuma tanya aja."


"Oh, kangen ya."


"Nggak," jawab Anin berbohong.


"Nggak salah, ya 'kan? tidak apa-apa kok, kalau kamu kangen sama Andika. Makanya, aku mau mengajak kamu untuk pergi ke makam pacar kamu."


"Nggak usah berlebihan, kalau bisa kita tidak usah pergi ke makam. Serius, aku tidak meminta untuk pergi ke sana."


"Tidak apa-apa, bukankah aku dan Andika berteman?"


"Ya sih, ya udah, terserah kamu aja."


"Hem. Ya udah, ayo kita turun. Mama dan Papa pasti sudah menunggu kita."


Anin hanya mengangguk dan mendorong kursi roda sampai di depan rumah. Kemudian, sang supir dan ayahnya membantu Elang masuk ke dalam mobil.


Selama perjalanan, Anin dan Elang sama-sama diam.


"Kalian berdua ini kenapa sih? kok diem-diem aja, ngobrol apa kek, gitu." Tanya sang ibu saat tidak mendengar anak dan menantunya hanya saling diam.


"Mama, apa-apaan sih. Mendingan tuh, Mama dan Papa yang ngobrol. Aku dan Anin yang akan menjadi pendengar setia kalian berdua." Jawab Elang sambil melihat jalanan lewat jendela kaca mobil.


"Sudah, sudah. Mungkin aja anak kita malu, coba tadi mobilnya dua."

__ADS_1


"Ah! ya ya, kok Mama tidak kepikiran sampai di situ ya, Pa. Ya udah deh, nanti Mama nyuruh pak Ratno suruh menyusul kita di tempat terapi." Jawab ibunya Elang yang baru menyadari.


Sedangkan Elang sendiri tidak menanggapinya, memilih untuk diam dari pada ikut bicara.


__ADS_2