
Ayun maupun Nilam yang mendengarnya, pun hanya tersenyum tipis pada Dinda.
Setelah ketiganya sudah siap untuk berangkat, terdengar suara klakson mobil di depan rumah kosnya.
Rasa yang sudah tidak sabar ingin bertemu, Dinda segera melihatnya. Alangkah terkejutnya saat melihat mobil mewah yang berhenti di depan rumah kosnya.
Begitu juga dengan Ayun dan Nilam, keduanya ikut terkejut sama halnya seperti Dinda.
"Permisi, apakah kalian bertiga temannya Tuan Elang?" tanya pak Ratno yang mendapat amanah dari majikannya.
"Ya, Pak, benar." Jawab Dinda yang langsung menyambar.
"Syukurlah, Bapak tidak salah alamat." Kata pak Ratno.
"Ya, Pak. Kami bertiga memang teman sekolahnya Elang saat tinggal di kampung." Jawab Nilam ikut menimpali.
"Kalau begitu, apakah kalian bertiga sudah siap untuk berangkat?" tanya pak Ratno.
"Kami sudah siap dari tadi, Pak." Jawab Dinda penuh semangat.
"Ya udah kalau gitu, mari ikut kami. Tapi sebelumnya, Bapak mau menjemput Burnan dulu." Kata pak Ratno, ketiganya mengangguk.
"Ya, Pak, soalnya kita memang sudah ada janji dengan Burnan untuk datang bersama." Jawab Ayun ikut menimpali.
"Baiklah, silakan naik ke mobil. Kita akan menuju ke tempat Burnan." Ucap pak Ratno.
Dengan penuh semangat, Dinda segera naik ke mobil, dan diikuti oleh kedua temannya. Dengan seksama dan juga teliti, Dinda mengamati isi dalam mobil.
'Gile, mobilnya aja bagus banget, apalagi rumahnya ya? semoga aja, aku bisa menjadi istrinya, mau kedua, ketiga, ke empat, tidak masalah bagiku. Jaman sekarang mah, penting duit.' Batin Dinda sambil melamun, dan juga menghayal.
PUK!
"Aw! ngagetin aja deh, ada apaan sih?"
"Jangan banyak ngelamun, entar kesambet loh." Kata Ayun.
"Hem. Aku tuh tidak sedang melamun, tetapi sedang menghayal jadi orang kaya." Jawab Dinda sambil berbisik di dekat telinga Ayun.
__ADS_1
"Kirain, dah ah, jangan banyak menghayal dan juga melamun. Siapkan aja diri kamu untuk bertemu dengan istrinya Elang." Ucap Ayun yang juga ikutan berbisik.
"Hem. Ya deh, ya." Jawab Dinda.
Tidak membutuhkan perjalanan yang jauh, mobil telah berhenti di depan garasi rumah yang ditempati oleh Burnan. Tanpa harus di suruh untuk naik ke mobil, Burnan bergegas untuk masuk.
"Burnan," panggil Dinda.
"Ya, Din, ada apa?" jawabnya dan bertanya.
"Gak, cuma mau tanya aja, kamu udah pernah main ke rumah Elang, ya?" tanya Dinda dengan penasaran.
"Belum, Din. Ketemu juga baru kemarin malam." Jawab Burnan.
"Oh, kirain. Jadi, kamu belum pernah main ke rumahnya, aku kira kamu udah sering bertemu dan sering main ke rumahnya." Kata Dinda dengan sangkaannya.
Sedangkan Ayun dan Nilam, keduanya hanya menjadi pendengar setia.
Tidak terasa, mobil yang ditumpanginya tengah belok dan memasuki halaman rumah yang begitu luas. Ayun dan Nilam seperti mimpi saat melihat rumah bak istana yang begitu megah.
Begitu juga dengan Dinda dan Burnan, sama halnya seperti Ayun dan Nilam yang juga ikutan kagum saat memasuki halaman rumah milik keluarga Alexander yang begitu besar dan juga megah.
"Ya, Non, benar." Jawab pak Ratno.
"Besar sekali ya Pak, rumahnya." Timpal Ayun ikut bicara.
"Namanya juga Bos, Yun. Tentu saja rumahnya sangat besar." Kata Burnan yang juga ikut menimpali.
"Ya juga sih, Burn. Tapi kan, apa gak malu nih, kita masuk ke dalam? sedangkan kita tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Elang." Jawab Ayun.
"Ngapain malu sih, Yun. Sudah ah, ayo kita turun." Kata Burnan dan mengajaknya untuk segera turun dari mobil.
"Kalian semua tenang aja, pemilik rumah sangat baik dan tidak memandang dari status. Apa lagi Tuan Elang, dia sangat baik orangnya." Ucap pak Ratno meyakinkan keempat temannya sang majikan.
"Ya sih, Pak. Elang memang dari dulu sangat baik, dan juga tidak sombong kepada siapapun. Bahkan, dia suka membantu orang yang sedang kesusahan." Jawab Nilam yang juga ikut memuji kebaikan temannya.
"Kalau gitu, mari silakan turun. Sepertinya Tuan Elang sudah menunggu kedatangan kalian." Ucap pak Ratno sambil membuka pintu mobil dan segera turun.
__ADS_1
Kemudian, disusul oleh Ayun, Dinda, Nilam, dan Burnan.
Alangkah kagumnya saat melihat rumah bak istana yang megah, ke empat temannya Elang seraya tengah bermimpi bisa menginjakkan kakinya di rumah yang teramat mewah.
"Jadi gak sabar deh, pingin lihat dalam rumahnya Elang, kek mana bagusnya ya? pasti sangat mewah dan seperti istana." Ucap Dinda yang sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam.
"Ya ya, rumahnya aja gedenya kek gini. Gimana dengan penghasilannya, ya? pasti sangat banyak. Gak nyangka aja, jika Elang ternyata anaknya orang kaya." Timpal Nilam ikut bicara.
"Beruntung banget ya, yang jadi istrinya." Kata Ayun sambil berjalan beriringan dengan kedua temannya.
Dinda yang mendengarnya, pun langsung menoleh ke arah Ayun.
"Kenapa, Din?" tanya Ayun yang merasa aneh dengan tatapan dari temannya.
"Tidak kenapa-kenapa kok, Yun." Jawab Dinda dengan datar, terlihat jelas jika dirinya tengah kesal.
Sedangkan di dalam rumah, Anin dan Elang baru aja selesai sarapan pagi. Dan kini, keduanya sudah berada di dalam kamar untuk bersiap-siap menunggu kedatangan keempat temannya.
Anin yang tiba-tiba merasa takut dengan kehadiran keempat temannya, pikirannya mulai tidak karuan. Ditambah lagi dengan Dinda, yang mana pernah bercerita dengannya jika Dinda sendiri menyukai suaminya.
"Kamu kenapa lagi, sayang?" tanya Elang ikut duduk di samping istrinya.
Saat itu juga, Anin yang dikagetkan oleh suaminya, dirinya langsung menoleh. Kemudian, ia menatap wajah suaminya dengan perasaan sedih.
"Aku hanya takut, jika ketiga temanku akan membenciku karena aku menikah denganmu." Jawab Anin dengan sedih.
Elang segera merangkul istrinya, dan memeluknya dengan erat.
"Percayalah denganku, tidak ada yang perlu kamu takutkan atas pernikahan kita. Semua akan baik-baik saja, dan tidak akan ada kebencian apapun kepada mereka terhadap dirimu." Ucap Elang berusaha untuk meyakinkan istrinya sambil mengusap lengannya.
Anin yang tengah bersandar di dada bidang suaminya, ia mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri agar tetap tenang dan tidak banyak pikiran mengenai ketiga temannya.
Lain lagi di depan rumah, Dinda yang hendak masuk ke dalam bersama ketiga temannya, benar-benar sangat kagum ketika pintunya terbuka dengan lebar.
Ayun dan ketiga temannya mendadak kedua bola matanya membulat dengan sempurna, termasuk Dinda.
"Yun, kita sedang tidak bermimpi, 'kan?" tanya Dinda setengah berbisik di dekat telinga Ayun.
__ADS_1
Ayun sendiri tidak merespon sama sekali, lantaran dirinya juga sama halnya seperti Dinda yang juga kagum dengan isi rumah yang benar-benar seperti istana yang begitu besar dan sangat megah.