
Didit yang malas untuk berhadapan dengan ayahnya Andika, memilih pergi dari hadapannya dan mencari tahu sendiri dimana keberadaan pacar kakaknya.
Setelah mengetahui dimana Andika di rawat, Didit segera menemuinya. Setidaknya, tahu bagaimana keadaannya.
Didit tertunduk lemas, saat mengetahui kondisi Andika.
Karena tidak bisa masuk kedalam untuk melihat kondisinya, Didit hanya melihatnya lewat jendela kaca, itupun tidak begitu jelas.
Saat itu juga, seorang dokter baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Dokter," panggil Didit yang ingin bertanya karena rasa penasarannya.
"Ya, kenapa?"
"Bagaimana keadaan pasien yang bernama Andika, Dok?"
"Keadaannya sangat kritis, sangat kecil juga harapannya untuk selamat. Hanya keajaiban yang bisa menunggu keselamatan untuk pasien." Jawab seorang dokter.
Didit tidak bisa berkata apa-apa selain diam sambil menatap kepergian seseorang dokter yang baru saja diberi pertanyaan oleh dirinya.
"Puas! kamu, sekarang."
Suara lantang itupun kembali terdengar lewat indra pendengarannya. Didit langsung menoleh kebelakang, dan memutarbalikkan badannya.
"Ingat! kamu dan Kakakmu bisa aku jadikan barang bukti jika sampai terjadi sesuatu pada putraku." Bentak ayahnya Andika dengan tatapan kebencian.
Didit tidak menjawab apapun, dan memilih pergi dari hadapannya. Tak tahu harus berkata apa, lebih memilih untuk kembali ke ruang rawat kakaknya.
"Lihat saja, aku tidak akan melepaskan kamu dan kakakmu itu." Ucapnya lagi yang masih menyimpan kebencian pada Didit dan Anin, pacar putranya.
Didit yang sudah berada di depan pintu, terasa berat untuk masuk kedalam. Badannya sendiri masih menahan rasa sakit, Didit mengabaikannya, karena masih ada sang kakak yang harus dipantau.
Siap menerima segala resikonya jika sang kakak bersedih, Didit masuk kedalam. Pelan-pelan, Didit membuka pintunya. Kemudian, pintu kembali ditutup.
__ADS_1
"Dit, bagaimana keadaannya?" tanya Anin yang sudah tidak sabar.
Didit berjalan mendekati sang kakak, kemudian menarik kursi dan duduk di samping ranjang pasien. Pelan-pelan mengatur pernapasannya.
"Kak Andika kritis, Kak. Harapannya sangat kecil, kata Dokter." Jawab Didit apa adanya tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Anin sangat terkejut mendengarnya, masih seperti tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh adik laki-lakinya.
"Kamu bilang apa tadi, kritis?" tanya Anin mengulangi.
Didit mengangguk.
"Benar, Kak. Kita hanya menunggu keajaiban, untuk keselamatan Kak Andika." Jawab Didit tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan dari sang kakak.
"Kakak ingin bertemu dengannya, sekarang juga antar Kakak untuk melihat keadaannya." Perintah Anin yang ingin bertemu dan melihat langsung.
Didit menggelengkan kepalanya, pertanda tidak menyetujui.
"Tidak, Kak Anin tetap berada disini. Keadaan Kakak juga sedang membutuhkan istirahat yang cukup. Kakak bisa menemuinya setelah badan Kakak terasa mendingan."
Didit tetap menggelengkan kepalanya, tetap bersikukuh untuk mencegah kakaknya bertemu dengan sang pacar.
"Kenapa, Dit? kenapa kamu melarang Kakak?"
"Ayahnya Kak Andika pasti akan murka, jika bertemu dengan Kakak. Aku saja, sudah dua kali mendapatkan cacian. Jadi, aku tidak ingin Kakak ikut mendapatkan cacian dari ayahnya Kak Andika." Kata Didit yang tidak ingin kesehatan sang kakak akan menurun.
"Dit, Kakak siap menanggung resikonya."
"Kak, dari pertama kita berangkat, Kakak selalu menjawab siap menanggung resikonya. Tapi apa, resikonya yang Kakak terima selalu berat." Kata Didit yang tetap bersikukuh pada pendiriannya.
"Kakak tidak peduli, Dit. Pokoknya antar Kakak untuk melihat kondisi Andika, sebentar saja." Ucap Anin yang terus membujuk adiknya, Didit tetap menggelengkan kepalanya, pertanda tidak menyetujui sang kakak untuk menemui pacarnya.
"Dit, ini yang terakhir Kakak minta tolong sama kamu. Setelah ini, Kakak tidak lagi meminta tolong sama kamu." Pinta Anin sambil mengatupkan kedua tangannya, memohon sama sang adik untuk menuruti kemauannya.
__ADS_1
Didit yang tidak bisa terus-menerus untuk menolak, akhirnya luluh dan menuruti keinginannya sang kakak.
"Baiklah, aku akan ambilkan kursi roda. Kakak tunggu sebentar." Jawab Didit yang akhirnya mengabulkan permintaan sang kakak, meski badan sendiri masih terasa remuk.
Demi Kakaknya, Didit tidak bisa menolak. Apalagi terdengar merengek dan sangat menginginkan untuk bertemu, Didit menjadi tidak tega melihatnya.
Anin tersenyum lega, akhirnya adik satu-satunya telah menerima permintaannya.
"Makasih ya, Dit. Kamu memang adik Kakak yang satu-satunya yang Kak Anin punya." Kata Anin, Didit tak menanggapinya, dia segera keluar untuk mengambilkan kursi roda.
Ketika sudah mendapat kursi rodanya, Didit membantu sang kakak untuk duduk di kursi roda.
Kemudian, Didit mengajaknya keluar. Tidak peduli bagi Anin, meski masih gelap, dirinya tetap ingin melihat kondisi seseorang yang sangat di cintai-nya itu.
Saat jarak ruangan dan Anin berhenti tidak jauh, dapat dilihat ada beberapa orang di luar, termasuk orang tuanya Andika.
"Lihatlah, Kak. Mana mungkin kita akan ke sana, mau ditaruh dimana muka kita. Sepertinya kita bakal dijadikan bahan cemoohan mereka, kita balik lagi aja, bagaimana? untuk sekarang ini aku rasa tidak memungkinkan, Kak."
Anin sejenak diam, berusaha berpikir untuk mencari jalan keluarnya. Berharap, dirinya tetap bisa melihat kondisi sang pacar, pikir Anin.
"Kak, sudahlah, ayo kita balik aja. Kakak harus istirahat, masih ada besok pagi." Ajak Didit yang tidak ingin mendapat resiko yang tinggi, karena ada kesehatan yang harus dijaga.
"Tidak, Dit. Kakak ingin melihat kondisinya, Andika sudah mempertaruhkan nyawanya demi Kakak. Tidak mungkin Kakak mengabaikan dia begitu saja, ayo ke sana." Jawab Anin yang tetap ingin melihat kondisinya sang pacar.
Didit yang tidak mempunyai cara lain, akhirnya dengan memasang muka malunya karena harus mengantarkan sang kakak untuk melihat keadaan kekasihnya, yakni sang pacar.
"Permisi, saya ingin melihat kondisinya Andika, Pak." Ucap Anin dengan berani, meski pada akhirnya akan dicaci maki.
Ayah Andika yang saat itu masih dikuasai oleh emosinya, langsung menoleh pada Anin dengan tatapan sinis.
"Kamu bilang apa? ingin melihat kondisi Andika? apa adikmu tidak mengatakannya padamu? bagaimana kondisi putraku satu-satunya."
"Maaf, saya hanya ingin melihatnya langsung, walau lewat jendela kaca." Kata Anin dengan menunduk.
__ADS_1
"Makanya, jangan dekati Andika. Sekarang kamu tahu sendiri, 'kan? putraku yang harus menerima kesialan darimu. Bahkan, nyawanya sudah berada di ujung tanduk. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kamu yang menanggung akibatnya, termasuk adikmu." Ucap ayah Andika, yang tak lupa memberi ancaman pada Anin maupun Didit.
"Saya akan menanggung akibatnya, jika terjadi sesuatu pada Andika. Bahkan, jika aku harus mendonorkan apa yang dibutuhkan oleh Andika, aku siap, sekalipun itu nyawaku sendiri yang akan menjadi taruhannya. Yang terpenting, Andika selamat." Jawab Anin yang menurut adiknya kedengaran aneh, atas jawaban dari kakaknya sendiri.