Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Keputusan yang diambil


__ADS_3

"Kok ketawa, memangnya ada yang lucu sama Kakak?"


"Tidak sih, cuma pingin ketawa aja. Gimana, Kakak mau kan, menikah dengan lelaki yang sudah aku sebutkan tadi?" tanya Didit yang kini mulai menatap serius pada kakaknya.


"Kamu jangan mengada-ngada, cepetan katakan pada Kakak, siapa yang sudah menolong kamu?"


"Kedua orang tua kak Elang, Kak." Jawab Didit, masih menatap serius pada kakaknya.


Kedua bola mata milik Anin membulat dengan sempurna. Apa yang didengarnya seperti tidak percaya.


"Elang, kamu bilang?" tanya Anin untuk memastikan.


Didit mengangguk pelan.


"Terus, kamu bertemu dengan Elang? bagaimana kabarnya? apakah dia tahu jika Kakak ada di penjara?" tanya Anin memberondong banyak pertanyaan.


Didit tersenyum saat mendengar kakaknya bertanya soal Elang.


"Kak Elang tidak tahu, jika Kak Anin di penjara. Justru itu, lelaki lumpuh itu adalah kak Elang." Jawab Didit yang akhirnya berterus terang pada kakaknya.


Anin sangat terkejut mendengarnya, dan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan karena reflek.


"Kedua orang tua kak Elang yang akan membebaskan Kakak dari tempat ini, dan sebagai gantinya meminta Kak Anin untuk menikah dengan kak Elang dengan kondisinya yang lumpuh." Ucap Didit menjelaskan.


Anin masih diam, bingung harus berkata apa.


"Kak, mau ya? kasihan Kak Elang, sudah dua tahun tidak bisa berjalan. Anggap saja, Kak Anin membalas kebaikan kak Elang yang sudah banyak membantu kita." Sambungnya lagi.


Anin masih terdiam, seakan dunianya hanya selebar daun kelor. Ingin menolak, dirinya kembali teringat akan semua kebaikan dari Elang.


Bahkan, begitu perhatiannya sosok Elang pada dirinya dan juga ibu dan adiknya. Selalu ada waktu untuknya.


"Kak Anin, mau ya, menikah dengan kak Elang. Kasihan kak Elang, tidak mempunyai semangat hidupnya. Siapa tahu saja, kehadiran Kakak akan merubah segalanya. Mungkin saja, Kak Anin adalah jodohnya." Ucap Didit berusaha untuk membujuk kakaknya.


Saat itu juga, kedua orang tua Elang datang mendekati Anin dan Didit yang sedang mengobrol.

__ADS_1


"Apa kabarnya, Nak Anin? perkenalkan, kami kedua orang tuanya Elang. Teman sekolah kamu dulu waktu di kampung." sapa ibunya Elang dengan senyum yang ramah.


Begitu juga dengan Ayahnya Elang, juga tersenyum ramah pada Anin.


Anin langsung bangkit dari posisi duduknya.


"Kabar saya, sangat baik, Bu." Jawab Anin sedikit menunduk untuk memberi rasa hormat kepada kedua orang tua Elang.


"Bolehkah kami ikut duduk?"


"Boleh, Bu, boleh. Silakan duduk, Bu, Pak." Jawab Anin sedikit ada rasa malu."


Kedua orang tua Elang segera duduk, sedangkan Didit berpindah tempat duduknya disebelah sang kakak.


"Nak Anin, sebelumnya kami mau meminta maaf. Bukan niat kami untuk memeras kamu dan meminta imbalan. Karena yang kami lakukan ini demi Elang, putra kami satu-satunya. Kamu pasti sudah mengenalinya, bukan? siapa Elang dan seperti apa sifat dahulunya. Apakah kamu bersedia menikah dengannya? tapi, dengan keadaan yang tidak lagi sempurna. Elang segalanya sudah berubah, sikap dan juga keadaan fisiknya." Ucap ibunya Elang, dan juga bertanya langsung mengenai putranya.


"Jika kamu tidak bisa menerima tawaran dari kami, maafkan kami yang tidak bisa membantu kamu untuk bebas dari tempat ini. Bukan kami tidak mau, karena kami sangat membutuhkan kamu untuk menjadi istri dari anakku. Karena sepertinya kamulah yang bisa memberi perubahan untuk Elang." Sambung ayahnya Elang ikut bicara.


Anin menatap kedua orang tuanya Elang secara bergantian dengan tatapan penuh kebingungan.


Dan kini, Anin dibuat bingung untuk memilih. Haruskah menerimanya, atau harus menolak.


Anin masih diam, sejenak untuk berpikir. Tentu saja, tidak mudah bagi Anin untuk memberi jawaban kepada kedua orang tua Elang.


"Kak," panggil Didit yang tengah membuyarkan lamunan kakaknya.


Anin menoleh.


"Ya, kenapa?" jawabnya dan bertanya.


"Yakinkan hati Kakak untuk menentukan pilihan, jangan sampai ada penyesalan nantinya. Ingat, Kakak mengingat kembali untuk menentukan pilihan. Jangan ada paksaan untuk Kakak sendiri, takutnya Kakak yang akan tersiksa sendiri."


Anin yang mendengarnya, benar-benar dilema.


'Elang, Elang, haruskah aku menikah dengannya? aku sedang tidak bermimpi 'kan?' batin Anin yang tiba-tiba teringat saat terakhir bertemu dan terakhir berpamitan.

__ADS_1


Saat itulah, Anin dan Elang tidak pernah bertemu dan juga tidak pernah berkomunikasi.


"Nak Anin, bagaimana dengan keputusan kamu? kami sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi, secepatnya harus meninggalkan tempat ini." Tanya ibunya Elang yang tidak ingin berlama-lama menunggu jawaban.


Anin menoleh pada adiknya, Didit mengangguk.


"Ya, Bu, saya menerima tawaran dari Ibu dan Bapak." Jawab Anin sedikit gugup untuk memberi keputusan yang ia ambil.


Kedua orang tua Elang tersenyum lega, seperti tidak percaya dengan keputusan yang diberikan kepadanya.


Begitu juga dengan Didit, dirinya ikut tersenyum lega saat mendengar jawaban dari kakaknya.


"Kamu serius, Nak? kalau kamu mau menerima Elang menjadi suami kamu?" tanya ibunya Elang mencoba untuk memastikannya lagi.


Anin mengangguk.


Saat itu juga, kedua orang tuanya Anin langsung bangkit dari posisi duduknya dan diikuti oleh Didit dan Anin. Kemudian, ibunya Elang berjalan mendekatinya dan langsung memeluk Anin.


"Terima kasih banyak ya, Nak Anin. Ibu benar-benar sangat berterima kasih padamu. Maafkan Ibu, jika Ibu harus meminta imbalan padamu. Apapun yang kamu inginkan, akan kami penuhi permintaan kamu." Ucap ibunya Elang sambil memeluk.


Anin melepaskan pelukan ibunya Elang, dan menatap wajah Beliau yang masih terlihat cantik dan awet muda.


"Saya tidak ada permintaan apapun pada Ibu, sudah seharusnya saya membalas kebaikan Elang selama ini, meski harus menikah dengannya." Jawab Anin.


"Benar kata Elang, kamu adalah perempuan yang sangat baik. Pantas saja, Elang selalu bercerita tentang kamu. Tapi ..." tiba-tiba berhenti saat ingin melanjutkan ucapannya.


"Tapi kenapa, Bu?" tanya Anin.


"Sejak kecelakaan, Elang tidak pernah bercerita tentangmu. Terakhir bilang, katanya kamu akan menikah dengan Andika. Saat itu pula, Elang menghapus segala akses medianya. Mungkin karena sakitnya yang tak kunjung sembuh, membuatnya frustrasi." Jawab ibunya Elang, hati Anin seakan terasa sakit mendengar cerita dari ibunya.


"Kalau kamu benar-benar bersedia untuk menikah dengan putra Kami yang bernama Elang, secepatnya kamu akan bebas dari tempat ini." Timpal Tuan Mawan ikut berbicara.


Anin mengangguk, dan kedua orang tua Elang segera memprosesnya.


Sebenarnya sudah beberapa hari sebelum masuk ke lapas, kasus Anin sudah dilaporkan oleh kedua orang tua Elang. Hanya saja, mengikuti kasus berikutnya.

__ADS_1


Jadi, saat pembebasan Anin, tinggal menandatangani saja dan segera keluar karena sudah menunjukkan bukti yang sangat akurat. Bahkan, kedua orang tua Elang sengaja tidak menyeret pelaku dan membiarkan sampai waktunya tiba.


__ADS_2