Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Ngobrol bareng teman lama


__ADS_3

Bagai tersambar petir saat mendengar pengakuan Elang yang begitu sangat jelas, membuat Dinda meradang kepanasan hatinya.


Ingin marah, untuk apa dan kepada siapa, Dinda hanya diam pasrah dengan menahan kekesalannya itu. Lagi-lagi dirinya harus kembali gagal untuk mendapatkan cintanya Elang, seakan tertolak dengan mentahnya.


Ayun dan Nilam justru tersenyum bahagia mendengarnya, dan keduanya kembali memeluk Anin. Setelah merasa cukup, pelukannya pun dilepaskan.


"Selamat ya, Nin, Elang, atas pernikahan kalian berdua. Aku doakan, semoga kalian bahagia dan selalu diberi keberkahan dengan pernikahan kalian." Ucap Ayun memberi ucapan selamat.


"Aku benar-benar tidak menyangka, jika kamu sudah menikah dengan Elang. Kalian berdua memang pasangan suami-istri yang sangat serasi. Aku doakan, semoga kalian berdua selalu bahagia dengan pernikahan kalian, dan juga selalu diberi keberkahan." Ucap Nilam ikut memberi ucapan selamat untuk Anin.


"Makasih banyak ya, Yun, Nil, atas ucapan dan doa dari kalian. Aku doakan juga untuk kalian berdua, semoga segera menyusul." Jawab Anin yang juga tak lupa memberi doa untuk Ayun dan Nilam.


Karena tidak ingin terlihat kesal di hadapan teman-temannya, Dinda mendekati Anin untuk memberi ucapan selamat.


"Selamat ya, Nin, Elang, atas pernikahan kalian. Aku doakan, semoga kalian berdua diberi keberkahan yang berlimpah." Ucap Dinda yang juga ikut memberi ucapan selamat kepada Anin dan Elang.


"Ya, Din. Makasih ya, atas ucapan serta doanya. Aku doakan, semoga kamu segera menyusul." Jawab Anin dan tersenyum, Dinda sendiri segera memeluk dan melepaskan kembali pelukannya.


"Eh! tunggu dulu."


"Ada apa lagi sih, Yun?" tanya Nilam.


"Itu si Burnan, kok gak beri ucapan selamat pada Elang. Apa jangan-jangan kamu sudah tahu ya, Burn."


Burnan yang mendapatkan pertanyaan dari Ayun, dirinya hanya nyengir kuda.


"Maaf ya, Yun, Nil, Din. Sebenarnya aku sudah memberi ucapan selamat sama mereka berdua. Tapi, karena aku tidak ingin membuka suara, akhirnya aku pura-pura tidak tahu." Ucap Burnan akhirnya mengakuinya.


"Pantas aja, kamu tuh kek gak ada kaget kagetnya sama sekali saat mendengar pengakuan dari Elang. Ternyata, gak tahunya sudah tahu lebih dulu." Kata Ayun.

__ADS_1


"Kalau aku sih, curiganya sama istrinya Elang yang berdiri di belakangnya. Masa ya, kalau tidak kenal kok sembunyi, kan aneh tuh." Timpal Nilam ikut bicara.


"Ya juga ya, kok aku baru kepikiran di situ ya."


"Hem. Kamu kan, gitu." Kata Nilam.


Sedangkan Dinda sendiri hanya diam, tak ingin ikut bicara ataupun komentar apapun tentang Anin maupun Elang.


"Sudahlah, tidak perlu kalian bahas lagi. Mendingan kita pindah tempat aja, biar kita leluasa untuk mengobrol. Untuk Burnan, kamu ikut aku aja ke ruang kerjaku. Sedangkan kamu istriku, temani Ayun, Dinda dan Nilam mengobrol di ruang keluarga atau di ruangan lainnya sambil menunggu makan jam siang." Ucap Elang menghentikan perdebatan antara teman yang satu dengan yang lainnya.


Anin mengangguk, dan nurut dengan ajakan suaminya.


"Ya," jawab Anin.


Setelah itu, Elang mengajak Burnan masuk ke ruang kerja miliknya. Entah ada pesan apa yang akan disampaikannya, Elang tiba-tiba mengajaknya.


Sedangkan Anin sendiri, mengajak ketiga temannya untuk pindah tempat duduknya yang lebih leluasa untuk berbagi cerita maupun yang lainnya.


"Duduklah, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." Jawab Elang mempersilakan Burnan untuk duduk.


"Memangnya sesuatu apa, Lang. kelihatannya kamu sangat serius. Kamu sedang tidak memberiku kabar buruk, 'kan?" tanya Burnan sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Elang.


"Tenang aja, gak ada kabar buruk yang mau aku sampaikan sama kamu. Aku hanya mau memberi tawaran baik sama kamu, serius." Jawab Elang.


"Tawaran, memangnya tawaran apa, Lang?" Burnan masih terus bertanya karena rasa penasarannya.


"Aku mau mengajak kamu untuk bekerja di kantorku, mau aku jadikan sekretarisku, bagaimana?" jawab Elang dan memberi tawaran kepada Burnan.


"Jadi sekretaris kamu? apa aku tidak salah dengar?"

__ADS_1


"Ya, Bro, jadi sekretaris aku. Kamu mau atau tidak? jangan khawatir, nanti bakal diajari oleh orang kepercayaan orang tuaku."


"Gimana ya, Lang. Aku sudah ikut paman aku bekerja di Hotel." Kata Burnan dengan bimbang, antara kesempatan emas dan pilihan yang sangat sulit.


"Baiklah, lebih baik kamu pikirkan aja dulu. Kamu juga bisa minta pendapatnya sama paman kamu, agar bisa di pertimbangan lagi." Ucap Elang mengingatkan.


"Kenapa kamu tidak memilih diantara Ayun, Dinda, dan Nilam. Bukankah mereka juga sudah mendaftar kerja di kantor kamu?"


"Aku tidak mau membuat istriku cemburu, Bro. Sudah begitu banyak perjuanganku untuk mendapatkan Anin, dan aku tidak mau kehilangan dia dengan sia-sia. Jadi, aku nyari laki-laki yang akan dijadikan sekretaris aku."


"Ya juga si, Lang. Nanti aku pikirkan lagi tawaran dari kamu, semoga aja pamanku mendukungku. Tapi, kalau paman aku tidak mengizinkan, aku minta maaf."


"Ya, Bro, tidak apa-apa. Aku tidak memaksa kamu, itu hak kamu." Kata Elang, Burnan mengangguk.


Kemudian, keduanya mengganti topik obrolannya. Sedangkan Anin dan ketiga temannya tengah duduk di belakang rumah, yang tempatnya terasa sejuk sambil menikmati buah segar dari pohonnya.


Ayun yang penasaran dengan statusnya yang sudah sah menjadi suami-istri, akhirnya nekad seperti detektif.


"Nin, ceritain dong, gimana ceritanya, kok kamu bisa bertemu Elang. Terus, kamu menikah dengan Elang, ceritanya itu gimana? serius, aku pingin tahu. Aku tuh benar-benar gak nyangka aja, kalau kamu jadi istrinya Elang."


Anin yang diberondong banyak pertanyaan, tersenyum mendengarnya.


"Ya ih, kamu mah bikin aku penasaran. Secara, kamu kan cintanya dengan Andika. Maaf, bukannya ingin ikut campur, cuma penasaran aja." Timpal Nilam yang sama halnya menyimpan rasa penasaran dan juga ingin tahu.


"Ceritanya panjang, gak cukup jika aku ceritakan di sini. Lain kali aja ya, yang jelas aku sendiri juga tidak menyangka jika aku akan menikah dengan Elang." Jawab Anin yang masih ragu untuk menceritakan kebenarannya, sebisa mungkin untuk tidak diceritakan, karena takutnya akan menimbulkan kesalahpahaman, pikir Anin.


"Ya deh, Nin, kita akan sabar menunggu cerita dari kamu. Kamu benar-benar sajgat beruntung banget ya, bisa bersuamikan Elang yang tampan dan juga kaya raya, Bos lagi. Kata Nilam, sedangkan Dinda masih menjadi pendengar setia.


Ayun yang melihat Dinda yang sedari tadi hanya diam, langsung mengagetkannya dengan sekali tepuk.

__ADS_1


"Aw! Ayun, bikin kaget aja deh, kamu ini." Pekik Dinda karena kaget.


"Habisnya, kamunya diem aja dari tadi. Ngomong kek, ngobrol apa kek, sariawan kamu?"


__ADS_2