
Tuan Mawan dan istrinya yang baru saja selesai membersihkan diri, keduanya segera turun ke bawah untuk makan siang bersama anak dan menantu.
Begitu juga dengan Elang bersama sang istri, keduanya juga cepat-cepat untuk keluar dari kamar. Tentu saja, menemui kedua orang tuanya.
"Ma, Pa. Kalian berdua sudah pulang? kok gak bilang-bilang." Panggil Elang sambil berjalan menuju ruang makan.
Tuan Mawan dan istrinya benar-benar terkejut saat melihat putranya tengah berjalan tanpa alat bantu apapun yang melekat pada tubuhnya.
Dan benar saja yang dikatakan oleh Bi Narsih, ternyata yang dikatakannya adalah benar. Bahwa putranya sudah bisa berjalan dengan normal.
Kedua orang tua Elang segera bangkit dari posisi duduknya, tentu saja untuk menyambut anak dan menantunya yang baru saja keluar dari kamar dengan perasaan yang sangat bahagia.
Tuan Mawan langsung memeluk putranya dengan perasaan campur aduk, antara haru dan bahagia. Sedangkan ibunya Elang memeluk menantunya dengan perasaan bahagia, lantaran mendapat kabar dari Bi Narsih atas kedekatan putranya dengan istrinya. Tentu saja, membuat ibunya Elang sangat bahagia.
"Apa kabarnya, Ma?" tanya Anin pada ibu mertuanya.
"Kabar Mama sangat bahagia, sayang. Kamu sendiri, bagaimana kabarmu?"
"Kabar Anin seperti yang Mama lihat, sangat baik." Jawab Anin dengan senyumnya yang manis.
Kemudian, ibunya Elang melepaskan pelukannya dan menoleh pada putranya. Kemudian, memeluknya dengan berderai air mata bahagia.
Sudah sekian lamanya, kini sudah bisa berjalan tanpa alat bantu apapun yang melekat di tubuhnya.
"Mama kenapa menangis?" tanya Elang mencoba melepaskan pelukan dari ibunya.
Sambil menatap wajah ibunya yang terlihat tidak lagi muda, Elang mengusap air matanya dengan ibu jari tangannya.
"Mama sangat bahagia melihat kamu yang sekarang ini, Nak. Mama tidak bisa berkata apa-apa lagi selain bersyukur atas kesembuhan kaki kamu. Akhirnya, kamu bisa berjalan lagi. Mama benar-benar sangat bahagia." Jawab ibunya sambil menatap putranya.
"Ini semua berkat istrinya Elang, Ma. Kalau bukan saran dari Anin, sepertinya Elang masih duduk di kursi roda." Kata Elang, dan menoleh pada istrinya.
Begitu juga dengan ibunya Elang, ikut menoleh pada menantunya.
__ADS_1
"Bukan karena Anin kok, Ma. Semua ini karena kesungguhan suami Anin sendiri, bukan karena Anin." Ucap Anin yang tidak ingin mendapatkan pujian yang berlebihan.
Ibu mertua tersenyum mendengarnya, kemudian mengarahkan pandangannya kepada Elang.
"Kalau boleh tahu, memangnya saran apa dari istrimu?" tanya sang ibu ingin tahu.
"Kata Anin, Elang diminta untuk tidak ketergantungan dengan kursi roda. Anin menyarankan untuk mengganti alat bantu untuk berjalan, yakni dengan alat penyangga. Tidak hanya itu saja sih, Ma. Anin juga menyarankan untuk menggunakan jasa terapi untuk belajar berjalan. Dan akhirnya, lama-lama Elang bisa berjalan." Jawab Elang, dan langsung merangkul istrinya dengan perasaan bahagia yang begitu sulit untuk digambarkan.
"Papa sangat bangga dengan Anin, dan kamu juga sangat beruntung memiliki istri seperti Anin. Pantas aja, kamu tidak bisa pindah ke lain hati. Ternyata perempuan yang kamu cintai itu, benar-benar harus dipertahankan. Selain cantik, istrimu juga sangat pintar." Puji Tuan Hamas kepada menantunya.
Anin yang mendengarnya hanya tersipu malu.
"Karena sudah waktunya untuk makan siang, ayo kita makan dulu." Ajak ibunya Elang.
Tuan Mawan bersama anak dan menantunya segera duduk dan menikmati makan siangnya bersama.
Seperti biasa, Anin selalu melayani suaminya dengan sebaik mungkin. Setelah itu, semuanya tengah fokus dengan porsi makannya masing-masing.
Cukup lama menikmati makan siang tanpa bersuara, akhirnya selesai juga. Satu persatu di antaranya mengelap mulutnya masing-masing selesai makan.
Elang mengangguk.
"Benar, Pa. Mulai besok, Elang mulai aktif di kantor. Sekarang Elang sudah mempunyai istri dan juga tanggung jawab yang besar, harus bisa bekerja untuk mencukupi kebutuhannya. Mau bagaimanapun, Elang yang harus bertanggung jawab, bukan Mama dan Papa." Jawab Elang.
Kedua orang tuanya tersenyum dan merasa bangga dengan putranya yang mempunyai sikap tanggung jawab.
"Papa bangga sama kamu, mempunyai sikap tanggung jawab atas dirimu yang sudah menjadi seorang suami." Ucap sang ayah.
"Mama juga bangga denganmu, Nak. Sekarang kamu sudah menjadi seorang suami, harus bisa bertanggung jawab." Timpal ibunya ikut memberi nasehat kecil kepada putranya.
Elang kembali mengangguk.
"Ya, Ma. Elang janji, akan bertanggung jawab dan membahagiakan Anin." Jawab Elang.
__ADS_1
"Pegang janjimu itu, jangan menjadi orang ingkar."
"Siap, Ma. Kalau gitu, kita berdua mau langsung pamit untuk keluar mencari nuansa baru. Capek dan bosan di rumah terus, sekali-kali cuci mata." Kata Elang yang langsung berpamitan untuk mengajak istrinya pergi keluar.
Anin yang tidak tahu apa-apa, dirinya hanya bisa nurut. Awalnya terkejut, dan menganggapnya biasa-biasa saja.
"Ya udah kalau mau keluar, hati-hati dijalan." Jawab ibunya, Elang mengangguk.
"Ingat, jangan pergi ke suatu tempat yang kiranya sepi." Ucap sang ayah mengingatkan putranya.
"Ya, Pa. Elang hanya di sekitaran sini aja kok, Pa, Ma. Kalau gitu, kita berangkat dulu." Jawab Elang, dan segera bersiap-siap untuk berangkat.
Tuan Mawan dan juga istrinya begitu bahagia saat melihat putranya yang kelihatan tengah bahagia.
"Semoga saja, keduanya saling mencintai dan hidup bahagia seperti doa kita." Ucap Ibunya Elang penuh harap pada menantunya yang pada akhirnya jatuh cinta dengan putranya.
"Doakan saja, semoga saja begitu. Yuk ah, kita masuk ke kamar. Papa sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Biarkan Elang dan Anin menikmati kebersamaan mereka berdua. Siapa tahu aja, akan ada benih-benih cinta pada Anin." Jawab ayahnya Elang yang juga penuh harap.
Sedangkan di kamar, Elang tengah sibuk mengganti pakaiannya. Begitu juga dengan Anin, sama halnya yang tengah dilakukan oleh suaminya sendiri.
"Memangnya kamu mau mengajakku kemana sih?" tanya Anin sambil menyisir rambutnya untuk di kuncir.
"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, kita akan bermalaman di sana. Kamu tidak perlu membawa baju ganti, karena aku sudah memerintahkan kepada orang suruhan untuk menyiapkan baju ganti kita."
"Ke hotel?" tanya Anin dengan percaya dirinya. Tidak peduli dengan rasa malunya, setidaknya bisa tahu sebelum berangkat.
Elang yang mendengarnya, pun tertawa kecil. Kemudian, menggelengkan kepalanya dengan senyum menggoda.
"Kita akan berbulan madu, sayang." Jawab Elang sambil meledek istrinya.
Anin bergidik ngeri mendengarnya.
"Bub-bulan madu?" tanya Anin dengan gugup.
__ADS_1
Elang mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Ya, aku kan sudah sembuh, sayang. Mama dan Papa juga sudah pulang. Jadi, giliran kita untuk menikmati malam yang sangat berharga di luaran sana." Jawab Elang dengan senyumannya sambil meninggikan alisnya.