
Dinda yang seperti dipermalukan didepan Nilam, ingin rasanya merah dan memaki-makinya.
Pandangannya seketika tertuju disisi meja kerja Bosnya yang terdapat foto istrinya, yakni Anindita teman sekolahnya, sekaligus teman satu gengnya.
'Kenapa mesti ada foto perempuan ini, benar-benar perempuan mura-han. Setelah kekasihnya meninggal, deketin Elang yang sudah terlanjur cinta dengannya. Cih! perempuan tak tahu malu, menolak tapi akhirnya menerima.' Batin Dinda dengan penuh kesal dan juga dongkol.
Tapi, apalah daya seorang Dinda. Yang mana dirinya tak mampu untuk melawannya. Sekilas, Dinda menoleh pada Nilam yang terlihat masih sedikit menundukkan pandangannya dihadapan Elang, yakni Bosnya sendiri.
Perasaan geram, kesal, benci, kini telah mengumpul menjadi satu di dalam kepalanya Dinda yang serasa mau meledak bak bom atom.
"Dan kamu Nilam, kerjakan pekerjaan kamu dengan benar. Aku tidak peduli dengan siapa kau ini, tetap karyawan di kantorku. Jadi, cepat kalian kembali ke ruang kerja masing-masing, dan kerjakan lagi pekerjaan kalian yang masih banyak kesalahan. Jika tidak bisa, mintalah bantuan yang lainnya, kalian mengerti." Ucap Elang dengan sangat tegas.
Nilam maupun Dinda mengangguk mengerti. Meski dalam hatinya Dinda terasa sangat dongkol.
"Baik, Bos." Jawab Nilam sambil membusungkan badannya tanda mengerti akan perintah dari Bosnya.
"Kalau gitu, kami berdua permisi." Ucap Dinda berpamitan untuk kembali ke tempat kerjanya.
"Silakan keluar, kerjakan dengan benar. Jika sampai ada kesalahan lagi, kalian berdua akan saya kirimkan ke pabriknya langsung."
"Ya, Bos." Jawab keduanya dengan serempak, Elang mengangguk pelan.
Kemudian, Dinda dan Nilam kembali ke ruang kerjanya untuk memeriksa lagi kesalahannya dalam menyelesaikan pekerjaannya.
"Memang enak, dicuekin Bos. Asal kamu tahu ya, Anin jauh lebih berharga darimu. Jugaan, Elang sudah tahu sendiri, mana barang bagus, dan juga barang tidak bagus. Orang kaya tuh, tidak sembarangan untuk menyetujui siapa yang akan menjadi pendamping hidup putranya. Tentu saja, Anin sudah melewati tahap seleksi untuk dijadikan menantu. Memang kamu tahu, jika Anin ternyata sudah diawasi oleh Elang sedari dulu tanpa kamu ketahui. Orang kaya tuh, pemikirannya bisa cerdik, tanpa harus kamu ajari." Ucapnya tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Justru, Nilam merasa sangat puas untuk menyudutkan Dinda dengan segala yang ia tahu, meski sangat tipis kemungkinannya.
"Jangan bangga dulu kamu itu, karena babak ini baru kita mulai. Lihat saja, suatu saat nanti, Elang akan jatuh di pelukanku. Dan kamu, siap-siap untuk menangis sambil menutup muka karena rasa malu." Kata Dinda dengan penuh percaya diri, dan tidak memikirkan akan ada sesuatu yang kapan saja bisa terjadi dan membuatnya malu seumur hidupnya.
__ADS_1
Nilam tersenyum getir mendengarnya.
Malas untuk berdebat lama-lama, Nilam segera masuk ke dalam ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaan yang belum ia koreksi lagi.
Sesuai perintah dari Bosnya, dengan fokus, Nilam maupun Dinda tengah sibuk dengan pekerjaannya dari si Bos.
Sedangkan di dalam ruang kerja pemilik kantor, tengah sibuk dengan pekerjaannya. Diabaikannya rasa letih yang mulai mengganggu pekerjaannya, Elang terus bekerja dan bekerja demi kesuksesannya.
Beda lagi dengan Anin yang tidak mempunyai kegiatan apapun di rumah, hanya menyibukkan diri lewat layar laptop barunya di ruang kerja suaminya.
Rasa penasaran tentang suaminya, Anin memperhatikan isi dalam ruangan tersebut. Kemudian, arah penglihatannya tertuju pada sebuah kotak yang menurutnya mencuri perhatian. Segera, Anin mendekatinya.
"Kotak apa itu? jadi penasaran. Tapi, salah gak ya, jika aku melihatnya. Kalau suamiku tahu, bagaimana? tapi kalau gak lihat, aku semakin penasaran." Gumamnya dengan rasa penasarannya.
Tidak peduli jika sang suami marah, yang terpenting dirinya mengetahui apa yang ada didalam kotak tersebut.
"My love forever." Ucapnya lirih saat membaca tulisan yang tertulis di bagian depan kotak tersebut.
Karena penasaran, akhirnya membuka kotak yang sudah ia pegang.
Pelan-pelan, Anin membukanya dengan penuh hati-hati.
Alangkah terkejutnya saat melihat apa yang ia lihat, seperti mimpi dan benar-benar tidak percaya ketika melihat isinya.
"Apa! jadi, isinya fotoku semua? yang benar aja nih si Elang. Apa ini? ampun dah, ini kan fotoku sama dia waktu masih SMP. Aih! Elang emang benar-benar ya, dia mengambil foto ini saat dia menc_ium pipiku." Gumamnya saat melihatnya satu persatu foto-foto bersama suaminya.
Seketika, Anin tersenyum senyum tidak jelas saat melihat foto-foto dirinya bersama sang suami dimasa lalunya. Bahkan, Senyumnya terlihat bahagia meski dengan malu-malu walau tidak ada yang melihatnya.
Dengan reflek, Anin memegangi pipi kanannya saat teringat suaminya mencuri ciu_mannya dikala belum menjalin hubungan dengan mendiang kekasihnya yang bernama Andika.
__ADS_1
Tanpa Anin sadari, jika dirinya tengah diperhatikan oleh suaminya lewat ponselnya sambil mengerjakan pekerjaannya di kantor.
Elang sendiri juga kembali teringat dengan sikap konyolnya dulu ketika mendekati istrinya, dan tentu senyum-senyum tidak jelas sambil mengusap bibirnya.
"Kamu kenapa, Lang? kelihatannya sedang bahagia."
Seketika, Elang langsung membalikkan ponselnya. Takut, jika akan ketahuan apa yang sedang dilakukannya.
"Ah, gak kenapa-kenapa. Anu, itu, apa itu aih! itulah pokoknya." Jawab Elang gelagapan saat menoleh pada seseorang yang sudah berdiri di dekatnya.
"Hem. Bilang aja kalau sedang memandangi istri tercinta." Kata sang ibu sambil meledek.
"Mama nih, udah kek jinny oh jinny. Datang bak kilat yang menyambar. Ada perlu apa, Mama datang ke kantor? bukankah tadi bilang mau bertemu dengan teman, eh itu, rekan kerja Mama."
"Udah tadi, cuma bentar. Oh ya, Papa gak datang ke kantor ini, ya?"
"Gak keknya, tapi kurang tahu juga sih Ma. Soalnya juga, dari tadi aku sibuk memeriksa laporan. Jadi, gak tahu juga Papa datang ke kantor ini. Kalaupun datang, biasanya juga berada di ruangan privatnya doang. Setelah itu, pergi lagi ke kantor yang dipimpin Papa sendiri." Jawab Elang sambil menyandarkan tubuhnya di kursinya.
"Oh, kirain Mama ada di kantor ini. Soalnya pikir Mama, Papa kamu ada disini. Ya udah kalau gitu, Mama mau menghubungi Papa." Ucap sang ibu, dan segera menghubungi suaminya.
Kembali di lain posisi, Nilam bersama Dinda tengah mengerjakan tugasnya yang ada kesalahan saat dilakukan pemeriksaan.
Ayun yang penasaran, akhirnya membuka suara dan bertanya langsung padanya.
"Nil, kamu di suruh apa sama si Bos. Perasaan lama juga kamu berada di ruangan kerjanya si Bos."
"Hanya di suruh untuk mengoreksi lagi kesalahan saat aku mengerjakan pekerjaanku ini." Jawab Nilam meyakinkan temannya dalam bekerja, meski pekerjaan yang ditekuninya hanya membayarnya sedikit.
"Kirain ada apa, aku sudah khawatir banget sama kamu dan Dinda."
__ADS_1