
Waktunya untuk makan malam, sebelumnya Anin dan Elang membersihkan diri terlebih dahulu.
Sedangkan Elang memilih menunggu istrinya selesai mandi, baru giliran dirinya.
Sambil menunggu, Elang menyibukkan diri dengan ponselnya. Alih alih menggunakan sosial medianya dimasa masih sekolah. Elang membuka kenangan masa lalunya bersama sang istri di galeri media sosia.
Elang tersenyum saat dirinya teringat masa sekolah ketika sedang gencarnya menggunakan akun media. Tanpa sepengetahuan teman-temannya, Elang banyak sekali meng-update foto sang istri.
Bahkan, semua teman sekolah dibuatnya bingung, akun resmikah atau akun palsu milik Anin.
Dan sekarang, Elang kembali bikin heboh dengan teman sosial medianya dengan unggahan foto Anin saat menikah. Hanya saja, Elang tidak menunjukkan jati dirinya. Di akun sosial medianya, hanya ada foto sang istri.
Semua yang berteman ikut berkomentar mengenai foto pernikahan. Bahkan, Nilam, Dinda, dan Ayun yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, menyempatkan diri untuk mengobrol.
Karena rasa penasaran, ketiga temannya mengirim pesan pada Burnan, yang disangka masih berkomunikasi dengan Andika.
"Gimana-gimana, sudah dapat balasan dari Burnan atau belum?" tanya Ayun yang sudah tidak sabar ingin mengetahui kebenarannya.
"Belum nih, Yun. Ah! jadi penasaran, ini beneran foto pernikahan Anin, bukan sih?" jawab Nilam yang juga sudah tidak sabar ingin mengetahui kabar dari sahabatnya.
"Mungkin aja memang benar, jika Anin menikah dengan Andika." Kata Dinda ikut menimpali.
'Jadi gak sabar nih, pingin bertemu dengan Elang. Bagaimana kabarnya, ya? pasti tambah tampan aja itu anak. Bagus lah kalau Anin sudah menikah, setidaknya aku mempunyai kebebasan untuk mendapatkan Elang. Kata kakek dan neneknya, Elang tinggal di kota dan katanya juga sudah sukses.' Batin Dinda yang tidak pernah menyerah untuk mendapatkan cinta dari Elang.
"Woi! ngelamun aja kamu ini, ngelamunin apaan sih." Ucap Ayun mengagetkan Dinda.
"Ah, kek gak tahu aja kamu Yun. Dinda mah mikirin Elang, siapa lagi." Timpal Nilam ikut berkomentar.
"Elang? maksudnya Elang gengnya kita?" tanya Ayun memastikan.
"Ya lah, memangnya siapa lagi kalo bukan itu anak. Denger-denger sih, Elang juga sukses seperti Andika. Kata-katanya sih, Elang itu dari keluarga kaya raya." Kata Nilam, sedangkan Dinda sendiri hanya senyum senyum dengan rasa percaya dirinya.
Tidak ada kata menyerah untuk Dinda, meski sudah pernah Elang tolak sekalipun.
"Eh, kita beneran nih, mau pindah kerjaan. Maksud aku, beneran mau daftar kerjaan? memangnya bisa, gitu. Kita kan lulusan dari kampung, apa bisa daftar di perusahaan?" tanya Ayun dengan keraguannya.
__ADS_1
"Jangan pesimis gitu dong, ah. Kita kan belum mencobanya, kenapa harus menyerah sebelum mengujinya." Jawab Dinda.
"Ya juga sih, ok dah, ngikut kalian aja. Eh, Ngomong-ngomong kalau Anin sudah menikah, jadi nyonya dong dia. Wah ... seneng sekali ya, dapat suami tajir melintir. Mana Andika kuliahnya di luar negri juga, keren dah." Kata Ayun.
"Ya lah, ntar aku juga sama kek Anin, bakal jadi nyonya Elang." Jawab Dinda dengan rasa percaya dirinya.
"Ya deh, ya. Ya udah yuk, kita siap-siap untuk pulang. Capek ya, pulang malam trus kita." Kata Yunda.
"Namanya juga kerja, mana ada yang enak." Timpal Nilam.
Sedangkan di lain tempat, Anin dan Elang sudah siap untuk makan malam, keduanya segera bergegas turun.
Saat itu juga, Elang menggandeng tangan istrinya sampai di ruang makan. Kemudian, Elang menarikkan kursi untuk sang istri, dan keduanya duduk bersebelahan.
"Bi, Mama sama Papa, kapan pulangnya sih? perasaan sudah hampir satu bulan, gak pulang juga. Memangnya siapa yang ngurus kantor, Bi?"
"Memangnya Den Elang belum tahu, ya?"
"Aku tidak tahu menahu, Bi. Memangnya ada apa loh, Bi."
"Didit adiknya istriku kah, Bi?"
"Ya, Den. Memangnya siapa lagi yang bernama Didit, kan cuma adiknya Nona Anin."
"Ya udah deh kalau gitu. Kita berdua makan malam dulu ya, Bi." Ucap Elang, Bi Narsih menganggukkan kepalanya.
"Ya, Den, silakan." Jawab Bi Narsih, dan segera pergi dari hadapan majikannya.
Kini, tinggal Anin dan Elang yang masih duduk di ruang makan hanya berdua saja.
Tak ambil diam, Elang menyodorkan suapan untuk istrinya. Anin dibuatnya kaget. Baru aja mau menyuapi dirinya sendiri, tiba-tiba sang suami yang lebih dulu menyuapinya.
"A! buka mulutnya, ayo buka." Pinta Elang, Anin hanya bisa nurut.
Tanpa canggung, Anin menerima suapan dari istrinya. Kemudian, Anin balik menyuapi suaminya. Elang pun menerimanya.
__ADS_1
"Malam ini aku mau mengajak kamu jalan-jalan, bagaimana?"
"Bukankah kita di larang keluar rumah jika tidak ada kepentingan?"
"Aku sudah sembuh, aku sudah bisa jalan."
"Ya sih, tapi kan harus berjaga-jaga. Lain waktu kan, juga bisa. Tidak apa-apa kok di rumah aja, kita bisa duduk santai dan bercerita di balkon." Kata Anin yang masih takut terjadi sesuatu pada suaminya, lantaran yang baru saja bisa berjalan.
Takutnya, terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Karena tindakan kejahatan bisa datang kapan saja, meski ada pengawal sekalipun. Tetap saja, Anin memilih untuk berjaga-jaga.
"Ya, sayang. Jangan di balkon, kita bercinta saja, bagaimana?"
Anin yang mendengarnya pun hampir saja tersedak.
"Ini, diminum. Jangan mikir aneh-aneh, itu sudah menjadi resiko untuk bermalaman di atas tempat tidur." Kata Elang dengan sengaja menakuti istrinya, tentu saja akan permintaan suatu hak yang berupa kewajiban seorang istri untuk melayani suaminya.
Anin setengah menoleh dan melirik suaminya. Elang sendiri pura-pura tidak mau menoleh.
Anin menelan ludahnya dengan kasar.
"Sudah, habiskan dulu makanannya. Setelah ini, kita duduk santai di balkon." Kata Elang, Anin hanya bisa mengangguk pelan sambil mengunyah makanan.
Ingin tertawa melihat ekspresi istrinya, Elang hanya bisa diam sambil menahan tawanya.
Selesai makan, Anin sampai lupa jika ada yang tertinggal di sudut bibirnya dekat pipi mulusnya karena tidak tergapai oleh tissue, dan meninggalkan sisa.
Elang yang melihatnya, seakan mendapatkan durian runtuh yang begitu manis rasanya. Saat itu juga, Elang menc_ium sudut bibir milik istrinya, yakni mengambil sisa makanan yang tertinggal.
"Ada yang tertinggal, lihat ini." Ucap Elang sambil menunjukkannya pada sang istri.
Anin terasa malu dibuatnya.
"Kalau makan tuh, jangan lupa kaca spionnya." Ledek Elang sambil senyum.
"Ya deh, besok lagi aku pakai kaca lemari sekalian." Jawab Anin yang tak mau kalah dari sang suami.
__ADS_1
"Ah sudah lah, ayo kita kembali ke kamar. Kamu tidak perlu membereskan meja makan, biar Bi Narsih sama asisten lainnya yang akan membereskannya.