
Elang seperti mimpi saat mendengar namanya dipanggil.
"Itu Elang kan, Yun?" tanya dinda penasaran.
"Ya sepertinya, Din." Jawab Ayun.
"Ya, benar. Dia itu Elang, teman sekolah kita." Timpal Nilam yang yakin seratus persen, bahwa lelaki yang tengah berdiri di depan itu adalah teman gengnya dulu.
"Dih, kepedean banget kalian. Ngaku-ngaku temannya Bos baru, mimpi kalian."
"Eh! jaga mulut kau itu, dia itu Elang, teman sekolah kita dulu. Asal kamu tahu ya, kita ini satu geng. Kalau gak percaya, tanya aja sendiri." Jawab Dinda dengan penuh kesal saat dirinya disangka sok kenal maupun cari sensasi semata.
"Halah! palingan juga hanya modus, karyawan baru kan gitu caranya." Ucap salah satu karyawan yang satunya ikut menimpali.
"Sudah lah Din, gak perlu kamu besar besarkan. Ini kantor, dan kita ini calon karyawan baru. Jadi, jangan bikin gaduh dan malu." Bisik Ayun mengingatkan temannya.
Elang yang melihat seperti ada perdebatan antara karyawan kantor dan tiga orang yang dikenalinya, segera menghampiri.
Semua karyawan berdiri dan memberi celah kepada bos barunya, lantaran hendak menghampiri yang di belakang.
"Ayun, Dinda, Nilam, kalian ada disini?"
Semua karyawan baru percaya saat mendengarkannya langsung, malu itu sudah pasti, bagi yang baru saja menuduh ketiganya.
"Kita bertiga menjadi karyawan baru disini, ternyata kamu masih mengenali kita bertiga. Aku kira kamu sudah lupa, ternyata masih ingat. Oh ya, apa kabarnya? lama gak bertemu." Jawab Dinda dengan penuh percaya diri.
"Tentu saja aku masih ingat, kabar aku baik, kalian sendiri bagaimana kabarnya?"
"Sangat baik, seperti yang kamu lihat." Kata Dinda, sedangkan Ayun dan Nilam tak mempunyai kesempatan sama sekali untuk menyapa Elang.
'Akhirnya aku dipertemukan lagi dengan lelaki pujaan hatiku.' Batin Dinda penuh semangat.
"Oh ya, obrolan kita hentikan dulu. Kalau tidak keberatan, hubungi saja nomor Burnan, semalam aku bertemu dengannya. Kita bisa atur waktu untuk bertemu. Ya sudah, aku mau melanjutkan tugasku di kantor ini." Ucap Elang, sekaligus berpamitan.
Alangkah senangnya ketiga temannya saat bertemu dengan Elang.
__ADS_1
Setelah itu, Elang melanjutkan lagi memperkenalkan diri, karena barusan terpotong pembicaraannya dengan ketiga temannya.
Alangkah terkejutnya saat mendengar pengakuan Elang yang sudah menikah.
Dinda yang sudah lama jatuh hati, harus bertepuk sebelah tangan. Ayun maupun Nilam, pun sangat terkejut mendengar pengakuan Elang di hadapan semua karyawannya.
Setelah berpamitan, semua karyawan kini tertuju pada Ayun, Dinda, dan Nilam.
"Jadi, Bos baru kita itu teman kalian?" tanya salah satu karyawan karena penasaran.
"Ya, kenapa?" jawab Dinda dengan sungut.
"Gak begitu juga, kali. Jawabnya jangan ngegas dong, jangan-jangan nih ya, cinta kamu itu bertepuk sebelah tangan. Pantas aja ngegas, lagi emosi sih." Ucapnya sambil meledek.
"Diam! kau." Bentak Dinda dengan emosi.
"Udah deh Din, jangan kamu ladenin. Yuk, kita kembali ke ruang kerja kita yang sudah di beritahu atasan kita." Ucap Nilam mencoba untuk meredamkan amarah Dinda.
Tidak mempunyai pilihan lain, Dinda akhirnya nurut dan mengikuti ajakan Nilam.
Ayun tersenyum lega, saat Burnan menerima panggilan telepon darinya.
Tanpa basa-basi, Ayun mengajak Burnan untuk melakukan pertemuan. Tentu saja, untuk menentukan hari pertemuan dengan Elang.
"Gimana, Yun. Burnan mau kan, diajak pertemuan?" tanya Dinda yang sudah tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Elang.
"Sabar dong, Din. Elang gak pergi kemana, jugaan udah menikah katanya. Apa yang mau kamu harapin, Din? ingat ya, jangan jadi perusak rumah tangga orang." Timpal Nilam yang tak lupa untuk menasehati temannya.
"Tentu saja mau, katanya nanti malam ngajak ketemuan. Tapi tidak untuk dengan Elang, hanya sama Burnan aja." Ucap Ayun.
"Kok, cuma sama Burnan aja. Memangnya kenapa dengan Elang, tidak mau ya?"
Dengan lesu, Dinda merasa kecewa.
"Hus! tidak boleh begitu, mungkin aja, si Burnan ngajak kita untuk rembukan dulu. Nah, baru tuh, kita baru ketemu lagi dengan Elang. Positif thinking aja kenapa sih, Din." Kata Nilam kembali menimpali.
__ADS_1
"Lagian juga, Elang sudah beristri." Timpal Ayun yang juga mengingatkan temannya agar tidak menjadi pelakor.
"Aku gak peduli mau punya istri kek, nggak kek, aku mau aja jadi istri yang kedua. Kalian tahu gak sih, aku tuh jatuh cinta sama Elang tuh, udah dari dulu. Gara-gara Anin, aku jadi punya saingan." Jawab Dinda dengan kesal.
"Kok nyalahin Anin, dia salah apa sama kamu? Anin aja pacarannya sama Andika. Bahkan, mungkin aja mereka berdua sudah menikah. Secara, Andika juga bukan dari golongan orang biasa-biasa, melainkan juga orang kaya. Jadi, stop deh, jangan menyaut pautkan Anin dengan Elang." Ucap Ayun mencoba untuk mengingatkan temannya, supaya tidak berburuk sangka dengan teman satu gengnya.
"Tetap aja, Elang tuh dari dulu deketin Anin terus." Jawab Dinda dengan kesal.
"Sudah deh, mendingan kita berkenalan dengan karyawan lainnya. Nanti ketahuan berisik, berabe kitanya." Kata Nilam mencoba untuk menghentikan perdebatan.
"Dan kamu, Yun. Sudah, lebih baik kamu diam." Sambung Nilam kembali yang juga mengingatkan Ayun.
"Ya deh, ya." Jawab keduanya dengan serempak.
Karena tidak ada pekerjaan yang begitu padat, jadwal pun di percepat.
Elang yang tengah berada di ruang kerjanya, bersiap-siap untuk pulang. Karena memang jadwalnya hanya untuk memperkenalkan diri, sehingga memilih untuk pulang lebih awal.
Tentunya, Elang sudah tidak sabar ingin bertemu istrinya. Sudah bagaikan candu, istri tercintanya itu. Lebih lagi, Elang sudah menjadi pemilik seutuhnya.
"Pa, Elang pulang duluan ya."
"Boleh. Tapi ingat, besok jangan terlambat."
"Siap! Pa. Eh, bukannya besok hari minggu ya."
"Kenapa emangnya kalau hari minggu?" tanya sang ayah.
"Elang kan, tadi bertemu dengan teman sekolah di kampung. Nah, Elang meminta sama teman laki-laki untuk datang ke rumah, boleh kan, Pa?"
"Tentu saja boleh. Tapi ingat, jaga sikap di manapun. Ada istrimu yang harus dijaga perasaannya, karena istrimu sedang tahap penyembuhan akan perasaan hancurnya ditinggal orang yang dicintainya untuk selama lamanya." Ucap sang ayah yang tak lupa memberi nasehat kepada putranya untuk mementingkan perasaan istrinya.
"Ya, Pa. Nanti kalau mereka sudah datang ke rumah, Elang akan memperkenalkan Anin pada mereka, bahwa Anin adalah istri sahnya Elang." Jawab Elang dengan yakin.
"Ingat ya, jaga perasaan istri kamu. Sedikit saja kamu menyakiti hatinya, kemungkinan besar, kata maaf saja tidak akan cukup untuk kamu lakukan. Bahkan, sekalipun dengan tindakan maupun sikap perhatian. Jangan membuat istri kamu itu, hilang kepercayaannya kepada kamu." Ucap sang ayah, Elang mengangguk.
__ADS_1
"Ya, Pa." Jawab Elang.