Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Keinginan


__ADS_3

Dinda yang menolak ajakan dari Ayun, memilih untuk kembali ke ruang kerjanya. sesekali dirinya menghubungi Burnan, berharap akan mendapatkan jawaban darinya.


Jawaban apa lagi kalau bukan mengenai Elang, karena rasa ingin bertemu dengannya.


"Yes! terkirim." Ucap Dinda dengan girangnya, saat pesannya terkirim ke nomor Burnan.


Sambil membuka galery, Dinda membayangkan akan mendapatkan Elang untuk dijadikan pasangannya.


Dinda terus melamun, sampai tak sadarkan diri, ada pesan masuk dari Burnan. Usai melamun Elang, Dinda mencoba mengecek ponselnya.


Benar saja, rupanya ada pesan masuk bertuliskan nama Burnan. Dinda tersenyum merekah ketika mendapat pesan masuk.


Rasa yang sudah tidak sabar, cepat-cepat Dinda membukanya.


"Elang masih libur kerjanya karena sesuatu hal dengan keluarga istrinya, kenapa? oh ya, besok akan ada yang dipilih untuk pindah kantor. Jadi, siapkan diri untuk menerima keputusan dari pihak penyeleksian." Ucap Dinda saat membaca tulisan pada pesan masuk yang dikirim oleh Burnan.


Dinda membulatkan kedua bola matanya, sungguh membuatnya geram. Awalnya sudah bersemangat saat mendapatkan pesan masuk, rupanya seperti mendapatkan ancaman.


"Akan ada seleksi karyawan baru lagi untuk dipindahkan ke kantor lain? yang benar saja. Kalau ada aku dalam penyeleksian itu, bagaimana? aku tidak bisa bertemu dengan Elang, dong." Gumamnya penuh tanya-tanya saat belum mengetahuinya.


"Hei, Din. Kamu gak ke kantin, kok gak bareng sama geng kamu?"


"Aku masih kenyang, juga lagi diet. Jadi, aku ke kantinnya jarang-jarang." Jawab Dinda beralasan.


"Oooh, pantes. Postur tubuh kamu sangat bagus, juga cantik." Katanya memuji, Dinda semakin kepedean saat mendapatkan pujian dari rekan kerjanya.


"Jangan berlebihan memujiku, nanti bisa sesak bajuku. Oh ya, Bos kita kok gak pernah kelihatan, ya? kamu pernah lihat, gak?"


"Untuk soal Bos sih, aku gak tahu. Denger-denger nih ya, lagi ada kesibukan di kantor satunya. Katanya loh, benar atau gaknya, kalau si Bos mau pindah ke kantor satunya. Satu lagi, ada beberapa karyawan yang mau di pindahkan juga." Jawabnya dengan apa yang ia dengar mengenai gosip tersebut.

__ADS_1


'Tapi kan, kata Burnan hanya pemindahan karyawan baru aja. Masa ya, sama Elang juga. Oh, apa jangan-jangan Burnan bohong ya.' Batin Dinda yang semakin bingung mendengarnya, mana yang benar dan mana yang salah.


"Yang kamu omongin itu, beneran serius?" tanya Dinda memastikan.


"Ya lah, serius. Aku dengarnya dari karyawan lainnya, memangnya kenapa sih, kamu kok kelihatan was was gitu." Jawabnya dan merasa ada yang aneh pada diri Dinda.


"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin tahu aja. Bisalah, perempuan kan suka bergosip. Yang gak penting digosipin seheboh mungkin." Kata Dinda beralasan, padahal hanya menutupi apa yang sedang ia cemaskan.


"Jangan bilang, kalau kamu tertarik dengan Bos. Tapi sayangnya, Bos kita udah menikah. Katanya juga nih, istrinya dari kampung, makanya tidak dipublikasikan beritanya. Cuma hanya gosip dan gosip saja yang muncul, istrinya belum pernah muncul sama sekali."


"Ya, kalau soal menikah mah, aku sudah tahu. Cuma, apa salahnya kalau berusaha. Toh, lelaki itu bisa punya banyak istri. Jadi, kesempatan masih banyak, selagi istrinya masih satu." Kata Dinda dengan percaya dirinya.


Teman kerja yang ada dihadapannya itu, benar-benar kaget mendengarnya. Sungguh, apa yang ia dengar seperti tidak percaya dengan ucapan dari Dinda.


'Ngeri juga ya, ini si Dinda. Bosnya yang sudah beristri mau diembat juga, benar-benar ngeri.' Batinnya merasa benar-benar heran mendengarnya.


"Ya udah ya, Din. Aku mau pergi ke toilet." Ucapnya yang males ngobrol dengannya, dan memilih untuk pergi.


"Loh, sudah pulang kalian?" tanya sang ibu saat mendapati anak dan menantunya sudah berada di rumah.


"Ya, Ma. Hari ini kerjaan Elang numpuk, mana harus di selesaikan dalam waktu dekat. Jadi, Elang gak bisa berlama-lama di rumah Mama Rahel."


"Oh, ya udah kalau kamu mau menyelesaikan kerjaan kamu. Mama juga mau pergi ke butik, ada pertemuan penting dengan rekan kerja. Kalau untuk Anin, kamu di rumah saja. Kamu pasti kecapean, mending buat istirahat saja." Ucap sang ibu, Anin mengangguk.


"Ya, Ma. Tapi besok, Anin boleh ikut Mama lagi, 'kan?"


"Tentu saja, sayang. Lebih baik sekarang kamu istirahat saja, temani suami kamu di rumah." Kata sang ibu mertua.


"Baik, Ma." Jawab Anin.

__ADS_1


Setelah itu, Anin dan Elang bergegas masuk ke kamar untuk membersihkan diri dan beristirahat sejenak, walau hanya sekedar duduk santai.


Saat berada di kamar, Anin memilih untuk rebahan terlebih dahulu. Elang yang baru saja melepas pakaiannya dan hanya menyisakan celana kolornya, ikut rebahan di sebelah istrinya.


"Jangan banyak melamun, nanti cepat lupa." Ucap Elang yang juga ikutan menatap langit-langit kamarnya.


Anin menoleh pada suaminya, dan dilihatnya hanya mengenakan kolor saja. Tentu saja, membuatnya ketar-ketir jika suaminya mulai menatapnya.


"Kenapa menatapku seperti itu, sayang? pingin ya?" tanya Elang sambil mengedipkan matanya seraya menggoda.


Anin yang melihatnya, pun bergidik ngeri.


Saat itu juga, Elang mendekatkan diri lebih dekat lagi dengan istrinya. Kemudian, mengubah posisinya dan kini menghadap pada istrinya.


Elang langsung memeluknya dengan erat.


"Aku kangen banget sama kamu, sayang. Kangen memelukmu seperti ini, dan ... dan itu." Kata Elang seraya memberi kode pada istrinya.


Anin mengernyit, mencoba untuk mencerna apa yang diucapkan oleh suami. Seketika, Anin tersadar apa yang diinginkan oleh suaminya.


"Tapi, aku belum mandi." Jawab Anin dengan jujur, karena tak ingin mengecewakan suaminya.


"Gak mandi baru sehari saja, 'kan. Tidak apa-apa, aku juga belum mandi." Ucap Elang yang mulai aktif dengan salah satu tangannya.


Anin yang mengerti apa yang diinginkan oleh suaminya, ia langsung membalasnya dengan apa yang dilakukan suaminya padanya.


Elang yang sudah tidak sabar ingin menye_ntuh seutuhnya tu_buh sang istri, pelan-pelan ia mendaratkan sebuah ciu_man lewat keningnya. Kemudian, perlahan turun ke b_ibir ranum miliknya. Cukup lama keduanya menikmati setiap pagu_tannya, Anin maupun Elang sama-sama menikmatinya.


Tidak hanya sampai disitu saja, Elang mulai menyusuri di setiap inci demi inci dengan keaktifannya. Mereka melakukannya berada dalam satu selimut, keduanya tengah bertukar ker_ingat satu sama lain.

__ADS_1


Sampainya pada titik puncak kenik_matan, akhirnya Anin dan Elang sama tumb_angnya di atas tempat tidur dibawah selimut tebal.


Usai melakukan ritualnya, Anin maupun Elang segera membersihkan diri berada dalam satu kamar mandi. Usai mandi, keduanya cepat-cepat mengganti pakaiannya dan tak lupa untuk mengeringkan rambutnya yang basah.


__ADS_2