Akhir Dari Perpisahan

Akhir Dari Perpisahan
Benar-benar tidak menyangka


__ADS_3

Kedua orang tuanya Elang sama-sama dibuatnya terkejut, benar-benar di luar dugaannya.


"Benar, Pa. Jadi, kedua anaknya Rahtair masih hidup. Tunggu dulu, Mama mau ambil liontin Elang, benar bisa dibuka atau tidak. Bukankah kunci liontin ada pada Elang? Mama mau coba ambil dulu." Ucap ibunya Elang yang sudah tidak sabar untuk mencocokkan liontin milik putranya dengan menantunya, saat mengetahui kebenaran tentang menantunya.


Saat sudah menemukan kotak liontin milik putranya, Ibunya Elang segera mengambilnya untuk mencocokkan kepunyaan menantunya.


"Masih ada 'kan Ma?"


"Ada kok, Pa. Ini, liontin punya Elang." Jawab sang istri sambil membawa kotak kecil berisi liontin.


Saat itu juga, ibunya Elang segera membukanya.


Sayangnya, ketika mau membuka kotak tersebut, dikagetkan dengan suara ketukan pintu.


"Coba Papa lihat, siapa yang ketuk pintu." Pinta sang istri untuk membuka pintu kamarnya.


Tuan Mawan segera membukanya.


"Elang, kamu rupanya. Mau ada perlu apa kamu kemari, istrimu mana?"


"Anin baru aja selesai mandi, Mama sedang apa?" jawab Elang dan bertanya saat melihat ibunya tengah sibuk.


Kemudian, Tuan Mawan mendorong kursi roda.

__ADS_1


"Apa itu, Ma?" tanya Elang.


Tanpa pikir panjang, Elang meraihnya.


"Sepertinya berkas penting, punya siapa ini, Ma?"


"Punya istri kamu, Anin." Jawab ibunya sambil membuka liontin dengan kunci liontin milik putranya.


"Kok ada dua liontin? bukankah Mama cuma punya satu?"


Sang ibu mendongak dan menetap putranya.


"Ya, benar. Yang satu ini memang punyamu, sedangkan yang satunya lagi, milik istrimu." Jawab sang ibu yang akhirnya berterus terang kepada putranya.


"Tenangkan dulu pikiran kamu, baru Mama akan jelaskan semuanya sama kamu." Jawab sang ibu.


"Ya, Ma, aku siap mendengarkan penjelasan dari Mama." Kata Elang dengan anggukan.


"Benar kata pepatah atau sebuah takdir, jodoh itu tidak akan kemana. Sejauh mana kamu melangkah dan sejauh mana kamu bertahan, kalau jodoh, akan tetap bertemu dengan keadaan apapun. Sama sepertimu dengan Anin, Mama dan Papa dulu hanya berharap, meski harapan kami hanya berakhir dalam waktu yang singkat. Tapi, takdir berkata lain, ternyata harapan itu masih ada, walau itu sangat sulit."


Ucap ibunya Elang, sedangkan putranya sendiri belum juga mengerti dengan apa yang diucapkan ibunya. Mencoba untuk mencernanya, tetap saja nihil.


"Aku masih belum mengerti, apa maksudnya Mama berkata seperti itu?"

__ADS_1


"Istrimu, ternyata bayi yang dinyatakan hilang dan meninggal adalah anak dari keluarga Rahtair Pratama, pemilik liontin ini. Bayi mungil yang dinikahkan gantung denganmu semasa masih bayi. Tapi, saat itu kita semua mengalami kecelakaan. Lihatlah, lion milik istrimu dapat dibuka dengan liontin milikmu." Jawab sang ibu menjelaskan secara detail.


Saat itu juga, Elang segera meraih liontin miliknya dan juga milik istrinya. Dua benda yang sama persis dan juga masih sama bagusnya, membuat Elang semakin yakin jika cerita masa lalunya benar ada. Tenyata, perempuan yang disukainya sejak dulu pertama dikenalinya.


"Mama tidak bohong, 'kan?" tanya Elang sambil memperhatikan dua liontin yang ada ditangannya.


"Coba kamu lihat, apakah benar, berkas ini milik istrimu dan adik ipar kamu?"


Elang kembali meraih berkas milik istrinya dan asik iparnya, takut akan ada yang salah, pikir ibunya.


"Anindita Rahtair Pratama," ucapnya lirih saat membaca nama lengkap milik istrinya.


Kemudian, Elang menatap wajah ibunya.


"Kenapa, Lang, salah?"


Elang menggelengkan kepalanya.


"Selama ini Elang tidak pernah mendengar nama Rahtair saat absen sekolah, Ma. Nama Anin hanya disebut dengan Anindita, dan tidak ada nama selanjutnya." Jawab Elang.


"Ya sudah, biar Mama dan Papa yang akan mengurus semuanya. Yang terpenting, kamu sudah tahu siapa istrimu sebenarnya. Karena besok harus berangkat ke luar negri, Mama dan Papa belum bisa untuk menguak semuanya. Jadi, kamu harus segera sembuh, ada nyawa istrimu yang bisa saja menjadi incaran." Ucap ibunya, Elang mengangguk.


"Ingat, kamu harus berusaha untuk sembuh. Jangan bermalas-malasan untuk terapi, kamu mengerti?"

__ADS_1


"Ya, Pa, Ma." Jawab Elang.


__ADS_2