
Seseorang yang ada dihadapan kedua orang tuanya Elang, tengah menunggu sesuatu yang akan ditunjukkan oleh ibunya Elang.
Alangkah terkejutnya saat melihat dua benda yang sama persis.
"Ini, bukalah." Ucap ibunya Elang sambil menyodorkan dua benda yang sama.
Dengan rasa penasaran dan sambil mengingat-ingat dengan apa yang dilihatnya, diraih dua kotak kecil yang ada dihadapannya.
Kemudian, satu persatu membukanya.
"Kalung liontin?" gumamnya seperti tidak percaya saat membuka dua buah kotak kecil yang ia dapatkan dari ibunya Elang.
"Ya, benar, Nyonya Vitto. Yang kamu pegang itu, kalung liontin milik putrimu dan juga putraku." Jawab ibunya Elang.
Nyonya Vitton langsung mendongak.
"Kamu mendapatkan benda ini dari mana, Yenizar?" tanyanya dengan rasa penasaran.
Saat itu juga, beliau meneteskan air matanya karena sebuah kerinduan yang begitu dalam. Ibunya Elang pindah posisi, dan duduk di sebelahnya.
"Aku mendapatkan benda ini, yakni dari pemiliknya." Jawab ibunya Elang berterus terang.
Seketika, nyonya Vitton langsung menoleh.
"Jadi, kamu sudah bertemu dengan putriku?kamu sedang tidak membohongi aku 'kan? benarkah putriku masih hidup? katakan padaku, dimana putriku?"
Rasa yang tidak sabar, nyonya Vitton mengguncangkan tubuh ibunya Elang karena rasa penasarannya.
"Ada, ada di rumahku." Jawabnya sambil menatap serius nyonya Vitton.
"Apa, di rumah kamu? sekarang juga, antarkan aku dengan putriku."
"Tidak, tidak sekarang. Aku tidak mungkin mempertemukan kamu dengan putrimu, maupun putramu."
Seketika, nyonya Vitton membulatkan kedua bola matanya seperti tidak percaya.
"Putraku?"
Ibunya Elang mengangguk pelan.
"Benar, putramu dan putrimu masih hidup. Sekarang, mereka berdua ada padaku. Tapi, maaf, jika kami belum bisa mempertemukan kalian." Ucap Tuan Mawan ikut menimpali.
"Apa! kalian melarang aku untuk bertemu dengan kedua anakku? dimana otak waras kalian? ha!"
__ADS_1
Bentak nyonya Vitton penuh emosi saat mendengarnya.
"Jangan berprasangka buruk dengan kami, ini demi kebaikan kedua anakmu, Adit dan juga Anindita. Kamu tahu, tidak semudah itu untuk mengungkapkan kebenaran. Apa kamu mendadak lupa, siapa suami kamu yang sekarang? kamu sendiri takluk padanya." Kata Tuan Mawan mencoba untuk memberi penjelasan.
Saat itu juga, nyonya Vitton tertunduk sedih saat mengingat penderitaan yang sebenarnya beliau rasakan mempunyai suami yang tidak ia inginkan kehadirannya sama sekali.
Meski mempunyai dua anak dari suami kedua, beliau selalu tertahan akan perasaannya.
"Kamu tidak perlu risau dan juga khawatir, putrimu sudah menjadi menantuku."
Saat itu juga, langsung menatap ibunya Elang sangat serius.
"Kamu bilang apa tadi, putriku menjadi menantu kamu?"
Ibunya Elang tersenyum dan mengangguk pelan.
"Benar, Amira yang sudah menyelamatkan kedua anakmu. Tapi ..."
"Tapi kenapa, Yen?"
"Amira sudah meninggal dunia, tepat saat kedua anakmu tumbuh dewasa."
"Amira, benarkah dia yang sudah menyelamatkan kedua anakku?"
"Benar, aku tidak berbohong. Kalau kamu ingin bertemu dengan putrimu, kamu bisa main ke rumahku. Tapi maaf, waktu kamu hanya sebentar. Karena aku tidak ingin, suami kamu akan mencelakai perempuan yang dicintai oleh putraku." Ucap ibunya Elang yang takut akan terjadi sesuatu pada perempuan yang sangat dicintai oleh putranya, yakni menantunya sendiri.
"Tentu saja, akan aku atur waktunya. Tapi ingat, jangan membuat putramu curiga, apalagi suami kamu."
Saat itu juga, langsung memeluk ibunya Elang dengan perasaan yang sulit untuk digambarkan.
"Aku sangat merindukan kedua anakku, aku ingin bertemu dengan mereka berdua. Tolong, jangan halangi aku untuk memeluk mereka. Aku tidak akan takut lagi, aku akan melawan ketidak adilan dari suamiku, Vitton." Ucapnya sambil memeluk erat dan juga meneteskan air matanya.
Ibunya Elang segera melepaskan pelukannya.
"Kamu tenang saja, aku akan ikut andil membereskan masalah kamu dengan suami kamu yang bernama Vitton, dan aku bersama suamiku akan mengembalikan hak milik kedua anakmu. Mau bagaimanapun, kedua anakmu dari Vitton tak mempunyai hak apapun atas milik Rahtair Pratama, suami pertamamu." Ucap ibunya Elang.
"Makasih banyak ya, Yen, Wan, aku benar-benar sangat membutuhkan bantuan dari kalian berdua." Jawabnya penuh permohonan.
"Putrimu sudah menjadi menantuku, yang juga sudah menjadi tanggung jawabku." Ucap Tuan Mawan ikut menimpali.
Saat tengah membicarakan hal yang sangat serius, beliau mendapatkan panggilan telpon lewat ponselnya.
"Sebentar, suami aku menelpon." Ucapnya, Tuan Mawan dan istrinya mengangguk.
__ADS_1
Sedangkan nyonya Vitton tengah menerima panggilan telepon dari suaminya.
"Ya, aku pulang." Jawabnya yang langsung menutup panggilan telpon dari suaminya.
"Kenapa, apakah suami kamu marah?" tanya ibunya Elang penasaran.
"Sepertinya, tadi aku lupa berpamitan. Kalau gitu, aku pamit pulang. Jika kamu ingin menghubungi aku, telpon saja ke nomor ponselku." Jawabnya yang sekaligus berpamitan.
"Ya, tidak apa-apa. Hati-hati di perjalanan, nanti akan aku hubungi kamu jika aku sudah menentukan waktu yang tepat untuk kamu dan kedua anak kamu untuk bertemu." Ucap ibunya Elang, kemudian langsung memeluknya.
Setelah itu, nyonya Vitton yang diketahui orang tua Anin dan Didit, segera pulang saat sudah berpamitan.
Dengan perasaan yang begitu sangat bahagia saat mendengar kabar yang tidak pernah terduga sebelumnya, nyonya Vitton nampak seperti mendapatkan kejutan yang sangat berharga.
Sampainya di rumah, beliau langsung mencari keberadaan suaminya yang entah berada di ruangan mana.
"Dari mana saja, kamu? ha! ayo, jawab dengan jujur."
Baru saja pulang, perempuan paruh baya yang dinyatakan ibunya Didit dan Anin, tengah di interogasi oleh suaminya.
"A-a-aku dari Restoran, kenapa?"
"Kamu pikir, aku tidak tahu kemana kamu pergi dan bertemu dengan siapa? ha!"
Seketika, sekujur tubuhnya mendadak menjadi lemas dan tidak berdaya.
"Aku serius, aku hanya ingin makan di luar saja." Jawabnya berusaha untuk meyakinkan suaminya.
Tanpa melanjutkan ucapannya, sang suami langsung menunjukkan rekaman video lewat ponselnya. Alangkah terkejutnya saat melihat video tersebut yang ditunjukkan oleh suaminya.
Meski tidak dapat tertangkap pembicaraannya, tetap ketahuan sedang melakukan pertemuan dengan siapa orangnya.
"Meski aku tahu, mereka teman kamu sudah melakukan penjagaan ketat, aku dapat mengetahui kamu sedang bertemu dengan siapanya." Ucapnya dengan menyelidik.
"Ya, aku bertemu dengan keluarga Alexander, kenapa? tidak boleh? bukan urusan kamu."
PLAK!
Sebuah tamparan keras telah mendarat di pipi kanan milik istrinya.
Dengan tatapan penuh kebencian, Tuan Vitton kembali melakukan kekerasan terhadap istrinya.
Entah motifnya apa, Tuan Vitton begitu benci dengan keluarga Alexander.
__ADS_1
"Aku peringatkan, jangan pernah bertemu dengan keluarga Alexander." Ucap Tuan Vitton dengan tatapan penuh ancaman.
"Bukan urusan kamu untuk melarang aku bertemu dengan siapapun. Aku sudah cukup menuruti perintah darimu, semua kekayaan Rahtair kepadamu. Jadi, biarkan aku bebas dengan kemauanku sendiri." Ucap sang istri yang sudah merasa bosan untuk dijadikan umpan suaminya sendiri.