
Selesai menikmati sarapan pagi, Elang maupun ayah dan ibunya tengah bersiap-siap untuk berangkat ke tempat kerjanya masing-masing.
Anin yang merasa jenuh berada di dalam rumah tanpa aktivitas yang dijalani, seakan terasa hampa.
"Ma, Anin boleh ikut Mama, tidak?" tanya Anin yang akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
Ibu mertua tersenyum mendengarnya.
"Kamu yakin, ingin ikut Mama?"
Anin mengangguk, pertanda mengiyakan.
"Ya, Ma, Anin seriusan mau ikut Mama. Soalnya tidak mungkin juga, jika ikut suami pergi ke kantor. Nanti yang ada, Anin hanya mengganggu suami kerja." Jawab Anin.
"Boleh, Mama tidak keberatan jika kamu mau ikut pergi ke tempat kerjaan Mama. Em ... mendingan sekarang kamu buruan bersiap-siap, Mama tunggu di mobil." Ucap Ibu mertuanya, sedangkan Anin segera bergegas untuk bersiap-siap.
"Ya, Ma." Jawab Anin dan segera masuk ke kamar untuk bersikap.
"Kamu mau kemana, sayang?" tanya Elang yang mendapati istrinya yang juga seperti tengah bersiap-siap untuk pergi.
Anin menoleh pada suaminya, dan tersenyum padanya.
"Aku mau ikut Mama ke tempat kerjanya, habisnya aku bosen di rumah sendirian. Tidak apa-apa kan, jika aku ikut Mama?"
Elang mengangguk.
"Boleh, aku tidak akan melarang kamu. Asalkan itu sifatnya positif, tidak mengapa bagiku. Yang terpenting, kamu ingat waktu." Kata Elang sambil mengenakan jam tangannya.
"Makasih ya, sayang. Kamu tidak perlu khawatir, aku akan ingat dengan waktuku. Tapi ...." Jawab Anin, dan tiba-tiba ia menggantungkan kalimatnya.
"Tapi kenapa, sayang?"
"Kamu tidak boleh nakal di kantor, jangan ganjen." Jawab Anin dibuat cemberut di depan suaminya, Elang tertawa kecil mendengarnya, serta melihat ekspresi istrinya yang terlihat begitu menggemaskan.
__ADS_1
"Cemburu ya? tenang aja, aku akan menjaga cintaku hanya untuk kamu seorang. Kamu tahu, bahkan aku bisa gila jika aku harus kehilangan kamu. Tidak bisa mendapatkan kamu saja, hidupku seperti mati. Terus, apalagi harus kehilangan kamu, aku tidak bisa membayangkannya." Ucap Elang meyakinkan istrinya, dan memeluk erat padanya.
Setelah dirasa sudah cukup, Elang melepaskan pelukannya dan menc_ium keningnya.
"Aku berangkat dulu ya, sayang. Jaga diri kamu baik-baik, nanti aku yang akan menjemput kamu." Kata Elang berpamitan sebelum berangkat ke kantor.
"Aku percaya kok, sama kamu. Jika kamu sibuk, tidak perlu dipaksakan untuk menjemput aku. Lagi pula, aku bisa pulang bareng Mama." Jawab Anin, Elang mengangguk dan tersenyum.
Setelah berpamitan, Elang segera berangkat ke kantor. Anin yang juga sudah siap untuk berangkat, mengikuti suaminya sampai di depan rumah.
Ketika mobil yang ditumpangi suaminya sudah tidak terlihat lagi bayangannya, Anin segera masuk ke dalam mobil ibu mertuanya.
Selama perjalanan menuju tempat dimana ibu mertua menyibukkan diri dengan pekerjaannya, Anin terus melamun sambil melihat jalanan yang dilewatinya.
Tiba-tiba, ingatan Anin tertuju pada Dinda. Perempuan yang pernah berterus terang, bahwa Dinda menyukai Elang sejak masih duduk di bangku SMA.
Awalnya Dinda menyukai mendiang Andika, tetapi saat mengenal Elang, dirinya berpindah hati.
'Kalau Dinda nekad untuk mendapatkan Elang, bagaimana? haruskah aku menyerah? tidak, karena Elang adalah suamiku. Apakah sekarang ini saatnya aku memperjuangkan suamiku? yang mana suamiku sudah banyak berjuang untuk mendapatkan aku. Tapi, jika suamiku berpihak pada Dinda, aku harus bagaimana?' batin Anin penuh tanda tanya mengenai suaminya maupun teman akrabnya sendiri.
Puk!
"Aw! Mama." Pekik Anin dengan reflek menyebut ibu mertuanya.
"Kamu sedang mikirin apa, Nak?" tanya ibu mertua merasa aneh melihat menantunya yang mana terlihat tengah melamun sedari tadi.
"Anin sedang tidak mikirin apa-apa kok, Ma. Hanya saja teringat dengan masa lalu, masa dimana Anin mengenal dekat dengan Elang, suami Anin sendiri." Jawab Anin beralasan, meski benar tengah memikirkan suaminya sendiri.
Ibu mertua tersenyum mendengarnya.
"Kirain Mama kamu sedang bersedih, atau sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ibu kandung kamu." Ucap ibu mertua.
"Anin akan bersabar menunggu waktunya tiba, Ma." Jawab Anin.
__ADS_1
"Secepatnya, Mama akan mengusahakan untuk mempertemukan kamu dengan ibu kandungmu bersama Didit." Kata ibu mertua untuk meyakinkan menantunya.
Tidak lama dalam perjalanan menuju tempat dimana istrinya Tuan Mawan bekerja, akhirnya sampai juga di depan gedung yang cukup besar dan juga tinggi bangunannya.
Saat turun dari mobil, Anin dibuatnya takjub melihat bangunan yang ada di depan matanya.
"Ma, ini beneran tempat kerjanya Mama?" tanya Anin memastikan.
"Ya, Nak, ini butik, milik Mama. Dulunya, butik ini tempat berbisnis antara orang tua kandung kamu dan Mama. Tapi, masalah terus berdatangan silih berganti, hingga akhirnya, Mama yang menjalankan bisnis ini sendirian." Jawab ibu mertuanya menjelang.
"Maaf, Ma, Anin tidak tahu. Maaf juga, jika Anin mengingatkan Mama dengan masa lalu." Ucap Anin merasa bersalah.
"Tidak ada yang perlu kamu ucapkan kata maaf sama Mama, karena masalah yang datang itu, berawal dari orang yang tidak bertanggung jawab." Kata ibu mertua, Anin masih belum juga mengerti.
"Apakah Mamanya Anin hidupnya tidak bahagia?" tanya Anin yang ingin mengetahui kebenarannya.
"Mama tidak bisa menjawabnya, karena bahagia maupun tidaknya, hanya ibumu yang tahu jawabannya. Oh ya, dari pada kita membahas yang tidak ada ujungnya, mendingan kita masuk dulu, kamu pasti ingin melihat-lihat isi di dalam gedung butik ini, bukan?"
"Maafin Anin ya, Ma. Jika sudah menambah beban pikiran untuk Mama, Anin benar-benar tidak tahu."
"Tidak apa-apa, Mama tidak mempermasalahkannya. Mama hanya takut saja, jika kalimat yang Mama sampaikan ternyata salah." Ucap ibunya Elang sebisanya untuk tidak ceroboh dalam menyampaikan sesuatu.
Setelah itu, anak dan menantu segera pergi dari ruangan tersebut. Kemudian, Ibunya Elang mengajak menantunya untuk mencari tempat yang sekiranya dapat mengalihkan pembicaraan mengenai masa lalu, yakni masa yang sudah silam begitu lamanya.
Dilain tempat dan juga posisi, Elang yang baru saja sampai di kantor, semua karyawan segera ke tempat kerjanya masing-masing.
Begitu juga dengan Ayun dan Nilam, kini keduanya baru saja masuk ke ruang kerjanya. Berbeda dengan Dinda, dirinya memperlambat jalannya. Berharap, akan bertemu dengan lelaki yang disukainya.
Saat tengah berjalan dengan lambat, pandangannya tertuju pada sosok Elang yang tengah berjalan menuju ruang kerjanya.
"Wah, tampan banget ya, si Elang. Andai saja aku yang menjadi istrinya, hidupku benar-benar sangat sempurna."
"Pagi-pagi kok sudah mimpi, awas nanti jatuh, baru tahu rasa, kamunya." Ucap salah satu karyawan memergoki Dinda yang tengah bergumam, dan tentunya dapat di dengar oleh siapa saja yang tidak jauh darinya.
__ADS_1