
Di gedung yang sudah di dekorasi dengan nuansa yang romantis, Anin dan Elang sudah siap untuk menyambut kehadiran para tamu undangan dari segala kalangan.
Tidak cuma itu saja, acara live yang sebentar lagi akan segera tayang, membuat para tamu undangan sudah tidak sabar untuk menyaksikannya.
Ditambah lagi dengan hadirnya teman-teman sekolahnya dari kampung, acara live diperpanjang hingga selesainya acara tersebut.
BRUG!
"Aw! maaf, aku tidak sengaja." Ucap Nilam saat menabrak seseorang yang hendak menarik kursi.
Hampir saja jatuh, tetapi sikap tanggapnya mampu menyelamatkan diri dari rasa malu. Geram, itu sudah pasti.
Tapi, saat hendak mau mengomel, akhirnya niatnya diurungkan.
"Kamu!" Ucapnya keduanya dengan serempak.
"Gion temannya Burnan, kan?"
"Dan kamu si Nilam temannya Burnan juga, 'kan?"
"Ya, benar." Jawabnya kembali dengan serempak, dan keduanya tertawa kecil.
"Oh ya, kok kamu bisa ada disini?" tanya Gion penasaran.
"Oh, aku menghadiri acara resepsi pernikahan kedua temanku. Dua duanya teman sekolahku, Anin dan Elang. Kami berdua dari kampung, satu kampung dengan Burnan." Jawabnya memberi penjelasan, Ayun menjadi pendengar setia.
"Oh ya, ya. Aku baru ingat sekarang, semalam Elang yang menjelaskannya kepadaku, kalau istrinya perempuan yang disukainya sejak masih sekolah di kampung." Ucapnya saat mendapat penjelasan dari Elang.
"Terus, kamu siapanya Elang?" tanya Nilam yang juga ingin tahu siapa lelaki yang ada di hadapannya itu.
"Aku," kata Gion menunjuk pada dirinya sendiri.
"Ya lah, kamu. Memangnya siapa lagi, gak ada siapa-siapa disini selain kamu."
"Aku mah teman aja, gak ada bau-bau saudara atau apalah. Kalau gitu, aku tinggal dulu ya. Jika kalian bingung, aku bisa temani kalian."
"Tidak usah, makasih. Aku bisa minta tolong sama Burnan."
"Kebetulan, aku sedang sibuk. Jadi, kalian berdua minta tolong saja sama Gion." Kata Burnan yang tidak mungkin membuka identitas sosok Gion, takutnya akan mengganggu obrolan dengan siapapun.
__ADS_1
"Tapi, Burn."
"Gak apa-apa, aku tidak ada kerjaan dan juga tidak ada pertemuan dengan siapapun. Tapi sebelumnya, aku mau ke sana sebentar." Timpal Gion.
"Maaf ya, sudah merepotkan kamu." Ucap Nilam merasa tidak enak hati.
Ayun sendiri hanya memilih untuk diam.
Dilain sisi, Anin dan Elang ditemani Ibu kandung dan ibu mertuanya sambil menunggu Kakek Pratama dan ayah Elang. Berbeda dengan Didit, nampaknya terlihat gelisah.
"Aditya, kamu kenapa, Nak?" tanya sang ibu saat mendapati putranya terlihat mondar-mandir.
"Tidak apa-apa, Ma. Entah kenapa, perasaan Adit tidak enak. Takut, jika Tuan Mawan dan Kakek kenapa-kenapa." Jawab Didit penuh kekhawatiran.
"Percaya saja sama Tuan Mawan, semua berjalan dengan lancar, tanpa suatu halangan apapun." Kata sang ibu meyakinkan putranya, meski juga merasa gelisah dengan keselamatan kakek Pratama dan Tuan Mawan.
Ibunya Elang yang melihat Didit dan ibunya tengah membicarakan sesuatu yang kelihatan serius, mendekatinya.
"Ada apa ini? kok, kelihatannya genting."
"Tidak apa-apa, Yen. Putraku tengah mencemaskan suami kamu dan kakeknya. Ini sudah jam berapa, acaranya akan segera dimulai, 'kan? dan ditambah acara secara live." Jawab ibunya Didit.
Ibunya Didit terpikir dengan suaminya yang belum nampak batang hidungnya. Bahkan tidak hanya suaminya saja yang tak terlihat, putranya yang bernama Tian juga tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.
"Lara, dimana adikmu dan Papa? kenapa belum juga terlihat. Kamu mengingatkannya lagi kan, kalau hari ini adalah acara resepsi pernikahan Anin?" tanya ibu Rahel pada Lara.
"Sudah sih, Ma. Tadi pagi juga udah siap-siap, mungkin sedang dalam perjalanan. Bukannya Mama berangkatnya sama Papa?"
"Gak, tadi Mama berangkatnya sama Adit. Soalnya, Papa kamu bilang nanti menyusul, gitu. Coba kamu hubungi Papa atau Tian, takutnya mereka macet dijalan."
"Ya, Ma, nanti Lara hubungi Tian sama Papa."
"Ya udah kalau gitu, nanti kasih tahu Mama. Sekarang Mama mau temani ibu mertuanya Anin, entar temui Mama kalau sudah ada kabar dari Papa atau Tian." Kata sang ibu, Lara mengangguk.
Baru saja mau menghubungi adiknya, pandangannya tertuju pada sosok laki-laki yang sedang berjalan dengan seorang perempuan yang tidak dikenalinya.
"Bukannya itu Tian? dengan siapa dia, perasaan pacarnya ada di luar negri. Apa sudah putus? atau ... punya pacar lagi. Aku samperin aja Tian, tanya dimana Papa."
"Tian, darimana saja kamu? siapa perempuan ini? pacar kamu juga?" tanya Lara menatap sinis pada perempuan yang ada di sebelah adiknya.
__ADS_1
"Kamu tuh yang siapa, aku ini pacarnya Tian, kenapa? kamu cemburu?"
Dengan percaya dirinya, perempuan yang bersama Tian tengah ngegas cara bicaranya.
"Stop, stop, stop. Jangan pada ngegas, ok."
"Siapa juga yang ngegas, pacar baru kamu itu yang gak punya attitude." Kata Lara sambil melirik ke arah pacar barunya Tian.
"Jaga mulutmu." Sahut pacarnya Tian tidak terima.
"Stop! aku bilang. Kenalkan, namanya Dinda, pacar baruku. Dan kamu, kenalkan, dia Kakakku." Ucap Tian saling memperkenalkan satu sama lain.
'Oh, perempuan inikah yang diceritakan Anin?' batin Lara teringat saat bercerita dengan istrinya Elang.
Dinda yang mendengar penuturan dari sang pacar baru, benar-benar tidak menyangkal, jika perempuan yang sudah ia bentak, ternyata kakaknya Tian.
Malu, itu sudah pasti.
"Kenapa? kaget, ya. Makanya, kalau tidak kenal itu, jangan sok tahu. Jadi, jaga bicaramu saat melihat dan menilai seseorang." Ucap Lara sambil memojokkan Dinda.
Kemudian, Lara mendekati Dinda seraya ingin berbisik didekat daun telinganya.
"Sudah diapain aja kamu sama adikku? siap-siap saja, kamu akan masuk kedalam kadang buaya." Bisik Lara menakut-nakutinya.
Dinda yang mendengarnya, gendang telinganya seperti mau pecah.
"Ups! maaf, aku hanya bercanda. Jadi, abaikan saja omonganku tadi." Ucapnya yang cukup kerasa di depan Dinda, sedangkan Tian tak mempedulikan ucapan dari sang kakak.
'Memang enak, aku gantian kerjain. Soksokan sih, perlu dijadikan bahan lawakan ini perempuan.' Batin Lara yang masih menyimpan sikap beraninya.
Dinda yang mendengar ejekan dari Lara, seraya ingin menamparnya. Tapi apa daya, dirinya tidak mempunyai apa-apa. Diam dan diam, hanya itu yang bisa diterima oleh Dinda.
Tanpa disadari juga, rupanya Ayun dan Nilam mendengarnya langsung sedari tadi, yakni saat memaki Lara dengan segala tudingannya pada Lara.
"Sudah deh Nil, kita gak perlu ikut campur, ataupun mendengarnya. Ayo, kita ke sana saja." Ucap Ayun sambil menarik tangan milik Nilam yang tengah memperhatikan Dinda.
"Tapi kasihan juga si Dinda." Kata Nilam yang merasa kasihan saat melihat temannya di ejek.
"Kamu ini gimana sih. Kemarin kamu benci, marah, tapi sekarang berubah menjadi kasihan." Ucap Ayun merasa heran dengan Nilam.
__ADS_1