
Selesai membersihkan diri, Didit mencoba keluar dari kamar. Tentunya merasa tidak enak hati jika hanya berdiam diri didalam kamar.
Sedangkan kedua orang tua Elang tengah bersiap-siap untuk berangkat ke kantor polisi menjemput Anin, perempuan yang selama ini disukai oleh putranya.
"Ma, apa kamu beneran yakin kalau yang namanya Anin itu mau dibebaskan dengan cara menikah dengan Elang? Papa sepertinya sependapat dengan Didit deh Ma." Tanya Tuan Awam pada istrinya untuk berpikir kembali, sebelum semuanya akan sia-sia.
"Papa tenang aja, nanti Didit yang akan membicarakan semua pada kakaknya. Kita hanya menunggu diluar saja." Jawab sang istri, Tuan Awam mengangguk pelan.
"Terus, apakah semua berkas dan bukti-buktinya sudah disiapkan?" tanya Tuan Awam mengingatkan, takutnya ada yang berkas penting yang tertinggal.
"Tidak ada, semua sudah aku beresin dan sudah aku masukkan ke dalam tas." Jawab sang istri.
"Bagus, ayo kita keluar. Didit pasti sudah menunggu. Oh ya, Elang bagaimana? tidak apa-apa kan, jika kita tinggal? takutnya emosinya tidak terkendali dan marah-marah tidak jelas." Ajak Tuan Awam dan tak lupa pada putranya.
"Mama rasa sepertinya tidak apa-apa kita tinggal, ada Bi Narsih. Bukankah semalam Bibi sudah bilang sama kita, kalau Elang ada perubahan. Papa tenang aja, Mama sudah perintahkan sama Pak Ratno untuk menjaganya." Jawab sang istri sambil meraih tasnya untuk dibawa.
"Sini, biar Papa saja yang bawa tasnya. Terus, untuk pelaku bagaimana? apakah mau ditindak lanjuti? maksud aku langsung akan ada penangkapan?" tanya Tuan Awam.
"Tentu saja akan langsung ditindak lanjuti, tapi tidak langsung ditangkap. Yang jelas, aku menunggu waktu yang tepat." Jawab sang istri, Tuan Awam hanya nurut saja dengan istrinya.
"Semoga saja perempuan yang bernama Anin tidak menolak untuk dibebaskan dengan syarat yang kita berikan." Kata Tuan Awam sambil meraih tas yang ada ditangan istrinya.
"Kita doakan saja, Pa. Semoga putra kita bahagia dan sembuh dari sakitnya." Jawab sang istri sambil keluar dari kamar.
Bukan berarti sang suami tidak bisa melakukannya seperti yang istri lakukan, tetapi Tuan Awam ada banyak pekerjaan yang harus ditangani sendiri bersama sekretarisnya, yakni sejak putranya mengalami kecelakaan.
Sudah tidak ada lagi yang tertinggal, Tuan Awam menutup pintu kamarnya dan menemui putranya terlebih dahulu sebelum berangkat.
"Selamat pagi, Pak, Bu." Sapa Didit saat melihat pemilik rumah sudah keluar dari kamarnya.
"Pagi juga, Dit." Jawab kedua orang tua Elang bersamaan.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya, Dit. Kita berdua mau menemui Elang sebentar, kamu boleh duduk dulu. Setelah ini, kita sarapan pagi, dan baru berangkat." Ucap Tuan Awam.
"Ya, Pak." Jawab Didit masih canggung.
Tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Tuan Awam dan sang istri segera menemui putranya.
Saat pintu dibuka, rupanya Elang sudah mandi. Tentu saja, bau wangi sudah memenuhi isi kamarnya.
Tuan Awam dan sang istri tersenyum bahagia, meski putranya terkadang terlihat aneh dengan sikapnya. Setidaknya, emosi tidak melulu menyiksa diri Elang sendiri.
"Elang sayang, kamu sudah mandi, Nak?" sapa sang ibu yang sudah berada di dekat putranya dan ditemani sang suami disebelahnya.
"Sudah, Ma. Kalian berdua mau kemana? tumben rapi semua." Tanya Elang saat memperhatikan penampilan putranya.
Meski Elang sudah tahu tujuan kedua orang tua mau pergi ke mananya, dirinya mencoba untuk memastikannya.
Kedua orang tua Elang tersenyum, dan ibunya duduk disebelahnya.
"Mama mau menjemput Anin, perempuan yang ada di foto kamu itu." Jawab ibunya.
Kedua orang tuanya mengernyit tak percaya, jika putranya benar-benar membuang fotonya.
"Kamu sudah membuang foto Anin? yang bener?" tanya sang ibu.
"Gak papa jika kamu membuangnya, toh hanya foto. Soalnya yang asli kan, mau datang nanti. Ya sudah ya, Papa dan Mama mau berangkat. Kamu cukup persiapkan diri untuk bertemu dengannya, yaitu Anin." Timpal sang ayah ikut berbicara.
Elang hanya diam, dan tidak merespon ucapan dari sang ayah.
"Ya sudah ya, sayang. Mama sama Papa mau berangkat dulu, nanti Bi Narsih dan Pak Ratno yang akan menemani kamu. Tenang saja, tidak lama kok. Jangan lupa, sarapan pagi." Ucap sang ibu berpamitan, Elang mengangguk.
Setelah tidak ada lagi yang dikhawatirkan, kedua orang tuanya segera sarapan pagi dan berangkat.
__ADS_1
Sesudah keluar dari kamar putranya, Tuan Awam dan istrinya mengajak Didit untuk sarapan pagi bersama. Sebelumnya memberi perintah kepada Bi Narsih dan Pak Ratno.
"Dit, ayo kita sarapan dulu. Setelah itu, kita berangkat ke kantor polisi." Ajak Ibunya Elang.
"Ya, Dit. Ayo kita sarapan dulu, biar tidak sakit perut kita." Timpal Tuan Awam.
"Ya, Pak, Bu." Jawab Didit sedikit malu.
Didit yang tengah menikmati sarapan paginya, benar-benar tidak menyangka jika kedua orang tua Elang begitu baik dan juga sangat kaya raya.
'Andai saja orang tua kak Andika baik dan mau menerima kak Anin dengan statusnya yang bukan orang kaya, pasti tidak akan menjadi seperti ini. Tapi apalah daya, hanya bisa menerima takdir dan keadaan yang ada. Semoga saja, kak Elang segera sembuh dan memang benar jodoh untuk kak Anin.' Batin Didit sambil mengunyah makanan.
"Didit, kalau makan jangan sambil melamun. Tuh lihat, selainya mau jatuh." Kata Tuan Awam, Didit merasa malu dibuatnya.
"Oh ya, maaf." Jawab Didit dengan malu, sedangkan Tuan Awam dan istri tersenyum.
"Ya udah, kita selesaikan dulu sarapan paginya. Setelah ini, kita berangkat." Ucap ibunya Elang.
Kemudian, Tuan Awam dan istrinya, juga Didit, ketiganya segera menyelesaikan sarapan paginya.
Sedangkan di sel tahan, Anin juga tengah menikmati sarapan paginya dengan ala kadarnya bersama teman-temannya. Tiba-tiba dirinya teringat dengan keadaan adiknya yang ada di luaran sana.
'Dimana adikku? dengan siapa dan tidur dimana semalam? dan sekarang, apakah dia sudah makan?' batin Anin penuh tanya dengan keadaan adiknya yang tidak mempunyai apa-apa.
"Nin, kamu sedang memikirkan apaan sih? dari tadi kamu cuma bolak balikin makanan. Dimakan, entar kamu sakit."
"Ya nih. Kamu kenapa sih, Nin? mikirin siapa? memang sih, di sini itu tidak ada makanan yang enak." Timpal teman yang satunya.
"Mungkin aja udah terbiasa dengan makanan yang enak-enak, jadi gak doyan deh makanan di sel tahanan." Ucap yang satunya lagi.
"He! jaga bicara kau. Jangan sok tahu kau ini, kalau tidak tahu, lebih baik kau itu diam." Bentak teman Anin yang satunya.
__ADS_1
Diam lah orang yang baru saja mengejek Anin.
"Sudah lah Anin, ayo kita sarapan. Nanti perut kamu sakit, adikmu semoga baik-baik saja di luaran sana. Doakan saja, semoga bertemu dengan orang baik." Kata temannya yang teringat dengan curhatan Anin yang semalam, sedangkan Anin mengangguk.