
Rupanya sudah hari senin saja, waktunya untuk kembali bekerja di kantor. Elang tengah dibantu istrinya saat bersiap-siap berangkat kerja. Dari mengenakan kemeja, dasi, dan juga jaket, serta menggunakan jam tangannya.
Kini hubungan keduanya semakin langgeng saja, dan semakin dekat, juga penuh cinta.
Selesai bersiap-siap, Elang menc_ium kening milik istrinya.
"Jangan pergi kemana-mana, mulai hari ini kamu dilarang untuk keluar. Jika kamu membutuhkan sesuatu, tanya saja sama asisten rumah, atau sama suami kamu ini." Ucap Elang sebelum keluar dari kamarnya.
"Ya, aku tidak akan pergi kemana-mana. Kamu juga, hati-hati jika dalam perjalanan. Begitu juga di kantor, jaga pandangan dan juga sikapmu sebagai seorang Bos." Jawab Anin yang juga tidak lupa berpesan kepada suaminya.
Elang tersenyum saat mendengar pesan dari istrinya yang juga ikut khawatir dengannya, apalagi seperti kelihatan cemburu.
"Ya, sayang. Kamu jangan khawatir, aku hanya mencintai kamu seorang. Aku akan menjaga sikapku, tak perlu kamu khawatirkan aku. Ya udah, ayo kita turun. Sepertinya Mama dan Papa sudah menunggu kita." Ucap Elang dan mengajaknya untuk keluar.
Anin mengiyakan, dan keduanya bergegas turun menuju ruang makan.
Saat melangkahkan kakinya, Tuan Mawan dan istrinya begitu bahagia saat melihat anak dan menantunya begitu dekat. Pernikahan yang berawal dari sebuah kesepakatan, kini menjadi hubungan yang baik.
Bahkan, sudah terlihat jelas jika Anin sudah memberikan cintanya kepada sang suami. Tentu saja, kedua orang tuanya Elang sudah tidak bingung lagi untuk menyatukan perasaan cintanya.
Awal yang penuh perjuangan, dan akhirnya kisah putranya berakhir kebahagiaan. Tapi, tiba-tiba ingatannya kembali tertuju pada Tuan Vitton.
"Pagi, Ma, Pa." Sapa Anin dan Elang bersamaan saat sudah berada di ruang makan.
"Pagi juga, Nak. Duduklah, kita akan sarapan pagi." Jawab sang ayah, sedang ibunya Elang tak merespon sama sekali.
Justru, ibunya terlihat begitu dalam saat melamun. Sampai-sampai tak mendengar sama sekali saat anak dan menantunya menyapa tak di hiraukan.
"Ma, ngelamun apaan sih?" tanya Tuan Mawan saat menepuk punggung istrinya.
__ADS_1
"Apa, apa, ada apa? oh, kalian berdua. Ayo, kita sarapan. Mama sudah dari tadi loh, menunggu kalian." Kata ibunya Elang yang begitu kaget saat suaminya membuyarkan lamunannya.
"Mama kenapa? kelihatannya sedang memikirkan sesuatu, Mama sedang tidak ada masalah, 'kan?" tanya Elang yang mencurigai ekspresi ibunya yang terlihat begitu jelas seperti tengah memikirkan sesuatu.
Sang ibu, pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Tentu saja untuk menutupi apa yang sedang dipikirkannya.
"Ya nih, sepertinya Mama sedang memikirkan sesuatu. Katakan saja, Ma." Timpal Tuan Mawan pada istrinya.
"Gak ada apa-apa dengan Mama, serius. Mama hanya sudah tidak sabar ingin cepat cepat mempertemukan Anin dengan kakeknya, itu saja." Jawab ibunya Elang yang berusaha untuk menutupi kekhawatirannya.
"Kirain Papa ada apa, rupanya memikirkan kakek Pratama. Ya udah, nanti kita pikirkan lagi untuk menentukan pertemuannya, alias waktu yang tepat. Yang pasti, sebelum acara pernikahan." Kata Tuan Mawan, yang lainnya mengangguk, tanda menyetujui.
Karena tidak ingin datang terlambat ke kantornya, segera sarapan pagi dan berangkat.
Selesai sarapan, Elang ditemani istrinya sampai depan rumah. Sedangkan Tuan Mawan dan Istrinya masih berada didalam kamarnya untuk menyiapkan berkas-berkas yang sudah disiapkan.
Lalu, Elang membalasnya menc_ium keningnya dengan lembut. Anin begitu bahagia diperlukan baik oleh suaminya, dan mendapatkan cinta yang begitu besar juga.
"Hati-hati dalam perjalanan, dan juga dalam bekerja." Jawab Anin sambil menatap suaminya dengan tatapan yang begitu teduh untuk di lihat.
Elang melihat istrinya, pun tersenyum mengembang. Perasaannya begitu terasa bahagia dengan hadirnya sang istri yang menjadi nyata telah masuk dalam kehidupannya yang nyata, bukan dalam dunia khayalannya semata.
"Aku berangkat." Kata Elang setelah berpamitan.
Anin melambaikan tangannya, juga dibalas oleh Elang dengan kecupan jarak jauh. Yakni mencium udara, bukan istrinya.
Anin tertawa kecil saat melihat tingkah aneh suaminya.
Setelah bayangan mobil yang dinaiki suaminya sudah tidak terlihat lagi, Anin kembali masuk kedalam rumah. Seperti pesan dari sang suami, Anin tidak ikut ibu mertuanya pergi ke butik. Melainkan memilih menyibukkan diri dengan layar laptopnya yang baru dibeli hari kemarin saat diajaknya dihari minggu ketika suaminya sedang libur kerja.
__ADS_1
Berbeda lagi di tempat lain, tepatnya di kantor. Kini, Ayun dan Nilam baru saja sampai di tempat kerjanya tanpa adanya Dinda.
"Nil, Kira-kira Dinda masih kerja di kantor ini gak ya. Soalnya kan, di kesal dengan kita. Tapi, ngomong-ngomong Dinda tinggal dimana dan dengan siapa. Takut nih, kalau sampai salah berteman dan diracuni dengan pikiran buruk." Kata Ayun yang juga ada rasa khawatir dengan Dinda, meski sikap dan perbuatan Dinda sering bikin kesal temannya.
"Aku gak tahu, dan juga tidak mau tahu. Terserah Dinda mau tinggal dimana, lagian juga sudah menjadi keputusannya sendiri. Soal dirinya, aku sudah tidak peduli. Semoga saja, dia tidak tersesat dalam bergaul." Jawab Nilam dan ngacir gitu aja menuju kedalam ruangan kerjanya, dari pada harus membicarakan soal Dinda, pikir Nilam yang masih kesal dengannya.
"Kok gitu sih Nil, Dinda teman kita." Kata Ayun.
"Itu dulu, sebelum dia menyatakan untuk mengakhiri pertemanan. Tapi, dia sudah memutuskan sendiri untuk tidak berteman dengan kita. Jadi, untuk apa kita memikirkan dia, membicarakan dia, sedangkan dia sudah menaruh kebencian kepada kita." Jawab Nilam masih dipenuhi dengan emosi, dan juga geram.
Ayun tak bisa menghakimi Nilam gitu saja, tentunya karena tidak ingin pertemanannya berantakan hanya karena masalah Dinda yang ingin mendapatkan cinta dari Elang, pikirnya.
Ketika semua sudah berada dalam kantor, karyawan yang lainnya tengah dihebohkan dengan penampilan baru dari seorang karyawan.
Ayun juga ikutan penasaran, tetapi tidak untuk Nilam.
"Ada apaan sih, kedengarannya sangat heboh."
"Itu loh, si siapa namanya, geng kamu itu loh, si Dinda. Kata karyawan lain, penampilannya berubah drastis, tambah se_ksi dan juga cantik." Jawabnya.
Ayun yang mendengarnya, pun tidak percaya dengan si Dinda. Saat itu juga, Dinda masuk dengan penampilan yang benar-benar berbeda. Justru, kini terlihat sangat se_ksi dalam sehari saja tidak bertemu.
Tanpa menyapa Ayun, Dinda langsung duduk di tempat kerjanya. Nilam yang sekilas melihat penampilan Dinda, juga tidak meresponnya. Rasa kaget saja, pun tidak.
"Wah, tambah cantik aja kamu Din. Resepnya apa dong, libur satu hari saja, bisa menyulap penampilan kamu jadi cantik begini."
"Kalian pingin tahu? gampang, uang nomor satunya." Kata Dinda sambil melirik kearah Nilam yang tengah sibuk dengan ponselnya.
'Lihat saja, Nil. Aku bakal rebut Elang dari Anin, dan akulah yang akan menjadi istrinya. Kamu pasti heran, kenapa penampilan aku mendadak berubah. Siapa dulu, Dinda. Segala macam cara, aku bisa dapatkan, termasuk Elang.' Batin Dinda penuh percaya diri.
__ADS_1