
Ibunya Elang mengangguk pelan.
"Ya, nanti aku akan sampaikan pesan darimu. Tapi ingat, kamu harus hati-hati jika mau datang kemari. Aku hanya tidak ingin, jika kamu mendapatkan masalah dari suami kamu." Ucapnya, istrinya Tuan Vitton mengangguk.
"Ya, aku akan berhati-hati." Jawabnya, dan segera pulang.
Setelah pergi dari kediaman keluarga Alexander, istrinya Tuan Vitton segera pulang. Berharap, suaminya tidak mengetahui jika sudah membohongi asisten rumah.
Lain lagi di kantor, Elang yang sudah menyelesaikan pekerjaannya, rupanya sudah waktunya jam pulang.
"Akhirnya, sudah waktunya untuk pulang. Sudah tidak sabar ingin bertemu dengan istriku. Ternyata begini rasanya kerja dengan meninggalkan istri di rumah? benar-benar menguras kesabaran." Gumamnya sambil membereskan meja kerjanya.
Setelah tidak ada yang tertinggal, Elang bergegas untuk pulang.
Begitu juga dengan karyawan yang lainnya, semua tengah bersiap-siap untuk pulang.
Ayun, Dinda, dan Nilam, ketiganya tidak pernah lepas dan pulang bersama. Tapi, tiba-tiba Dinda berhenti saat berjalan beriringan.
"Din, ngapain kamu berhenti?" tanya Ayun saat mendapati Dinda yang tidak berjalan beriringan.
"Gak ngapa-ngapain kok, Yun. Aku ke toilet sebentar, ya. Perutku mules, kalian berdua pulang duluan aja." Jawab Dinda beralasan.
"Terus, kamu pulangnya gimana?" tanya Nilam.
"Kalian gak usah khawatir, kebetulan aku mau ambil paketan dari kampung. Jadi, kalian berdua pulang duluan aja. Jugaan ada Burnan, nanti aku minta temani dia." Jawabnya sebaik mungkin untuk memberi alasan kepada kedua temannya.
"Kamu serius, tidak sedang bohongi kita berdua, 'kan?"
"Tidak, aku serius. Ya udah ya, aku mau pergi ke toilet, perutku mulas." Jawab Dinda yang langsung berpamitan untuk pergi dari hadapan kedua temannya.
"Ya udah deh kalau gitu, kita berdua pulang duluan. Kalau ada apa-apa, telpon aja." Ucap Nilam.
Saat itu juga, Dinda menyodorkan kunci motor miliknya kepada Nilam.
"Nih, kunci motorku. Kamu yang bawa pulang, biar aku minta bonceng sama si Burnan. Ya udah ya, aku mau menerima toilet." Kata Dinda yang segera pergi setelah menyodorkan kunci motornya.
__ADS_1
Nilam dan Ayun hanya geleng-geleng kepalanya saat merasa aneh dengan Dinda.
"Kamu merasa aneh gak sih, tuh sama si Dinda. Perasaan dia gak minta kirimin paket dari kampung deh." Ucap Ayun yang merasa mencurigai Dinda.
"Ya juga sih, Yun. Aku juga merasa aneh sams tuh anak, keknya juga gak ada kirimin barang dari kampung. Ah! ya, aku tau. Jangan-jangan si Dinda mau bermain drama dengan Elang, gawat." Jawab Nilam yang sadar akan tujuan Dinda untuk mendapatkan Elang dengan berbagai cara untuk dihalalkan.
"Wah, benar juga kata kamu. Bagaimana ini, Nil. Kasihan Anin kalau mendapat kabar miring atau fitnah. Kamu punya nomornya Elang, 'kan? cepat kamu hubungi dia, atau gak kirim pesan sama Elang." Kata Ayun.
"Bentar, aku telpon si Burnan, dia pasti punya nomornya Elang." Jawabnya dan segera merogoh tas kecilnya.
"Cepetan, kasihan Elang jika mendapat jebakan dari Dinda."
"Ya, sabar. Ini, baru aja aku menghubungi Burnan. Semoga aja, Burnan tanggap dan secepatnya menerima panggilan telpon dariku." Kata Nilam dengan gelisah.
Setelah panggilan telpon diterima oleh Burnan, segera bicara pada pokok intinya. Setelah mendapatkan nomor ponsel milik Elang, Nilam segera menghubunginya.
Sedangkan Dinda yang sudah mempunyai tujuan, tengah berjalan santai seperti menunggu seseorang.
"Dinda, kamu belum pulang?" tanya Elang saat mendapati Dinda yang sendirian tanpa kedua temannya, yakni Ayun dan Nilam.
"Oh, kok bisa gitu. Apa mungkin kamu sedang dikerjain mereka? siapa tahu aja mereka sedang bersembunyi ditempat yang tidak kamu ketahui." Ucap Elang sambil berjalan, sedangkan Dinda berusaha untuk mengimbangi langkah kakinya Elang yang cukup gesit.
"Gak mungkin itu, aku paham dengan mereka berdua. Aku yakin, jika Ayun dan Nilam pasti sudah pulang duluan. Biasa mereka itu, dulu juga gitu, saat jadi karyawan baru, suka ngerjain aku." Jawab Dinda berusaha untuk mendapatkan perhatikan dari Elang.
Elang tertawa kecil mendengar pengakuan dari Dinda.
"Ah ya, kan ada Burnan. Sepertinya dia belum pulang deh, kita tunggu aja sebentar."
"Burnan sudah pulang tadi aku melihatnya, waktu aku mau ke toilet. Karena tidak mungkin juga jika aku meminta Burnan menungguku lama."
Elang yang kehabisan kata-kata, akhirnya mengajak Dinda untuk pulang bersama.
"Ya udah, kamu bisa pulang bareng aku. Kebetulan, kita searah." Ucap Elang yang akhirnya menawarkan tumpangan kepada Dinda.
Dengan penuh percaya diri, Dinda tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
'Yes! akhirnya aku bisa melakukan rencana sesuai yang sudah aku tata dengan rapi. Sekali dayung, dua pulau bisa aku lewati.' Batin Dinda penuh percaya diri.
"Kok masih diam, mau ikut pulang denganku atau tidak?"
"Em ... kamu serius, mengajak aku pulang bareng?"
"Ya lah, memangnya aku bohong?"
"Makasih ya, Lang. Kamu tidak pernah berubah dari dulu, baik banget." Jawab Dinda dengan percaya diri.
"Jangan bilang berterima kasih, soalnya aku belum mengantarkan kamu sampai di depan rumah kos-kosan kamu." Kata Elang sambil berjalan.
"Gak apa-apa, takutnya nanti aku lupa mau mengucapkan terimakasih sama kamu." Jawab Dinda, dan tidak terasa sudah keluar dari kantor.
Dinda benar-benar takjub saat mendapati mobil yang begitu mewah di hadapannya.
'Setelah ini, Anin akan menangis ketika aku menjadi istrinya Elang. Dinda, apa sih yang tidak bisa didapatkannya.' Batinnya penuh kemenangan.
"Ayo, kita masuk kedalam mobil." Ajak Elang sambil membukakan pintu mobilnya.
Dinda berasa bagai istri orang kaya yang dipersilahkan naik ke mobil oleh pasangannya, benar-benar seperti mimpi, meski itu hanya sebuah khayalan dan mimpinya semata.
Dengan percaya diri, Dinda duduk di depan, yakni di sebelah kemudi.
Setelah itu, Elang yang mengemudikan mobilnya. Lagi-lagi Dinda kegirangan saat mimpinya seperti nyata.
'Sebentar lagi mimpiku akan berubah menjadi nyata, Nyonya Elang. Dan aku pastikan, bahwa Anin yang akan menangisi nasib buruknya.' Batin Dinda saat dirinya tengah duduk di depan bersama lelaki yang disukainya.
Sayangnya, Elang tidak pernah jatuh cinta ke lain hati. Cintanya hanya untuk seorang Anin semata, meski harus menunggu dengan penuh ujian dan kesabaran.
"Sudah siap untuk pulang, 'kan? maksud aku, tidak ada yang tertinggal di kantor."
"Tidak ada." Jawab Dinda.
Kemudian, Elang melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dinda sendiri terus menghayal dengan segala apa yang ada didalam benak pikirannya.
__ADS_1
"Stop!" teriak seseorang sambil menghadang.