
Jarum jam dinding telah mengarahkan angka yang menandakan waktunya untuk bangun pagi. Perlahan, Anin menggerakkan jari-jemarinya saat kesadarannya mulai terkumpul dengan sempurna.
Dirasakannya masih dalam dekapan suaminya, Anin menoleh dan dilihatnya sang suami tengah memeluk dirinya.
"Nanti dulu bangunnya, masih dingin." Kata Elang sambil mengeratkan pelukannya, Anin dibuatnya sulit untuk bernapas karena ulah suaminya.
Elang yang menyadarinya, segera merenggangkan pelukannya.
"Bagaimana dengan tidurmu? nyenyak kah? atau justru kamu tidak bisa tidur karenaku."
Anin memilih membelakangi suaminya, dan tersenyum tanpa sepengetahuannya.
"Aku tidak tahu, apakah tidurku nyenyak atau tidak. Soalnya, aku sama sekali tidak terbangun dari tidurku." Jawab Anin tanpa menoleh.
Lagi-lagi Elang mulai bertingkah, menyusuri leher jen_jang milik istrinya.
Anin yang merasa risih karena ulah dari suaminya, berusaha untuk melepaskan. Bukan tak mau, tapi merasa risih karena belum cuci muka dan juga menggosok gigi.
"Aku mau bangun, badanku terasa risih dan gerah." Ucap Anin beralasan.
Elang yang mengetahui istrinya beralasan, tidak merasa keberatan saat harus melepaskan pelukannya.
Elang membenarkan posisinya dengan duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Sedangkan sang istri sendiri, sudah berada di dalam kamar mandi untuk mencuci muka dan sekaligus untuk mandi.
Sambil menunggu istrinya keluar, Elang menyibukkan diri dengan ponselnya. Tentunya, mencari alat bantu untuk dirinya sendiri agar tidak ketergantungan dengan kursi roda.
Ketukan pintu tengah membuyarkan lamunan Elang yang begitu fokus dengan benda pipih miliknya.
Kemudian, Elang menekan tombol untuk membuka pintu kamarnya.
"Permisi, Den. Bibi mau antar kopi panas untuk Den Elang, dan juga minuman jahe untuk Nona Anin." Ucap Bi Narsih sambil membawakan minuman panas untuk temani pagi hari majikannya.
"Taro di balkon saja ya, Bi. Nanti aku dan Anin mau duduk santai di balkon, sambil menikmati udara pagi." Jawab Elang, sekaligus menyuruhnya untuk meletakkan minumannya ke tempat yang diminta.
"Baik, Den."
__ADS_1
Setelah itu, Bi Narsih kembali melanjutkan pekerjaannya.
Anin yang sudah beres membersihkan diri, segera keluar dari kamar mandi.
"Bi Narsih tadi membuatkan minuman jahe untuk kamu, aku menyuruhnya untuk meletakkannya di balkon. Aku rasa udara pagi hari ini sangat cocok untuk menikmati kopi panas maupun minuman jahe, nanti aku akan menyusul setelah aku selesai mandi." Ucap Elang pada istrinya, Anin mengangguk dan mengiyakan.
"Terus, kamu mandinya bagaimana?" tanya Anin tanpa ada rasa canggung.
"Sudah ada pak Ratno yang akan membantuku mandi. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Tenang aja, aku tidak akan memaksamu jika kamu belum siap." Jawab Elang.
Antara ingin dan malu, Anin menggigit bibir bawahnya karena gugup.
"Sudahlah, lain waktu aja kalau kamu benar-benar sudah siap. Lebih baik sekarang kamu keringkan dulu rambut kamu itu, biar tidak basah."
"Gak papa kok, aku siap membantu kamu mandi. Aku kan, istri kamu. Masa ya, harus minta tolong pak Ratno terus. Terus, apa gunanya aku menjadi istri kamu." Ucapnya sedikit ngilu jika otaknya harus travelling.
Elang tersenyum lebar mendengarnya.
"Kamu serius? ntar kamu ketakutan, gak usah memaksa diri jika belum siap. Aku nakal loh, ntar kamu kaget, lagi." Kata Elang dengan sengaja berterus terang, karena dirinya sadar, bahwa dirinya itu lelaki normal.
"Sudahlah, kamu tidak perlu membantuku. Lebih baik kamu keringkan aja rambutmu yang basah. Biar pak Ratno yang akan membantuku mandi. Kalau kamu sudah siap, jatah kamu nanti sore mandiin aku." Ucap Elang, Anin membulatkan kedua bola matanya dengan sempurna, saat mendengarnya.
"Sudah sana, keringkan dulu rambutmu itu." Perintah Elang, dan segera menghubungi pak Ratno untuk membantunya mandi.
Anin yang masih ada keraguan dan juga gugup, akhirnya memilih untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Selesai mengeringkan rambutnya, Anin menuju balkon. Dan benar saja, sudah ada dua cangkir minuman panas di atas meja bundar yang berukuran cukup besar.
Arah pandangannya tertuju pada jalanan yang begitu panjang, dan juga sudah di padati banyaknya kendaraan yang lalu lalang untuk memulai aktivitas kerjanya.
Sesekali, Anin menyeruput minuman jahe yang masih panas.
Kemudian, giliran Elang yang tengah membersihkan diri dengan bantuan pak Ratno.
Sesudah itu, Elang menyusul istrinya yang tengah duduk santai ditemani minuman jahe.
__ADS_1
Bau aroma yang dihirup lewat indra penciuman, Anin segera menoleh ke belakang. Dilihatnya sosok Elang yang kini sudah menjadi suami sahnya, ternyata telah mencuri perhatian.
Tidak cuman baik dalam bersikap, maupun dengan sebuah perhatian, rupanya Elang terlihat begitu tampan. Anin dibuatnya terpesona dengan sosok suaminya dipagi hari.
"Bagaimana dengan pagimu, sayang?" sapa Elang dengan panggilan yang berbeda. Tentunya, membuat detak jantung Anin berdegup tidak beraturan saat suaminya memanggilnya dengan sebutan sayang.
Tentu saja, Anin merasa gugup. Lebih lagi, Elang tak mempunyai rasa canggung ataupun malu, sikapnya yang dulu masih saja tidak berubah. Hanya saja, jika sesuatunya tidak sesuai apa yang diharapkan, emosinya akan meluap.
Elang segera mendekati istrinya, sedangkan posisi Anin sudah benar. Yakni, menghadap suaminya yang tengah mendekati dirinya sambil menjalankan kursi rodanya sendiri.
"Tidak apa-apa kan, jika aku panggil kamu dengan sebutan sayang?" tanya Elang sambil menatap wajah istrinya.
"I-ya, boleh."
"Serius? kalau tidak boleh juga tidak apa-apa, aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Aku tidak melarang kamu untuk memanggilku dengan sebutan apa saja, asalkan kamu sendiri nyaman." Jawab Anin sedikit gugup, justru Elang tersenyum lebar mendengarnya.
"Tapi tidak impas, jika hanya aku saja yang memanggil dengan sebutan sayang."
"Maksudnya?"
"Kamu juga, memanggilku dengan sebutan yang sama."
"Sebutan yang sama?" tanya Anin sedikit merasa canggung dengan sebutan yang diucapkan oleh suaminya.
'Menolak, salah. Menurutinya, apa tidak terlalu cepat? dia sedang tidak menguji kesabaran aku, 'kan? bukannya aku tidak mau, tapi akunya yang belum siap dengan panggilan yang seperti itu.' Batin Anin sambil berpikir.
"Sudahlah, aku cuma bercanda saja tadi. Habiskan dulu minumannya, setelah ini kita akan turun. Sepertinya sambil mengitari taman belakang akan lebih asik, udara yang segar dan dapat melihat tanaman bunga serta tanaman yang lainnya." Kata Elang yang tidak ingin memaksa istrinya atas sesuatu yang diinginkannya.
"Tidak baik segala sesuatunya itu dijadikan bahan senda gurauan, tidak apa-apa jika memang itu panggilan yang baik untuk hubungan rumah tangga. Tapi, aku butuh waktu untuk menyesuaikannya." Jawab Anin sambil mendorong kursi roda.
"Lagi pula, aku tidak akan memaksa kamu. Aku tahu, kamu masih berat untuk menjalani hubungan pernikahan kita ini." Ucap Elang berbicara apa adanya.
Karena dirinya sadar, hanya sebatas pernikahan dadakan tanpa adanya rasa cinta diantara keduanya.
__ADS_1
Saat itu juga, Anin langsung berdiri dihadapan suaminya.