
Sebuah keputusan yang sudah dinyatakan dil oleh Anin dan Andika, sang adik hanya bisa mendoakannya. Berharap, hubungan yang akan disatukan dengan pernikahan, semua akan baik-baik saja, dan menjadi ladang kebahagiaan untuk kakaknya.
Karena tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Andika langsung mengajak Anin dan Didit untuk kembali pulang ke kampung halamannya.
Sebelumnya, Andika menghubungi teman baiknya untuk diminta bantuannya, yakni menjemput dan mengantarkannya sampai di pelabuhan.
Didit yang sangat berterimakasih atas pertolongan dari Pak Tejo, tak lupa ucapkan terimakasihnya pada Beliau.
"Pak, terimakasih banyak karena sudah menolong kami. Maaf juga, jika saya dan Kak Anin sudah banyak merepotkan Bapak dan juga Bi Asih yang begitu baik kepada kamu." Ucap Didit sebelum berpamitan.
"Sudah menjadi kewajiban kami untuk saling tolong menolong, yang terpenting kalian berdua baik-baik saja. Bapak Doakan, semoga kalian selamat sampai rumah." Jawab Pak Tejo, Didit mengangguk.
"Sekali lagi, terima kasih banyak ya, Pak. Semoga Bapak selalu diberi kesehatan, dan kita bisa bertemu lagi." Ucap Didit yang benar-benar merasa beruntung, telah dipertemukan dengan orang-orang baik seperti Pak Tejo dan Bi Asih, dan juga asisten yang lainnya.
Anin yang juga sangat berterimakasih atas kebaikan dari Pak Tejo dan Bi Asih, tak lupa memberi ucapan selamat, sekaligus berpamitan.
Setelah berpamitan satu persatu diantara ketiganya, keluar dari rumah Pak Tejo dan segera masuk kedalam mobil.
Didalam perjalanan, Anin dan Andika duduk bersebelahan. Sedangkan Didit, duduk di sebelah pengemudi.
"Dik, kau serius kah, mau pulang kampung. Kalau orang tua Lu nyariin, bagaimana? Lu nggak takut?" tanya Revan sebagai teman dekatnya.
Anin yang mendengar pertanyaan dari teman kekasihnya itu, pikirannya mulai tidak tenang dan juga cemas.
"Aku nekad, Van. Mau bagaimana lagi, ayahku sangat egois. Hidupnya hanya dipenuhi harta, sampai lupa dengan kebahagiaan anaknya." Jawab Andika sambil menatap lurus ke depan.
Anin yang merasa bersalah karena menuruti egonya, perasaannya mulai tidak tenang.
"Aku tidak bisa memberimu solusi, Dik. Dan aku hanya bisa memberimu doa, semoga kamu berbahagia bersama perempuan pilihanmu." Ucap Revan sambil menyetir mobilnya.
"Makasih, Van. Thanks ya, udah mau tolong aku antar ke pelabuhan." Kata Andika.
"Sama-sama, jangan lupa kabari kalau udah nikah. Sapa tahu aja, aku ada niat untuk main ke kampung kamu." Ucap Revan.
"Tenang aja, nanti aku bakal kabari kamu kok." Jawab Andika dengan senyumnya yang tipis.
__ADS_1
Cukup lama dalam perjalanan menuju pelabuhan, akhirnya telah sampai juga ditempat yang dituju.
"Aaaaa!" teriak semua yang ada didalam mobil, terpaksa Revan langsung membanting setirnya.
Naas, mobil besar dari belakang ikut menerjang karena laju kecepatannya yang tidak bisa dikendalikan begitu saja. Andika, dan ketiga lainnya tidak sadarkan diri.
Saat itu juga, semua korban segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Semua dibuatnya heboh, bahkan langsung masuk berita televisi.
Anin yang mendapatkan luka cukup serius pada lengannya sebelah kiri, akhirnya sadarkan diri setelah kecelakaan yang begitu hebat menimpa dirinya bersama orang yang dicintainya dan adik laki-lakinya, serta supir yang tidak lain teman baik Andika.
"Aku dimana? dimana aku?" tanya Anin yang sudah tersadar dari pingsannya.
"Mbak ada di rumah sakit, karena mengalami kecelakaan." Jawab seorang perawat yang kebetulan masih berada di ruang rawat tersebut.
Anin yang merasakan anggota badannya yang terasa sakit, dirinya teringat pada adik laki-lakinya dan pacarnya.
"Keadaan adik saya bagaimana ya, Sus?" tanya Anin yang terus kepikiran dengan keadaan adik laki-lakinya.
"Namanya siapa?" tanyanya.
"Aditya, Sus." Jawab Anin menyebutkan nama asli adiknya.
Saat itu juga, Anin teringat dengan kekasihnya. Terakhir dirinya ingat, yakni sang pacar telah melindunginya dengan cara mendekap tubuhnya agar tidak terluka.
"Sus! Suster!" teriak Anin cukup keras saat melihat langkah kakinya yang sudah mendekati pintu.
"Ya, Mbak, ada apa?" tanyanya yang sudah menoleh.
"Kalau boleh tahu, keadaan pacar saya, bagaimana ya Sus?" tanya Anin yang khawatir dengan keadaan pacarnya.
"Permisi," ucapnya dari luar pintu.
Kemudian, pintu dibukanya.
"Bagaimana keadaan kakak saya, Sus?" tanya Didit yang hendak masuk kedalam ruang rawat kakaknya untuk melihat kondisinya.
__ADS_1
"Keadaannya baik-baik saja, hanya ada luka yang cukup serius pada bagian tangannya. Jadi, jangan dibiarkan untuk melakukan gerakan yang keseringan. Kalau begitu, saya permisi, masih ada pasien yang harus saya tangani." Jawabnya, Didit mengangguk dan mengiyakan.
Sudah tidak sabar karena ingin melihat kondisi sang kakak, Didit segera menemuinya.
"Kak Anin, bagaimana keadaan Kakak?" tanya Didit sambil memperhatikan kakaknya.
"Tidak ada, hanya tangan Kakak yang sebelah kiri yang terasa sangat sakit." Jawabnya.
"Syukurlah, kalau Kakak baik-baik saja." Kata Didit.
"Andika bagaimana keadaannya? Kakak sudah bertanya pada suster tadi, tapi kamu keburu masuk, gagal mendapatkan jawabannya."
"Ah ya, aku juga lupa untuk bertanya. Ya sudah, Kakak istirahat aja dulu. Aku akan keluar sebentar, untuk menanyakan keadaan Kak Andika. Semoga saja, Kak Andika baik-baik saja." Jawab Didit mencoba untuk memenangkan kakaknya.
"Cepetan, Kakak sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaannya." Perintah Anin yang sudah tidak sabar ingin mengetahui keadaan kekasihnya.
"Ya Kak, ya." Jawab Didit, dan segera keluar untuk mencari tahu keadaan pacar kakaknya, yang sebentar lagi akan menjadi kakak iparnya.
Sambil berjalan, Didit mulai cemas. Pasalnya, Didit melihatnya begitu jelas dengan apa yang terjadi didalam mobil. Tentu saja, kecemasan mulai menghantui pikirannya.
"Heh! kamu!"
Terdengar keras suara yang seperti memanggilnya, Didit mencari sumber suara tersebut.
Dan benar saja, suara itu keluar dari mulut seseorang yang tengah berjalan mendekatinya.
"Puas! kamu, setelah membuat putraku kritis di rumah sakit ini." Bentak dari ayah Andika dengan tatapan penuh kebencian.
"Kamu dan Kakak kamu harus bertanggung jawab, kalau sampai terjadi sesuatu pada putraku." Dengan lantang, ayah Andika mengancamnya.
"Bolehkah saya melihat keadaan Kak Andika?" tanya Didit tanpa menjawab pertanyaan dari ayahnya Andika.
"Tidak aku izinkan kamu untuk melihat keadaan putraku, yang ada akan semakin parah kondisinya." Jawab ayahnya Andika yang menolak keras untuk mengizinkan Didit melihat kondisi putranya.
"Ini semua gara-gara Kakak kamu, yang sudah membutakan hatinya karena cinta miskinnya itu." Ucap Ibu tirinya Andika ikut menimpali.
__ADS_1
Didit yang mendengar kata penghinaan, otaknya terasa mendidih dan ingin rasanya menampar keras dengan telapak tangannya hingga merah kebiruan.
Kedua tangannya mengepal kuat, lantaran emosi yang ia tahan cukup membuat napasnya terasa sesak.